BULUKUMBA, Trotoar.id — Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tingkat Kabupaten Bulukumba tidak berhenti pada seremoni. Pesan tentang perlindungan anak justru menjadi benang merah dalam rangkaian kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Kamis (13/8/2026).
Dari sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak hingga pengukuhan Forum Anak Panrita Lopi, pemerintah daerah menegaskan satu hal masa depan anak tidak boleh dikorbankan oleh kekerasan, perundungan, eksploitasi maupun perkawinan usia anak.
Puncak peringatan HAN berlangsung di Lapangan Pemuda Bulukumba dan diikuti ratusan siswa dari 24 sekolah.
Mengangkat tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengingatkan kembali pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak.
Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf hadir bersama istrinya yang juga Ketua TP PKK Kabupaten Bulukumba, Hj. Andi Herfida Muchtar.
Hadir pula Kepala DP3A-Dalduk KB Provinsi Sulawesi Selatan Hj. Nursidah, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD, serta sejumlah organisasi perempuan.
Suasana kegiatan berlangsung semarak. Ratusan peserta mengikuti Senam Anak Indonesia Hebat yang dipandu pengurus Forum Anak Panrita Lopi dan Forum Genre Kabupaten Bulukumba.
Namun, di balik kemeriahan itu, terdapat agenda yang jauh lebih serius: memastikan anak-anak Bulukumba tumbuh dalam lingkungan yang aman dan terbebas dari berbagai bentuk kekerasan.
Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf menegaskan bahwa anak bukan sekadar generasi penerus bangsa. Mereka adalah calon pemimpin Bulukumba yang kelak akan menerima estafet pembangunan daerah.
Karena itu, menurut Andi Utta, anak membutuhkan lebih dari sekadar pendidikan.
Mereka membutuhkan keluarga yang melindungi, sekolah yang nyaman, lingkungan sosial yang peduli, serta orang dewasa yang bersedia mendengar dan memahami suara mereka.
“Dan yang paling penting, anak membutuhkan orang-orang dewasa yang mau mendengarkan, memahami, mendampingi, dan melindungi mereka,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah berbagai persoalan yang masih mengancam tumbuh kembang anak.
Andi Utta menegaskan tidak boleh ada anak kehilangan masa depan karena menjadi korban kekerasan, perundungan, eksploitasi, penelantaran, maupun bentuk kekerasan lainnya.
Termasuk di dalamnya, upaya mencegah perkawinan usia anak yang dapat memutus kesempatan anak untuk belajar, berkembang dan meraih cita-cita.
“Setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh, belajar, bermain, mengembangkan potensi, dan meraih cita-citanya. Pencegahan kekerasan terhadap anak tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau aparat penegak hukum. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Menurut Andi Utta, perlindungan anak tidak mungkin berjalan hanya dengan mengandalkan kebijakan pemerintah.
Sistem perlindungan harus dibangun secara berlapis, dimulai dari keluarga, diperkuat sekolah, dijaga masyarakat, didukung dunia usaha dan organisasi kemasyarakatan, serta disuarakan secara bertanggung jawab oleh media.
Yang tidak kalah penting, anak juga harus dilibatkan sebagai bagian dari solusi.
“Kita harus membangun lingkungan masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak,” kata Andi Utta.
Ia meminta seluruh perangkat daerah dan lembaga terkait memperkuat sistem perlindungan anak di Kabupaten Bulukumba. Edukasi kepada masyarakat harus diperluas, sementara layanan pengaduan dan pendampingan bagi korban harus dibuat semakin mudah dijangkau.
Andi Utta juga mengingatkan agar anak yang telah menjadi korban tidak kembali menjadi korban akibat lemahnya penanganan.
“Kita harus memastikan bahwa anak yang menjadi korban tidak kembali menjadi korban untuk kedua kalinya karena lemahnya penanganan. Mari kita hadirkan pemerintah yang responsif, layanan yang mudah dijangkau, dan masyarakat yang berani mengambil peran,” ujarnya.
Komitmen tersebut tidak hanya disampaikan pada puncak HAN. Beberapa jam sebelumnya, Pemkab Bulukumba telah menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap anak di Hutan Kota Bulukumba.
Sosialisasi menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya dr. Rizal Ridwan Dappi dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia, Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba dr. H. Muhammad Amrullah, serta Hj. Andi Herfida Muchtar selaku Ketua TP PKK Kabupaten Bulukumba sekaligus Bunda Forum Anak Panrita Lopi dan Bunda Forum Genre Bulukumba.
Forum tersebut menjadi ruang dialog untuk memperkuat pemahaman anak dan orang tua mengenai berbagai bentuk kekerasan, pentingnya membangun pola pengasuhan yang aman, serta risiko perkawinan usia anak.
Rangkaian kegiatan kemudian diperkuat dengan pengukuhan Forum Anak Panrita Lopi Bulukumba.
Forum ini diharapkan tidak sekadar menjadi organisasi anak, tetapi menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyampaikan aspirasi, berpartisipasi dalam pembangunan dan ikut menyuarakan pentingnya perlindungan terhadap sesama anak.
Peringatan HAN ke-42 di Bulukumba akhirnya membawa pesan yang lebih besar dari sekadar perayaan tahunan. Perlindungan anak harus menjadi kerja bersama dan tidak boleh berhenti ketika panggung peringatan Hari Anak dibongkar.
Sebab, membangun masa depan Bulukumba berarti memastikan anak-anak hari ini tumbuh tanpa rasa takut, memiliki ruang untuk bermimpi, memperoleh kesempatan untuk belajar, dan mendapatkan perlindungan ketika hak mereka terancam.
Karena melindungi anak bukan hanya tentang menjaga mereka hari ini, tetapi tentang memastikan masa depan Bulukumba tetap berada di tangan generasi yang tumbuh sehat, aman, berdaya dan berkarakter.

