Categories: NewsPendidikan

Wawancara Eksklusif Rachmat Kosman Tentang Perjalanan Berdirinya Fakultas Farmasi UMI Makassar

MAKASSAR –  Merefleksi kembali sejarah berdirinya Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia (FF UMI) Makassar, tepat di 2021 ini fakultas tersebut telah genap usianya dua dekade atau 20 tahun kelahirannya.

Tepat 26 September 2001, adalah awal dari berdirinya sebuah peradaban di UMI Makassar yang fokus mendalami dan mengembangkan ilmu kefamasian.

Dekan FF UMI, Apt. Rachmat Kosman S. Si., M. kes, menjelaskan bahwa pelopor daripada berdirinya fakultas ini adalah Prof. Dr. H. Tadjuddin Naid, M.Sc, dengan 7 dosen perintis lainnya.

Semangat yang ditanamkan oleh perintis fakultas farmasi adalah semangat kemandirian sehingga itulah yang sampai hari ini dipegang teguh oleh penerus. 

“Jadi Prof Tajuddin Naid adalah dosen Universitas Hasanuddin yang diperbantukan di UMI Makassar. Beliu mendorong supaya fakultas ini berdiri sendiri, mandiri dan tidak mengikut ke fakultas lain seperti pada umumnya di kampus-kampus lain,” kata Rachmat Kosman saat diwawancarai Wartawan Menara Indonesia di ruang kerjanya, Kamis (23/9/2021).

Ia menceritakan bahwa FF UMI ini tak terlepas dari berbagai persoalan dan kendala apalagi mahasiswa diharuskan dalam dua aspek utama yakni belajar tatap muka dan praktikum, sementara sarana dan prasarana pada waktu itu tak memadai.

“Kita nempel di Auditorium untuk tempat administrasi dan di belakangnya itu sebagai tempat laboratorium. Setahun kemudian kita pindah meminjam ruang kuliahnya Fakultas Agama,” terangnya.

Memasuki tahun 2003, FF UMI kemudian pindah lagi meminjam di Fakultas Kedokteran, “Kita pindah lagi ke sana”, tuturnya.

Tak berselang lama, masuk tahun 2004. Karena saat itu universitas menuntut untuk adanya sebuah akreditasi maka para pendiri Farmasi UMI melakukannya dengan sekuat tenaga dan kemampuan yang ada.

“Itu kita mulai menyusun borang akreditasi. Walaupun salah satu syaratnya harus ada alumni dulu sementara kita baru berdiri di tahun 2001 dan belum ada alumni pada tahun 2004. Tetapi karena ini keharusan maka kita lakukan akreditasi,” kata Rachmat Kosman.

Karena dilakukan dengan kesungguhan dan semangat kemandirian, kata dia, maka di waktu itu FF UMI berhasil mendapat nilai akreditasi D untuk pertama kalinya.

Para pendiri ini terus berbenah, lalu pada tahun 2005 Fakultas Farmasi melakukan kembali re-Akreditasi dan berhasil mendapat nilai C, sehingga ini menunjukkan suatu peningkatan. 

“Sementara di Makassar ada 9 universitas yang memiliki kefarmasian. Tetapi yang terakreditasi baru kami dengan Unhas pada waktu itu (2005),” kata Rachmat Kosman.

Antara tahun 2005 ke 2006 Rachmat Kosman berkeputusan maju membantu Prof Tajuddin Naid sebagai Wakil Dekan III. Di situ para pendiri ini berpikir bahwa hidupnya farmasi adalah laboratorium. 

“Kami menggagas bagaimana kemudian universitas menyiapkan anggaran untuk laboratorium,” terangnya.

Anggaran tersebut diakumulasi dari pembayaran mahasiswa yang pada saat ini nilainya masih kisaran antara Rp300 ribu – Rp500 ribu.

“Uang yang kami ambil itu kemudian kami kembalikan ke mahasiswa dalam bentuk peralatan dan bahan laboratorium”, bebernya. 

Hal itu dilakukan sebagai upaya pengembangan sebuah kemandirian sebab pihaknya tak ingin jika mahasiswa farmasi UMI meminjam alat dan bahan praktek di tempat lain. 

“Sehingga berputar kepala ini bagaimana cara praktikum bisa berjalan,” ungkapnya.

Ia menerangkan bahwa hal itu dilakukan dengan berbagai keterbatasan. Bahkan alat praktikum dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat digunakan.

Tiba di tahun 2007, Pelan-pelan beranjak dari keterbatasan alat hingga Sumber Daya Manusia (SDM), kata Rachmat Kosman. mencoba merekrut alumni angkatan pertama agar masuk kembali ke FF UMI mengajar sebagai dosen.

