BARRU, Trotoar.id – Berdirinya Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Barru menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Kabupaten Barru, DPRD, Forkopimda, pemerintah desa, hingga masyarakat dalam menghadirkan akses pendidikan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Hal tersebut disampaikan Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, saat membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SRT 1 Kabupaten Barru di Desa Lawallu, Kecamatan Soppeng Riaja, Jumat (31/7/2026).
Menurut Andi Ina, keberhasilan Barru memperoleh Sekolah Rakyat permanen bukanlah proses yang mudah.
Di balik berdirinya sekolah tersebut terdapat perjuangan panjang yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemenuhan persyaratan administrasi, penyediaan lahan, hingga koordinasi intensif dengan pemerintah pusat.
Ia menjelaskan, Kabupaten Barru menjadi salah satu daerah yang berhasil mendapatkan kesempatan membangun Sekolah Rakyat permanen dari kuota nasional yang disiapkan pemerintah.
Kesempatan itu hanya dapat diperoleh apabila pemerintah daerah mampu memenuhi seluruh persyaratan teknis, terutama kesiapan lahan sesuai standar yang ditetapkan.
“Kami bersama Pak Wakil Bupati, Pak Sekda, seluruh jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, DPRD, dan seluruh tim bekerja siang malam agar Kabupaten Barru dapat memenuhi seluruh persyaratan. Ini adalah perjuangan bersama demi menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Barru,” ujar Andi Ina.
Salah satu tantangan terbesar adalah penyediaan lahan seluas tujuh hektare sebagai lokasi pembangunan Sekolah Rakyat.
Saat proses pengajuan dimulai, Pemerintah Kabupaten Barru baru memiliki lahan sekitar lima hektare sehingga masih membutuhkan tambahan dua hektare agar memenuhi ketentuan pemerintah pusat.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Barru bergerak cepat bersama pemerintah desa dan masyarakat melakukan pembebasan lahan tambahan.
Upaya itu dilakukan agar kawasan sekolah nantinya dapat dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, termasuk sarana olahraga, ruang terbuka, serta infrastruktur penunjang lainnya.
Bupati memberikan apresiasi khusus kepada masyarakat Desa Lawallu yang menunjukkan dukungan luar biasa terhadap program tersebut.
Menurutnya, para pemilik lahan rela menyerahkan tanah mereka lebih dahulu sebelum proses pembayaran diselesaikan oleh pemerintah daerah.
“Ini merupakan bentuk pengorbanan luar biasa dari masyarakat. Mereka mempercayai pemerintah dan mendahulukan kepentingan pendidikan anak-anak kita. Kepercayaan seperti inilah yang menjadi kekuatan besar dalam membangun Barru,” ungkapnya.
Ia menegaskan seluruh proses pembayaran lahan akhirnya dapat diselesaikan melalui mekanisme anggaran pemerintah daerah sehingga hak masyarakat tetap dipenuhi sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain masyarakat, Andi Ina juga menyampaikan apresiasi kepada Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, DPRD Barru, Forkopimda, pemerintah kecamatan dan desa, seluruh perangkat daerah, serta berbagai pihak yang mengawal proses pembangunan Sekolah Rakyat hingga akhirnya mulai beroperasi.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Kementerian Sosial, Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, PT Waskita Karya sebagai pelaksana pembangunan, Tim Gugus Tugas Sekolah Rakyat, para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), hingga seluruh pihak yang terlibat dalam proses seleksi peserta didik.
Menurut Andi Ina, Sekolah Rakyat merupakan salah satu instrumen strategis pemerintah dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
Program tersebut tidak hanya menyediakan pendidikan gratis, tetapi juga pembinaan karakter, pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, hingga lingkungan belajar yang aman dan layak bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Lebih jauh, pemerintah juga mengintegrasikan berbagai program sosial bagi keluarga peserta didik, seperti perbaikan rumah, peningkatan sanitasi, hingga perlindungan sosial.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengangkat kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.
“Anak-anak ini tidak hanya mendapatkan sekolah yang layak. Pemerintah juga hadir mendampingi keluarganya melalui berbagai program sosial sehingga tujuan besar kita untuk mengurangi angka kemiskinan dapat tercapai,” jelasnya.
Bupati mengakui, pada tahap awal masih terdapat sejumlah orang tua yang ragu menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat karena selama ini anak-anak turut membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Namun melalui pendekatan persuasif pemerintah daerah, pendamping PKH, serta pemerintah desa, masyarakat akhirnya memahami bahwa pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan taraf hidup keluarga.
“Jangan biarkan anak-anak kehilangan masa depan hanya karena kondisi ekonomi hari ini. Sekolah Rakyat hadir agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih kesuksesan dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Sosial RI Syaifullah Yusuf yang mengikuti kegiatan secara virtual menjelaskan bahwa pelaksanaan Sekolah Rakyat dilakukan secara bertahap dalam empat gelombang.
Pada hari yang sama, sebanyak 65 Sekolah Rakyat di berbagai daerah memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) gelombang kedua.
Menurut Menteri Sosial, pelaksanaan secara bertahap dilakukan agar seluruh sarana dan prasarana benar-benar siap digunakan.
Ia menegaskan bahwa MPLS harus berlangsung ramah anak, bebas dari perundungan, kekerasan, maupun intoleransi sehingga seluruh peserta didik merasa aman dan nyaman selama mengikuti pendidikan.
Ia juga menjelaskan bahwa selama MPLS dilakukan pemetaan terhadap kondisi kesehatan, psikologis, serta kebutuhan belajar setiap peserta didik sebagai dasar penyusunan layanan pendidikan yang sesuai.
Dalam pembentukan karakter, para siswa akan didampingi Taruna TNI dan Polri sebagai kakak pembimbing untuk menanamkan disiplin, tanggung jawab, kemandirian, serta semangat kebersamaan.
Kepada para orang tua, Syaifullah Yusuf meminta agar memberikan dukungan penuh kepada anak-anak selama menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.
Ia menegaskan bahwa sekolah tersebut bukanlah tempat memisahkan anak dari keluarganya, melainkan ruang pembinaan untuk mempersiapkan masa depan mereka.
“Orang tua tidak dihalangi mengunjungi anaknya kapan saja, karena Sekolah Rakyat bukan tempat pengasingan, tetapi tempat penitipan anak untuk masa depan mereka. Karena itu, ikhlaskan anak-anaknya belajar di Sekolah Rakyat,” tegas Menteri Sosial.

