MAKASSAR, Trotoar.id – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Selatan di Hotel Claro Makassar, Sabtu.
Dalam sambutannya, Bahlil menegaskan bahwa Musda merupakan forum tertinggi partai di tingkat provinsi yang tidak hanya memilih ketua, tetapi juga n 2 ke depan.
Mengawali sambutannya, Bahlil mengaku memiliki kedekatan emosional dengan lokasi pelaksanaan Musda.
Menurutnya, Hotel Claro bukan tempat yang asing karena sejak masih aktif sebagai pengusaha hingga memimpin Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), ia telah beberapa kali mengikuti agenda organisasi di tempat tersebut.
“Tempat ini bukan tempat baru bagi saya. Sejak saya menjadi pengusaha saya sudah mengenal tempat ini. Bahkan Hotel Claro pernah menjadi lokasi Musda HIPMI. Setiap forum yang berlangsung di sini selalu meninggalkan kesan bagi saya,” ujar Bahlil.
Ia menegaskan bahwa Musda tidak boleh dimaknai hanya sebagai agenda pergantian kepemimpinan.
Lebih dari itu, Musda merupakan forum strategis untuk menyusun program kerja, melahirkan rekomendasi organisasi, sekaligus memperkuat konsolidasi internal partai.
“Musda adalah forum tertinggi di daerah. Di sinilah kita merumuskan program kerja, menyusun rekomendasi, dan memperkuat organisasi. Tidak ada partai politik yang bisa tetap eksis tanpa perencanaan dan konsolidasi yang dibangun secara bersama-sama,” katanya.
Menurut Bahlil, konsolidasi merupakan kata kunci bagi Partai Golkar untuk kembali meraih kejayaan pada Pemilu 2029.
Karena itu, seluruh kader diminta mengesampingkan perbedaan dan bersatu membangun kekuatan partai hingga ke tingkat akar rumput.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menyinggung pelaksanaan Musda Golkar Sulsel sebelumnya yang sempat digelar di luar Sulawesi Selatan.
Ia menilai forum tertinggi partai di daerah semestinya dilaksanakan di daerah sendiri agar menjadi ruang konsolidasi yang melibatkan seluruh kader.
“Berdasarkan laporan yang saya terima, sudah sekitar satu dekade Musda Golkar Sulsel tidak dilaksanakan di Sulawesi Selatan, tetapi dibawa ke Jakarta. Menurut saya, kurang tepat. Musda harus menjadi forum konsolidasi kader di daerahnya sendiri,” tegasnya.
Bahlil menilai Sulawesi Selatan memiliki posisi strategis dalam perjalanan politik Partai Golkar.
Selama ini, kata dia, Sulsel menjadi barometer kekuatan Golkar di kawasan Indonesia Timur dan kerap menjadi rujukan dalam pembangunan organisasi partai.
“Kalau berbicara Golkar di kawasan timur Indonesia, simpul kekuatannya ada di Sulawesi Selatan. Kepemimpinan politik dari timur selalu merujuk ke Sulsel. Karena itu, kejayaan Golkar Sulsel harus kita kembalikan,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa dinamika politik terus berubah dan persaingan antar partai semakin ketat.
Oleh sebab itu, kepengurusan baru yang akan lahir dari Musda diminta segera menyusun langkah-langkah strategis dan program yang terukur agar Golkar kembali menjadi kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan.
Dalam sambutannya, Bahlil mengungkapkan bahwa Musda XI Golkar Sulsel merupakan Musda provinsi ke-37 dari total 38 Musda provinsi yang digelar Partai Golkar di seluruh Indonesia.
Karena itu, ia meminta ketua terpilih agar tidak menunda konsolidasi hingga ke tingkat daerah.
“Saya minta setelah Musda provinsi selesai, segera laksanakan Musda di kabupaten dan kota, kemudian lanjutkan musyawarah di tingkat kecamatan hingga desa. Konsolidasi harus bergerak cepat,” tegasnya.
Bahlil juga mengingatkan target besar Partai Golkar yang telah diputuskan dalam Musyawarah Nasional, yakni meningkatkan jumlah kursi di parlemen pada Pemilu 2029.
Menurutnya, target tersebut menjadi tanggung jawab seluruh jajaran pengurus baru di daerah.
Pada bagian akhir sambutannya, Bahlil secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) untuk memimpin DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan.
“Siapa yang layak dan pantas memimpin Golkar Sulawesi Selatan adalah Ilham Arief Sirajuddin,” kata Bahlil yang langsung disambut tepuk tangan para peserta Musda.
Ia menilai IAS memiliki pengalaman panjang di Partai Golkar, memahami dinamika organisasi, serta pernah mengemban amanah sebagai Wali Kota Makassar.
Modal pengalaman tersebut diyakini mampu mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
Bahlil juga menegaskan bahwa Partai Golkar merupakan partai yang inklusif dan terbuka bagi seluruh kader. Menurutnya, Golkar bukan milik kelompok, golongan, maupun keluarga tertentu.
“Golkar tidak dilahirkan oleh satu golongan atau satu keluarga tertentu. Golkar adalah partai yang inklusif, rumah besar bagi seluruh kader. Siapa pun yang pernah keluar dan ingin kembali, pintu Golkar selalu terbuka. Di Golkar tidak ada kebencian, yang ada adalah kasih sayang dan semangat kebersamaan,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan baru yang lahir melalui Musda XI mampu memperkuat soliditas organisasi, mempercepat konsolidasi hingga ke tingkat desa, dan mengembalikan posisi Partai Golkar sebagai kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan menuju Pemilu 2029.
Selain itu, Bahlil menegaskan bahwa Golkar akan terus berperan sebagai bagian dari pemerintahan dalam mendukung pembangunan nasional, bukan mengambil posisi sebagai partai oposisi.

