Oleh : Armin Mustamin Toputiri
Sebulan terakhir, ada dua peristiwa lagi menghangat. Sàtunya, riuhnya seluruh parpol menjaring para bakal caleg, menyebabkan banyak orang kasak kusuk mengurus berkas pencalonan diri sebàgai bakal caleg. Kedua, riuhnya para pecinta bola membincangkan kesebelasàn unggulan mereka yàng tengah berlaga ďi ajang piala dunia FIFA di Rusia.
Hingga detik-detik akhir piala dunia, sekian pecinta bola ikut kecewa ketika kesebelasan yang diunggulkan akhirnya tumbang. Ya, kesebelasan yang selalu diunggulkan tiap kali ajang piala dunia semisal Brasil, Argentina, Jerman, pada akhirnya berguguran di babak penyisihan. Itulah diantara kesebelasan tangguh yang selalu memuaskan penonton dengan pola permainan ditampilkan selalu saja memukau, terlebih karena memiliki para pemain bintang yang mempertontonkan skill individu yang mengasyikkan.
Tapi itulah sepakbola, bolanya tetap saja bundar, belum pernah segi empat sisi yang memungkinkan untuk mudah di tebak gelindingannya, tapi bola masih tetap bundar, gelindingannya tak mudah ditebak dan diukur dalam hitungan ilmu statistik. Meski ditaburi skill individu pemain tangguh, tapi permainan bola tetaplah permainan tim. Mengedepankan strategi bersama. Strategi itulah yang beradu di lapangan. Maka tak ayal andai kesebelasan tak diunggulkan, pun mampu melaju ke puncak
Pada sisi itulah muncul dua sisi kepentingan yang berbeda. Bahwa tiap penonton memilih duduk manis menonton bola untuk maksud menikmati tontonan cantik diperagakan para pemain di tiap kesebelasan. Pola masing-masing tim mengatur serangan, pola bertahan, bahkan pola gerak tipu dan kelihaian individual. Itulah pilihan dan harapan tiap penonton bola. Jika ada yang lain, tentusemata karena untuk gagah-gagahan saja.
Itu sudut pandang penonton, jauh berbeda sudut pandang pelatih dan pemain bola. Bedanya karena penonton duduk manis untuk berharap menyaksikan tontonan yang cantik, tapi para pelatih dan pemain, juga yang mau gagah-gagahan, justru bejibaku di lapangan, tiada lelah untuk terus berharap kiranya di fluit akhir kesebelasan merekalah yang memenangi lawan dihadapinya.
Namanya saja penonton, berpijak pada dalih buat apa menyaksikan suatu tontonan jelek. Semua penonton berhasrat menyaksikan tontonan yang memukau dan bermutu tinggi. Dan Itu normal serta manusiawi. Tapi sisi lain yang tak kalah normalnya, bahwa tiap kesebelasan, pelatih, pemain dan pendukung, selalu saja berhasrat untuk menjadi pemenang. Membawa pulang piala yang harganya bisa saja dibeli, tapi sisi nilai dan prestasinya tak mungkin bisa terbeli.
Itulah sisi paradoksnya. Penonton berkepentingan menikmati tontonan cantik yang memukau, sementara pemain memiliki kepentingan bejibaku untuk memenangi tiap kali pertandingan. Penonton boleh saja tak mengunggulkan kesebelasan Francis dan Kroasia karena dinilai kedua kesebelasan itu tak mampu mempertontonkan permainan yang memukau, tapi faktanya keduanya melaju ke final karena memenangi pertandingan demi pertandingan.
Sisi paradoks yang sama, juga tengah bergolak di sekian parpol, terutama parpol yang mendasari keberlanjutan partainya dari bangunan kekaderan. Satu sisi, apakah parpol bersangkutan lebih mengedepankan rekruitmen para kader-kadernya yang tangguh dalam skill untuk diajukan jadi caleg, meskipun disadari tingkat popularitas dan elektabilitasnya rendah.
Ataukah di sisi lain, mengabaikan para kadernya yang tangguh lalu berpaling untuk merekrut figur baru, meski non kader tapi takaran popularitasnya dan elektabilitasnya di rengah masyarakat dianggap laris. Merekrut para artis populer misalnya. Tak lain maksudnya karena berhasrat memenangi raihan suara pileg untuk menduduki kursi di lembaga legislatif.
Ujung akhirnya, telah terjadi pertarungan dialektika, antara untuk apa mengedepankan kader sendiri jika tak laris dipilih oleh konstituen. Sebaliknya untuk apa artis yang laris dipilih jika kelak tak mampu maksimal mengemban tugas sebagai wakil rakyat. Sama halnya di sepakbola, buat apa memuaskan penonton dengan permainan cantik, jika kelak kesebelasan kalah dalam pertandingan. Nah, loh !(**)
SELAYAR, Trotoar.id — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Kepulauan Selayar,…
MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak PKK Kota Makassar terus memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui kegiatan…
SIDRAP, Trotoar.id — Pembukaan Turnamen Bola Voli Karang Taruna Cup II di Kelurahan Bangkai, Kecamatan…
JAKARTA, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan lawatan kerja ke Jakarta untuk memperkuat…
SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus menggencarkan upaya penanganan stunting melalui kampanye…
SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, menyampaikan pesan tegas terkait pentingnya penanaman…
This website uses cookies.