LUWU, Trotoar.id — Kekeringan mulai menguji ketahanan sektor pertanian di Kabupaten Luwu. Di tengah ancaman berkurangnya pasokan air untuk persawahan, pemerintah daerah bergerak mendekat ke lahan-lahan yang terdampak dengan menyalurkan mesin pompa air.
Bupati Luwu, Patahudding, turun langsung meninjau penyaluran bantuan tersebut, Rabu (19/8/2026). Peninjauan dilakukan untuk memastikan kebutuhan air bagi petani dapat segera ditangani, terutama di wilayah yang mengalami kondisi paling kritis.
Dua lokasi menjadi titik peninjauan Bupati, yakni Bendung Suplesi Radda di Desa Kurrusumanga dan area persawahan Desa Tallang Bulawang, Kecamatan Belopa.
Di lokasi tersebut, Patahudding melihat langsung kondisi lahan pertanian yang terdampak kekeringan sekaligus mengecek pemanfaatan mesin pompa air untuk mengalirkan sumber air ke areal persawahan.
Bagi Kabupaten Luwu, persoalan ini bukan sekadar menyangkut ketersediaan air. Pertanian merupakan salah satu penopang utama kehidupan masyarakat.
Ketika sawah kekurangan air, ancamannya tidak hanya terhadap tanaman, tetapi juga terhadap pendapatan dan keberlangsungan ekonomi keluarga petani.
“Kami berupaya untuk terus bersama masyarakat, memberikan semangat dan bantuan sumber daya. Karena pertanian merupakan sumber penghasilan utama masyarakat Kabupaten Luwu,” ujar Patahudding.
Melalui Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, pemerintah telah menyalurkan 18 unit mesin pompa air berukuran 3 inci untuk membantu petani menghadapi kekeringan.
Bantuan tersebut berasal dari berbagai sumber. Sebanyak lima unit merupakan bantuan APBN, sementara 13 unit lainnya berasal dari APBD Provinsi Sulawesi Selatan.
Namun, pemerintah daerah menyadari kebutuhan di lapangan masih cukup besar. Karena itu, Patahudding menginstruksikan penyediaan tambahan 20 unit pompa air berukuran 3 inci dan 10 unit berukuran 6 inci.
Tambahan tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan intervensi, terutama pada persawahan yang membutuhkan pasokan air secara cepat.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Luwu, luas lahan persawahan yang terdampak kekeringan saat ini mencapai kurang lebih 3.025,63 hektare dan tersebar di sejumlah kecamatan.
Angka tersebut membuat penanganan tidak bisa dilakukan secara sporadis. Pemerintah harus memetakan wilayah terdampak, menentukan skala prioritas dan memastikan bantuan pompa benar-benar menjangkau lahan yang membutuhkan.
Selain menyalurkan mesin pompa, Pemerintah Kabupaten Luwu melalui Dinas Pertanian terus melakukan pendataan terhadap lahan yang mengalami kekeringan.
Pemerintah juga menyiapkan alternatif sumber air melalui pembangunan atau penyediaan sumur bor untuk mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Penanganan diprioritaskan bagi kelompok tani yang telah mengajukan permohonan maupun kawasan persawahan yang berada dalam kondisi kritis.
Namun, dalam situasi darurat, pemerintah membuka ruang penanganan yang lebih cepat. Petani yang membutuhkan bantuan pompa dapat menyampaikan permohonan melalui kelompok tani untuk kemudian diverifikasi Dinas Pertanian.
“Untuk yang membutuhkan pompa air, bisa mengusul atau bermohon melalui kelompok tani ke Dinas Pertanian untuk diverifikasi. Namun untuk kondisi darurat ini yang penting ada sumber air, bisa kami bantu pompa air,” kata Patahudding.
Kehadiran Bupati di tengah lahan pertanian menjadi pesan bahwa pemerintah daerah tidak ingin petani menghadapi ancaman kekeringan seorang diri.
Pompa air menjadi salah satu solusi cepat untuk menjaga tanaman tetap mendapatkan pasokan air, sementara pendataan dan penyediaan sumur bor diarahkan sebagai bagian dari penanganan yang lebih berkelanjutan.
Di tengah perubahan kondisi cuaca yang dapat mengganggu siklus pertanian, keberadaan sumber air menjadi semakin penting. Setiap hektare sawah yang dapat diselamatkan berarti ada potensi produksi pangan dan pendapatan petani yang tetap terjaga.
Patahudding pun memastikan pemerintah daerah akan terus memantau perkembangan kondisi persawahan dan kebutuhan petani di berbagai wilayah.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan dampak kekeringan sekaligus menjaga keberlangsungan sektor pertanian yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat Luwu.
Dalam peninjauan tersebut, Bupati Luwu didampingi Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Luwu Islamuddin, Kepala Bappelitbangda Moch. Arsal, Plt. Kepala Dinas Kominfo-SP Imran, serta Sekretaris BPBD Aminuddin Alwi.
Bagi para petani yang sawahnya mulai menghadapi kekeringan, bantuan pompa bukan hanya sebuah mesin. Ia menjadi jalan untuk mempertahankan tanaman, menjaga hasil panen dan memastikan roda kehidupan keluarga petani tetap berjalan di tengah ancaman kekurangan air.

