Categories: KesehatanNasional

Mewawancarai Adiany Adil, Dokter yang Viral karena Tak Percaya COVID Sebagai Penyakit Manusia

ENREKANG – Salah satu dokter di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, bernama Adiany Adil ramai diberitakan lantaran diduga tak percaya dengan adanya coronavirus disease 2019 (COVID-19).

Ia menjadi viral setelah mengunggah sebuah pernyataan di media sosialnya terkait COVID-19.

Pernyataan dokter Adiany Adil diambil dari akun Facebooknya // tangkapan layar. (trotoar.id)

Adiany Adil percaya adanya virus

Hal tersebut kemudian diklarifikasi oleh dr Adiany Adil. Kepada trotoar.id, ia menegaskan bahwa dirinya percaya dengan adanya virus.

Sehingga Adiany Adil menilai bahwa apa yang ramai dibicarakan publik itu tidak sesuai.

“Jadi tekankan perbedaan virus (Pada manusia) dengan kata COVID (pada hewan),” terangnya.

COVID bukan penyakit manusia?

Adiany Adil menjelaskan bahwa yang tidak ia percayai atau tak diakuinya adalah penempatan istilah COVID sebagai penyakit manusia, “Ini perlu dijelaskan,” katanya kepada tim trotoar.id, Sabtu (4/9).

“Virus ada. Tapi COVID itu bukan nama penyakit bagi manusia. Jadi bedakan istilah virus dengan istilah covid,” tegasnya lagi.

Karena sepengetahuannya sebagai dokter, kata Adiany Adil, COVID itu adalah sebuah penyakit yang hanya terdapat pada hewan, bukan pada manusia.

“Coba tanya dokter hewan. COVID itu adalah penyakit bagi hewan. Sebab kalau pada manusia, tidak ada jenis penyakit bernama COVID,” tuturnya.

IDI Enrekang menyuruh diam

Bahkan karena pengakuannya itu membuat dirinya harus diperhadapkan dengan berbagai situasi. Adiany Adil mengaku pernah ditegur oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Enrekang.

Tak hanya ditegur, kata dia, tetapi dirinya juga diminta agar bungkam atau tak buka mulut.

“IDI Cabang Enrekang menyuruh (saya) diam,” akuinya saat diwawancarai trotoar.id.

Bukannya diberi bantahan atau ruang bicara terbuka, tetapi dirinya mengaku tak mendapat pernyataan tandingan, bantahan ataupun jawaban atas pernyataannya yang ia buat dan dipostingnya di media sosial.

“Iya, dan sampai detik tidak ada pihak yang membuat surat pernyataan tandingan sebagai bantahan atas surat pernyataan yang saya buat,” ujarnya.

Polres beri apresiasi?

Namun fakta berbeda didapatkannya ketika dipanggil oleh pihak Kepolisian dan Kodim Kabupaten Enrekang atas pernyataanya itu.

Ia mengaku malah mendapat apresiasi dari pihak kepolisian dan Kodim atas apa yang dilakukannya.

“Pihak Kodim dan Polres justru apresiasi terhadap apa yang saya lakukan,” bebernya.

Adiany Adil bahkan menyebut kalau pihak kepolisian Enrekang ada yang malah merasakan pertentangan batin dalam dirinya ketika bertemu dengannya.

Hal itu disebabkan, kata dia, karena apa yang ditanamkan di kepolisian berbeda dengan apa yang dijelaskan oleh ilmu kedokteran.

“Pihak Polres malah menyatakan setelah tahu ilmu kedokterannya dari saya timbul pertentangan batin karena apa yang didoktrinkan di tempat kerjanya ternyata berbeda dengan faktanya,” bebernya.

Lalu bagaimana dengan vaksin?

Ketika ditanya soal vaksin. Adiany Adil menjawab bahwa bagaimana mungkin seseorang divaksin sementara penyakitnya tidak ada, “Penyakitnya saja tidak ada,” tuturnya.

Lanjut, kata dia, kalau memang benar itu adalah vaksin, kata dia seraya bertanya, lalu mengapa vaksinya tak diberikan ke posyandu saja sebagai pelaksana?

“Kalau benar vaksin, kenapa tidak diberikan ke posyandu sebagai pelaksana?” bebernya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Saat ditanya terkait pandangannya atas apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dunia utamanya pada ruang khusus kesehatan di dunia.

Adiany Adil menjawab bahwa para ahli dalam hal ini dokter hewan, dokter manusia hingga virologi, semuanya seperti diam dengan situasi ini.

“Para ahli dalam hal ini para dokter manusia dokter hewan, virologi itu pada diam,” bebernya.

Sehingga dengan situasi yang demikian itu, kata dia, semuanya dibuat kacau balau oleh yang berdiri di balik WHO (World Health Organization).

“Makanya dibuat kacau balau oleh yang berada di balik WHO,” tambahnya.

Terakhir, ia mengatakan bahwa ini kurang lebih seperti sebuah ajang uji coba berskala besar di mana rakyat lah yang diambil sebagai bahan percobaan produk.

“Ajang uji coba besar-besaran, rakyat dijadikan kelinci percobaan produk,” tutupnya dalam wawancara dengan jurnalis trotoar.id.

Penulis: Alam

Awal Febri

Share
Published by
Awal Febri

BERITA TERKAIT

Dengar Kabar Lansia Tinggal di Gubuk, Wali Kota Munafri Langsung Respon Cepat Berikan Bantuan

MAKASSAR, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang akrab disapa Appi, menunjukkan respons cepat…

9 jam ago

Pemkab Sidrap Jajaki Kerja Sama Energi Terbarukan dengan Solar Karya Energy

SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) mulai menjajaki kerja sama di sektor energi…

9 jam ago

Bupati Sidrap Terima KPPG Kendari, Dorong SPPG Capai Level Terbaik

SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, menerima audiensi Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi…

9 jam ago

Jelang Pelantikan KNPI Sulsel, Vonny Ameliani Perkuat Sinergi OKP Lewat Audiensi

MAKASSAR, Trotoar.id — Vonny Ameliani melaksanakan audiensi sekaligus menyampaikan undangan pelantikan Komite Nasional Pemuda Indonesia…

9 jam ago

Sekda Sidrap Dalami Kapasitas Kandidat pada Tahap Wawancara Selter JPT Pratama

MAKASSAR, Trotoar.id — Tahapan wawancara Seleksi Terbuka (Selter) Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Eselon II.b…

9 jam ago

Dari Mubes untuk Negeri: Alumni Unhas Bahas Ketahanan Pangan dan Energifoto: ilustrasi

MAKASSAR, Trotoar.id — Pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin yang digelar di Four…

11 jam ago

This website uses cookies.