Armin Mustamin Toputiri
Sepekan terakhir – hakikatnya berlangsung terbuka – mestinya disadari, bahwa kita sebenarnya sedang berada di arena tebak-tebakan. Sedang bermain game ramal-ramalan. Benar, boleh jadi karena kebetulan. Tak benar, pun bukan hal yang patut dipersoalkan. Jika menyebut Krisdayanti mundur dari keanggotaan DPR-RI karena diajak masuk Kabinet Kerja II, tak soal. Ataukah, Mulan Jamila juga mengikuti hal sama, pun juga tak soal. Namanya saja tebak-tebakan, alias ramalan.
Tebak-tebakan siapa figur diajak Jokowi masuk kabinetnya, hanya Jokowi dan Tuhan yang tahu. Tak lebih kurang sama saja sopir angkot, mampir ataukah lanjut, tak seorang penumpang yang tahu, kecuali dirinya dan Tuhan. Tapi jika sepekan terakhir, kita merasa lebih tahu, mendahului sopir, atau Jokowi, bahkan Tuhan, pun tak soal. Ya, namanya tebak-tebakan dan ramal-ramalan. Andai kelak Krisdayanti atau Mulan Jamila benar masuk kabinet, kebetulan benar. Jika salah, ya!
Lalu di dua hari terakhir, saat Jokowi mulai mengundang sekian figur ke Istana negara, tebakan dan ramalan mulai mengkristal. Sekaligus banyak tebakan dan ramalan berguguran. Meski kita bisa menebak mereka yang berkemeja putih mendatangi istana, tetap saja hanya Jokowi serta Tuhan yang tahu. Buktinya – kita seolah mulai melupa – sekian menit, kemeja Mahfud tiba-tiba hilang di istana, nyasar menjadi sorban Kiyai Ma’ruf pendamping Jokowi sebagai cawapres.
Jadi kenapa mesti ada tebak-tebakan dan ramal-ramalan, padahal semua kita tahu, Jokowi – kita sebagian memilihnya – tak lari ke mana. Pemegang hak prerogatif, saatnya pasti mengumumkan kabinetnya, bekerja untuk kita. Tak mungkin sanggup, bekerja sendirian. Mengurusi 270-an juta penduduk, seluruhnya butuh makan tiga kali sehari, juga tak mungkin mau telanjang. Jawabnya karena kita tak sabaran. Konon, game akan seru, jika didahuli dengan tebakan beserta ramalan.
Tebakan susunan kabinet, dasarnya subjektif, seperti meramal gol sepakbola. Lain berbeda, jika ramalan cuaca, didasari metode dan analisis ilmiah. Namun, ketika dua hari terakhir, sekonyong ramai banyak orang memamer diri berkemeja putih, malah peristiwa beginilah menarik diramal bahkan dianalisis. Gejala apa? Mengolok pasti bukan. Ikut berharap, agar juga diundang Jokowi ke Istana, siapa tak mau. Jika putri saya berkemeja putih, jangan diramal, pasti mau ke sekolah.
Sisi lain, cobalah palingkan ingatan sejenak pada warga Jokowi di Badui dan di Kajang, memaksa dalih apapun mereka agar berkemeja putih, tetap sebaliknya lebih akrab warna hitam. Kenapa? Jangan – tak perlu – menguras energi lagi untuk menebak. Diundang ke istana, belum tentu mau. Sononya, mereka memilih merawat kelestarian alam dibanding mengurusi negara. Lain, kecuali mendatangi Prabowo. “Dulu, nyuruh kami mendemo Jokowi, kok malah Bapak masuk kabinet?.
Berdalih apapun mereka tak mau bergeming. Sejak sononya memang beda simbol. Dulu tempe, kini tahu. Dulu kotak-kotak, kini putih. Mereka, sejak sononya hitam. Bukankah, Prof Carl G Jung “Man and His Symbol” (2018) berkata simbol itu bahasa alam, bukan bahasanya penguasa. Nah, kalian terlanjur sepakat “berseragam” kemeja putih, urusi negara. Jangan tak sabaran, bermain game lagi. Meramal, menebak, sebab kami twlah memilih Krisdayanti dan Mulan Jamila untuk mengawasi kalian di parlemen.(***)
SELAYAR, Trotoar.id — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Kepulauan Selayar,…
MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak PKK Kota Makassar terus memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui kegiatan…
SIDRAP, Trotoar.id — Pembukaan Turnamen Bola Voli Karang Taruna Cup II di Kelurahan Bangkai, Kecamatan…
JAKARTA, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan lawatan kerja ke Jakarta untuk memperkuat…
SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus menggencarkan upaya penanganan stunting melalui kampanye…
SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, menyampaikan pesan tegas terkait pentingnya penanaman…
This website uses cookies.