Makassar, Trotoar.id — Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, Jufri Rahman, menegaskan pentingnya hilirisasi sumber daya alam (SDA), khususnya sektor mineral dan batu bara (minerba), sebagai strategi utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas daerah, memperkuat daya saing industri, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Jufri saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) Kajian Kebijakan Publik (KKP) 7.1 yang digelar Bank Indonesia di Hotel The Rinra Makassar, Senin (6/7/2026).
Kegiatan tersebut mengangkat tema Strategi Penguatan Hilirisasi Sumber Daya Alam untuk Mendukung Akselerasi Pencapaian Asta Cita.
Dalam paparannya, Jufri menjelaskan bahwa hilirisasi merupakan proses pengolahan sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan atau diekspor.
Menurutnya, hilirisasi tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membuka peluang transfer teknologi, menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan.
“Hilirisasi adalah kunci untuk menciptakan nilai tambah maksimal dari sumber daya alam Sulawesi Selatan dan mewujudkan ekonomi daerah yang maju, mandiri, serta berkelanjutan,” ujar Jufri.
Ia menyebutkan, Sulawesi Selatan memiliki potensi minerba yang cukup besar, mulai dari nikel, bijih besi, batu bara, batu kapur, granit, pasir silika, marmer, trass, hingga tanah liat sebagai bahan baku industri semen dan keramik.
Potensi tersebut, kata dia, menjadi modal penting untuk membangun industri pengolahan yang mampu memberikan manfaat ekonomi lebih besar bagi masyarakat.
Namun, Jufri mengakui sebagian besar komoditas minerba saat ini masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah yang diterima daerah belum maksimal.
Selain itu, jumlah industri pengolahan dan pemurnian masih belum sebanding dengan besarnya potensi sumber daya yang tersedia.
Ia menilai peluang hilirisasi Sulsel tidak hanya terbatas pada pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter nikel, tetapi juga mencakup pengembangan industri baja, baterai kendaraan listrik, stainless steel, semen, marmer, gasifikasi batu bara, hingga petrokimia.
“Produk hasil hilirisasi dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga beberapa kali lipat dibandingkan hanya menjual bahan mentah,” jelasnya.
Lebih lanjut, Jufri menyampaikan bahwa keberhasilan hilirisasi akan memberikan dampak luas terhadap perekonomian daerah.
Selain meningkatkan investasi dan pendapatan asli daerah (PAD), sektor ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan UMKM pendukung, memperkuat sektor logistik, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Ia berharap Sulawesi Selatan dapat berkembang menjadi pusat industri pengolahan mineral di kawasan Indonesia Timur.
Meski demikian, Jufri mengakui masih terdapat sejumlah tantangan dalam mewujudkan hilirisasi, seperti sinkronisasi kewenangan, keterbatasan energi, infrastruktur logistik yang belum optimal, kebutuhan investasi besar, peningkatan kualitas SDM, hingga kepastian pasokan bahan baku.
“Mengatasi berbagai tantangan secara terintegrasi menjadi kunci keberhasilan hilirisasi mineral di Sulawesi Selatan,” katanya.
Karena itu, ia mendorong penguatan peran pemerintah daerah melalui penyiapan kawasan industri, percepatan perizinan, pembangunan infrastruktur pendukung, peningkatan kompetensi tenaga kerja, promosi investasi, serta penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah.
Menurutnya, hilirisasi membutuhkan regulasi yang konsisten, investasi berkualitas, dukungan energi dan logistik, serta tata kelola pertambangan yang berkelanjutan.
“Hilirisasi bukan hanya mengolah sumber daya, tetapi juga mengolah masa depan Sulawesi Selatan. Melalui langkah ini, kita ingin menjadikan Sulsel sebagai pusat industri hilir minerba yang berdaya saing dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” pungkas Jufri.

