Rahman Pina Plt Sekretaris mendampingi Plt Ketua DPD I Golkar Sulsel Muhiddin M Said Sulsel
MAKASSAR, Trotoar.id — Belum ditetapkannya jadwal Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) memunculkan ruang tafsir sekaligus dinamika di internal partai.
Di satu sisi, penundaan ini mencerminkan kehati-hatian DPP dalam menjaga stabilitas organisasi.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga menjadi ujian nyata bagi soliditas kader di daerah.
Musda bukan sekadar agenda rutin pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, forum ini menjadi arena strategis untuk menentukan arah politik, konsolidasi kekuatan, serta regenerasi kepemimpinan partai di tingkat provinsi.
Karena itu, molornya jadwal pelaksanaan Musda berpotensi memicu tarik-menarik kepentingan antar faksi, terutama dalam penentuan figur Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Meski terdapat perbedaan preferensi politik di kalangan kader, narasi yang mengemuka saat ini justru menekankan pentingnya menjaga persatuan.
Hal ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa fragmentasi internal hanya akan melemahkan posisi Golkar, khususnya menjelang kontestasi politik ke depan.
Simbol “Pohon Beringin” yang selama ini melekat pada Golkar kembali digaungkan sebagai representasi kejayaan masa lalu yang ingin dihidupkan kembali.
Namun, tantangan saat ini jauh lebih kompleks. Golkar tidak hanya dituntut solid secara internal, tetapi juga adaptif terhadap perubahan lanskap politik yang semakin kompetitif dan dinamis.
Dalam konteks ini, peran Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Golkar Sulsel, Muhiddin M Said, menjadi krusial.
Laporan yang disampaikannya kepada Ketua Umum DPP tidak hanya berisi gambaran kondisi organisasi, tetapi juga menjadi sinyal bahwa Sulsel tetap berada dalam koridor kendali dan komunikasi yang terjaga dengan pusat.
Langkah ini penting untuk memastikan bahwa proses penentuan jadwal Musda nantinya tidak hanya mempertimbangkan aspek administratif, tetapi juga kalkulasi politik yang matang, termasuk kesiapan kader, potensi konflik, serta peluang konsolidasi pasca-Musda.
Jika dikelola dengan baik, momentum penundaan ini justru dapat dimanfaatkan sebagai ruang pendinginan (cooling down) bagi berbagai kepentingan yang berkembang.
Sebaliknya, tanpa manajemen yang tepat, kondisi ini berisiko memperpanjang ketidakpastian dan membuka ruang bagi polarisasi internal.
Pada akhirnya, keberhasilan Golkar Sulsel ke depan sangat ditentukan oleh dua hal utama: kemampuan menjaga soliditas di tengah perbedaan, serta kecermatan dalam memilih kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh elemen partai.
Musda, kapan pun digelar, akan menjadi titik krusial dalam menentukan apakah Golkar mampu kembali “rindang” atau justru terjebak dalam dinamika internal yang berkepanjangan.
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Pemerintah Kota Makassar mulai menutup babak panjang aktivitas pasar tumpah di Jalan…
SOPPENG, TROTOAR.ID —Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan Supriadi Arif meninjau langsung pelaksanaan Proyek Multiyears perbaikan…
MAKASSAR, TROTOAR.ID - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, hadir dan meresmikan langsung layanan penerbitan Surat…
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, A Rachmatika Dewi, menghadiri kegiatan ramah tamah…
MAKASSAR, TROTOAR.ID – Anggota DPRD Kota Makassar, Hj Umiyati, kembali melaksanakan reses masa persidangan ketiga…
Bulukumba, Trotoar.id – Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan Pendidikan Pengawas Partisipatif…
This website uses cookies.