Trotoar.id, Makassar — Penetapan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan periode 2026–2031 mulai memunculkan dinamika politik baru di internal partai berlambang pohon beringin tersebut.
Sejumlah politisi yang sebelumnya berkiprah di berbagai partai politik dikabarkan mulai menjalin komunikasi untuk bergabung dalam jajaran kepengurusan DPD I Golkar Sulsel.
Di kalangan pengamat politik, fenomena ini kerap disebut sebagai munculnya “politisi kutu loncat”, yakni figur-figur yang berpindah dari satu partai ke partai lain demi melanjutkan karier politik.
Meski istilah tersebut bernada kritis, perpindahan kader antarpartai merupakan hal yang lazim dalam dinamika politik Indonesia dan tetap bergantung pada mekanisme serta aturan internal masing-masing partai.
Beberapa nama yang santer disebut bakal masuk dalam formasi kepengurusan baru Golkar Sulsel di antaranya mantan politisi Partai Demokrat, Amirullah Nur, serta mantan politisi PAN, Irwandi.
Selain itu, sejumlah politisi lintas partai lainnya juga disebut-sebut tengah membangun komunikasi dengan lingkaran kepemimpinan IAS menjelang penyusunan struktur organisasi DPD I Golkar Sulsel.
Mantan SC Musda Golkar Armin Mustamin Toputiri memprediksi kepengurusan partai Golkar akan lebih gemuk dari kepengurusan sebelumnya.
“Saya pernah sampaikan saat Paka IAS mendaftar, akomodir aja keseluruhan Kelompok yang ingin gabung bersama Golkar,” kata Armin
Tak hanya berasal dari partai lain, sejumlah loyalis Ilham Arief Sirajuddin yang selama ini berkiprah di berbagai kendaraan politik juga dikabarkan siap merapat ke Partai Golkar.
Mereka disebut mengincar sejumlah posisi strategis setelah IAS resmi menerima mandat Musyawarah Daerah (Musda) XI Golkar Sulsel sebagai nahkoda baru partai.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan besarnya daya tarik kepemimpinan IAS di panggung politik Sulawesi Selatan.
Sebagai mantan Wali Kota Makassar dan tokoh yang memiliki jaringan politik luas, IAS dianggap mampu menjadi magnet bagi banyak figur politik yang ingin kembali membangun karier melalui Partai Golkar.
Meski demikian, hingga saat ini DPD I Partai Golkar Sulsel belum mengumumkan secara resmi susunan kepengurusan periode 2026–2031.
Penetapan pengurus masih menunggu proses tim formatur yang bertugas menyusun komposisi kepengurusan sesuai dengan mekanisme organisasi dan aturan partai.
Masuknya figur-figur baru tentu menjadi tantangan tersendiri bagi IAS. Di satu sisi, kehadiran kader dari berbagai latar belakang dapat memperkuat mesin politik Golkar Sulsel.
Namun di sisi lain, kepemimpinan IAS juga dituntut mampu menjaga soliditas kader lama yang selama ini membesarkan partai.
Pengamat menilai komposisi kepengurusan yang akan dibentuk IAS nantinya akan menjadi indikator arah konsolidasi Golkar Sulsel menjelang agenda politik berikutnya.
Apakah lebih mengedepankan kader internal atau membuka ruang yang lebih luas bagi tokoh-tokoh baru, menjadi perhatian banyak kalangan.
Bagi IAS, penyusunan kepengurusan bukan hanya soal pembagian jabatan, tetapi juga menjadi momentum membangun kekuatan politik yang solid hingga ke tingkat kabupaten dan kota.
Struktur organisasi yang kuat dinilai akan menjadi modal penting bagi Golkar Sulsel menghadapi kontestasi politik pada masa mendatang.

