Catatan untukmu anakmuda!
1.Namanya Thibaut courtois. Orang yang menghentikan laju mimpi saya untuk menyaksikan Brazil sampai di final. Tepisan tangan kirinya mementahkan bola lengkung Neymar di menit 90+.
2-1. Belgia melaju dan Thiago Silva memegang tiang bench dengan mata memerah.
Tentu saja saya kecewa. Tapi tak begitu larut. Jerman, Argentina dan beberapa nama negara besar turut pulang.
Bahkan yang tragis, Italy dan Belanda tak turut di Rusia.
Yang baik bahwa kita punya referensi baru yang bernama Mbappe. Seorang anakmuda turunan imigran yang menjadi sihir baru sepakbola.
Dan di luar konteks itu, kita semua menerima pesan bahwa nama-nama besar tak menggaransi apa-apa. Kroasia sampai di final karena soliditas dan semangat yang tak paham menyerah.
2. Di penghujung 2008, di tengah temaram lods-lods pasar. Saya dan beberapa kawan meriung bersama Haji Syukur. Dia bagi banyak sepantaran saya adalah kakak dan juga orang tua. Mulutnya kadang menohok dengan tepat.
Diskusi kami tentang 2009. Beberapa kawan sibuk mensupport saya untuk ambil bahagian. Haji Syukur pun begitu.
Jujur saja, saya setengah hati. Politik itu rimba belantara yang kurang saya pahami.
“saya masih sangat muda, babba,” ujar saya pelan untuk menahan semangatnya mensupport.
“wawang e, adaka garansi bilang panjang umurnu?” jawabnya dilengkapi tawa.
“nda ada juga modal babba,” tambah saya.
“adakah jaminan bisa ko kaya nanti wawang? Itu anu bae ka, tidak di pikirkang, dilakukangi baco.”
Plak! Saya seperti di tampar. Tapi itu juga yang melecut saya untuk ambil bahagian di 2009.
Dan apa yang saya curigai keliru adanya. Tak semua orang bisa di beli dengan sarung, ikan bolu atau selembar amplop!!!
Maka kepadamu anakmuda, saya ingin berkata, selamat datang di ruang revolusi formal. Ruang revolusi yang absah untuk mengantar negeri ini ke arah yang lebih baik.
Piala dunia telah mengajar kita bahwa nama besar tak menggaransi apa-apa. Kerja cerdas dan keuletan yang akan menunjukkan hasilnya nanti. Singsingkan lengan bajumu anakmuda!
usia serta isi rekening tak boleh menjadi halangan! Ini negeri kita. Negeri yang mengarak dirinya ke arah yang lebih bermartabat.
Orang-orang akan memilih dengan nuraninya! Yakinlah, Tuhan tak pernah meninggalkan orang-orang baik.
Yakinlah! Karena keyakinan adalah seperdua dari kemenangan!
Penulis : Wawan Mattaliu, Seorang anggota yang berkantor di Urip. (abadi)
Empat Kader Demokrat Di usulkan Bersaing di Musda
MAKASSAR, Trotoar.id — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan (DPRD Sulsel) resmi menutup Masa Sidang…
MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi…
MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia…
MAKASSAR, Trotoar.id — Kinerja sektor pajak hiburan di Kota Makassar menunjukkan tren yang semakin menggembirakan.…
LUWU, Trotoar.id — Peringatan Hari Posyandu Nasional tingkat Kabupaten Luwu digelar di Posyandu Sartika, Desa…
This website uses cookies.