MAKASSAR, TROTOAR.ID – Puluhan mahasiswa Univeritas Islam Negeri Alaudin Makassar (UINAM) menggelar aksi demonstrasi di Jalan Sultan Alaudin Makassar, Senin, (21/9). Massa membakar ban dan menutup satu jalur jalan raya.
“Bulan September kita kenal sebagai bulan yang sangat tragedis beberapa kejadian banyak terjadi di bulan September, baik kekerasan terhadap mahasiswa maupun masyarakat sipil yang terang terangan di lakukan oleh Negara,” kata Waliyuddin, selaku Jenderal Lapangan (Jenlap).
Misal Munir yang mati tragis tepat 7 September 2004 silam, dan beberapa tragedi lainnya juga terjadi di September di antaranya tragedi Semanggi, dan Tanjung Priok.
Kemudian pada September 2019 lalu, 5 orang dinyatakan meninggal dalam aksi reformasi dikorupsi, yakni Bagus Putra Mahendra (15), Maulana Suryadi (23) Akbar Alamsyah (19), Randy (22), dan Yusuf Kardawi (19).
“Mereka korban meninggal dunia saat demonstrasi menolak revisi UU KPK dan RKUHP di depan Gedung DPR dan sejumlah daerah yang berakhir ricuh dan masih banyak Tragadi Tragedi yang lainnya belum di usut tuntas oleh Negara,” terang Udin, sapaannya.
Aksi yang mengangkat tema “September Berdarah” itu menyoroti dwi fungsi TNI-Polri tidak berjalan dengan semestinya.
“Luasnya wewenang instutisi tersebut dalam mencampuri kehidupan berwarganegara yang banyak melahirkan kriminalisasi terhadap warga negara, banyak tragedi yang sudah terjadi,” tuturnya.
Contohnya, kata Udin, sengketa tanah di Kelurahan Bara-baraya Kota Makassar yang melawan Koramil. Selain itu, kriminalisasi terhadap warga Pulau Kodingngareng menolak tambang pasir yang dilakukan PT Royal Boskalis. (Alam)