Lanjut, kata dia, bahkan tak sedikit dari alumni yang didorong untuk keluar daerah belajar dan mendalami betul disiplin ilmu ini agar bisa kembali menjadi tenaga pengajar untuk menciptakan nuansa belajar yang baru sesuai perkembangan zaman dan membawa atmosfer keilmuan yang terbuka.

Kemudian masuk 2008 – 2009, Rachmat Kosman yang tadinya duduk sebagai Wakil Dekan III bagian kemahasiswaan pindah ke Wakil Dekan I bagian akademik.

Ia kemudian terus berbenah, mulai dari memperbaiki kurikulum hingga nuansa akademiknya diramu sedemikian rupa agar tidak tertinggal oleh zaman yang semakin dewasa.

Lalu di 2010 – 2011 barulah Fakultas Farmasi memiliki gedung Laboratorium sendiri sehingga segala proses praktikum dilakukan sendiri sembari terus melengkapi peralatan.

Lalu, tambah Rachmat Kosman, FF UMI didorong kembali untuk meningkatkan akreditasinya, “Karena kami pikir ini kami sudah punya gedung sendiri.”

Tetapi ternyata bukan hanya gedung yang jadi kendala untuk mencapai akreditasi baik, tetapi dari segi SDM juga menjadi masalah, sehingga akreditasi tetap C di tahun 2012 silam, sebab ada tiga unsur penilaian yakni Penelitian, Pengabdian, dan Pangkat.

“Kami sadar ini tantangan. Kami genjot lagi dosennya untuk sekolah lagi, dan urus pangkatnya,” terangnya.

Kemudian masuk tahun 2014, Rachmat Kosman naik menjadi dekan FF UMI. Ia bercerita bahwa di masanya SDM sudah mulai dibenahi dan suasana makin tertata dengan baik sehingga pihannya mendorong lagi akreditasi di tahun 2016.

“Kami bersyukur saat itu, akreditasi kami dapatkan nilai B,” ujarnya  

Hadirnya Program Apoteker

Antara tahun 2016 – 2017, FF UMI masih monoprogram. Yang tersedia hanya program sarjana farmasi, sehingga di bawah kepemimpinan Rachmat Kosman memutuskan untuk mendorong proposal program apoteker.

“Alhamdulillah, pada tahun 2018 keluar Surat Keputusan untuk pembukaan program baru,” bebernya.

Bahkan di tahun ini pula FF UMi bersertifikasi ISO 9001: 2000 manajemen mutu 

Di tahun itu pula, pihaknya kembali mendorong akreditasi langsung dua program studi sekaligus tetapi bukan lagi di BAN-PT, tetapi LAM-PTKes dan dua-duanya mendapat nilai B.

Kemudian, antara tahun 2018 – 2019. Karena pada saat itu belum ada sosok yang dinilai memenuhi syarat untuk menggantikan Rachmat Kosman sehingga ia melanjutkan kepemimpinannya hingga tahun 2022 mendatang.

Selain adanya syarat untuk menjadi dekan, tentunya ada suatu keterikatan yang kuat antara fakultas dengan semangat berdirinya bahwa “Prof Tajuddin Naid berpesan, bangunlah rumah kita, dan kembangkan terus ke depan,” kata Rachmat Kosman.

Sehingga ia berharap apa FF UMI tetap jaya dan terdepan dalam soal keilmuan dan praktikum. (Alam)

Awal Febri

Share
Published by
Awal Febri

BERITA TERKAIT

Musda Digelar Juni, Empat Kader PD Diusulkan Maju

Empat Kader Demokrat Di usulkan Bersaing di Musda

15 jam ago

DPRD Sulsel Tutup Masa Sidang II, Sekprov: Orang Sabar Disayang Tuhan

MAKASSAR, Trotoar.id — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Selatan (DPRD Sulsel) resmi menutup Masa Sidang…

17 jam ago

Program SEHATI Hadir di SMA 17 Makassar, Dorong Deteksi Dini Perilaku Berisiko Remaja

MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak (TP) PKK Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi…

17 jam ago

Dorong Profesionalisme Jurnalist Pemkot Makassar Fasilitasi Wartawan Ikut UKW

MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia…

17 jam ago

Pajak Hiburan Makassar Lampaui Target, Tren Positif Dorong PAD Tembus Rp36 Miliar

MAKASSAR, Trotoar.id — Kinerja sektor pajak hiburan di Kota Makassar menunjukkan tren yang semakin menggembirakan.…

17 jam ago

Ketua TP PKK Luwu Tekankan Peran Posyandu sebagai Pusat Edukasi Masyarakat

LUWU, Trotoar.id — Peringatan Hari Posyandu Nasional tingkat Kabupaten Luwu digelar di Posyandu Sartika, Desa…

17 jam ago

This website uses cookies.