Makassar, Trotoar.id – Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, mengapresiasi Kecamatan Panakkukang, khususnya Kelurahan Paropo, yang menjadi pionir pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Program PESONA (Pendistrbusian Sampah Organik untuk Maggot).
Program ini resmi dilaunching pada Sabtu (27/9) dengan dihadiri Ketua TP PKK Kota Makassar Melinda Aksa, Kadis DLH Helmy Budiman, Camat Panakkukang Ari Fadli, serta Lurah Paropo Achiruddin Achmad.
Munafri menegaskan, sampah bukan musuh, melainkan sumber ekonomi jika dikelola dengan baik.
“Proses pemilahan sampah itu sederhana, cukup dua ember di rumah: organik dan plastik. Dampaknya luar biasa bagi lingkungan. Sampah plastik bisa bernilai ekonomi, sampah organik bisa diurai maggot atau jadi kompos. Sampah jangan dianggap masalah, tapi peluang,” ujar Munafri.
Ia mencontohkan, satu kilogram maggot mampu mengurai lima kilogram sampah organik. Dengan jumlah maggot yang lebih besar, tumpukan sampah bisa ditekan signifikan.
Selain itu, ia juga mendorong masyarakat membuat biopori untuk mengolah daun kering serta memanfaatkan ekoenzim sebagai cairan pembersih rumah tangga alami.
“Kalau bisa bikin ekoenzim, kita tidak perlu lagi beli cairan pel atau pembersih rumah. Semua dari sampah organik rumah tangga,” tambahnya.
Munafri juga mengingatkan pentingnya penghijauan kota. Ia ingin setiap warga menanam minimal satu pohon, termasuk pohon endemik Makassar seperti satulu, bune, dan jenis lokal lain yang kini sulit ditemui.
“Kalau 1,4 juta penduduk Makassar menanam pohon, bayangkan betapa hijaunya kota kita,” tuturnya.
Camat Panakkukang, Ari Fadli, menilai program ini sebagai pemicu lahirnya gerakan kolektif di 11 kelurahan Panakkukang.
“Paropo menjadi pemantik. Launching ini bertujuan membangkitkan kesadaran warga memilah sampah sejak rumah. Sampah plastik bisa didistribusikan ke bank sampah, sementara sampah organik bisa jadi pakan maggot,” jelas Ari.
Ia juga memastikan pihak kecamatan akan menindaklanjuti arahan Wali Kota dengan melibatkan RT/RW untuk menggalakkan kembali penanaman tanaman endemik di lingkungan masing-masing.
Lurah Paropo, Achiruddin Achmad, menambahkan bahwa Program PESONA lahir dari hasil musyawarah bersama warga, tokoh agama, tokoh masyarakat, RT/RW, LPM, dan penyuluh DLH sejak awal September.
“Sejak 7 September kami bermusyawarah. Setelah disepakati, hari ini mulai dilakukan pengambilan sampah yang sudah dipilah warga. PESONA juga sejalan dengan program Makassar Bebas Sampah,” ungkapnya.
Selain mendistribusikan sampah organik untuk budidaya maggot, lanjut Achiruddin, warga juga mulai mengembangkan usaha pengolahan sampah rumah tangga lainnya.
Dengan hadirnya Program PESONA, Panakkukang diharapkan menjadi model percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Langkah ini sekaligus mendukung target Pemkot Makassar menekan volume sampah ke TPA dan mewujudkan kota yang bersih, hijau, serta bernilai ekonomi dari hasil pengelolaan sampah.



Komentar