Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam bukunya Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty menerangkan bahwa kita bisa lihat apakah negara gagal atau tidak diusia dekade 90-100 tahun.
Usia yang menerangkan masa kedigdayaan sesungguhnya, namun butuh orang-orang yang optimis tapi tak egois. Tuhan menempatkan jalan baginya yang ingin menempuh kerja keras dan proses terbentuk yang begitu panjang.
Anis Matta katakan bahwa menjadi indonesia adalah nasib, sesuatu yang sudah ada yang diperjuangkan oleh para nenek moyang kita, bukan main, tapi butuh air mata dan nadi perjuangn tanpa lelah.
Indra Safri tak kecewa amat. Dirinya berulang kali gagal membawa anak asunya menjemput juara di kelas usia 19 tahun, ia paham bahwa anak muda punya jatah gagal untuk menerawang keberhasilan di hari berikut nya.
Sadil dan punggawa lainnya masih punya ruang-ruang meremput untuk mengindonesia dan membawa garuda jauh lebih baik.
Menjadi Indonesia hanya menyalakan lilin, tanpa mencegah kegelapan. Kita butuh lompatan besar untuk melakukan kerja-kerja yang besar.
Zohri telah membuktikannya. Ribuan pasang mata di Filandia turut hadir jadi saksi bisu sejarah itu. Ia hanya berlari dan jadi juara. Setelah itu ia mengambil bendera dan kembali berlari dan hampir semua yang duduk di tribun tercengan dan memberikan tepuk tangan dengan penuh kebanggaan.
Lewat dua kaki dan tekad bulatnya Zohri telah membawa Indonesia meraih emas di kejuaraan lari usia 20 tahun. Bahkan Schwartz dan Eric Harrison harus mengaku kalah darinya.
Pulang dari tanah air Zohri tak boleh berbangga diri, Mendapat Umrah gratis, undangan tanpa tas masuk TNI, dan di undang ke Istana hanyalah motivasi diri untuk membangkitkan kemauan. Agar lahir tenaga jiwa yang mampu melahirkan kerja-kerja yang lebih besar lagi.
Menjadi Indonesia adalah bermimpi dan berbuat, Mecatat dan bergerak, menimbah dan memberi, maju tanpa mencederai, beridiri tanpa melakui.
Terakhir saya mengutip penulis buku serial cinta, ia mengungkapkan bahwa rumah tangga para pahlawan selalu menampilkan, atau bahkan menjelaskan, banyak sisi dari kepribadian para pahlawan. Dari sanalah mereka memperoleh energi untuk bekerja dan berkarya. Tapi jika mereka tidak mendapatkan sumber energi itu, maka kepahlawanan mereka adalah keajaiban di atas keajaiban
Penulis: Ahmad Takbir Abadi
SELAYAR, Trotoar.id — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Kepulauan Selayar,…
MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak PKK Kota Makassar terus memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui kegiatan…
SIDRAP, Trotoar.id — Pembukaan Turnamen Bola Voli Karang Taruna Cup II di Kelurahan Bangkai, Kecamatan…
JAKARTA, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan lawatan kerja ke Jakarta untuk memperkuat…
SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus menggencarkan upaya penanganan stunting melalui kampanye…
SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, menyampaikan pesan tegas terkait pentingnya penanaman…
This website uses cookies.