MAKASSAR, Trotoar.id — Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring menguatnya musim kemarau di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan.
Andi Sudirman menegaskan, pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun petugas di lapangan.
Keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk mencegah api muncul dan meluas, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul sejumlah kejadian kebakaran yang terjadi di wilayah Sulsel.
Salah satunya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Tana Toraja yang berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berdampak terhadap sekitar 15 hektare lahan.
Penanganan kebakaran juga dilakukan tim gabungan TNI-Polri, pemadam kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), serta Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di kawasan Gunung Enrekang, Kabupaten Enrekang, dan wilayah Malino, Kabupaten Gowa.
Gubernur mengapresiasi respons cepat seluruh unsur yang turun melakukan pemadaman.
Namun, ia mengingatkan bahwa penanganan setelah api muncul tidak cukup jika tidak dibarengi upaya pencegahan sejak awal.
“Ayo warga kami tercinta, bersama-sama menjaga lingkungan sekitar serta mencegah dari kebakaran pada daerah dengan kerawanan tinggi,” ajak Andi Sudirman, Kamis (20/8/2026).
Ia meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, termasuk membakar lahan secara sembarangan maupun membuang benda yang dapat menjadi sumber api di kawasan kering.
Menurutnya, kondisi kemarau yang diperkuat fenomena El Nino membuat vegetasi dan lahan lebih mudah terbakar.
Karena itu, kewaspadaan masyarakat harus ditingkatkan, khususnya di wilayah dengan kondisi lahan yang kering.
“Mari kita jaga lingkungan kita bersama. Pencegahan lebih baik daripada kita harus menghadapi dampak kebakaran yang lebih besar,” tegasnya.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang membuat potensi karhutla perlu diantisipasi lebih serius. BMKG menyebut kondisi El Nino berada pada level kuat, sementara puncak musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung pada Agustus.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kekeringan sekaligus membuat vegetasi dan lahan lebih rentan terbakar. Sejumlah wilayah di Sulawesi Selatan juga telah masuk dalam peringatan dini kekeringan meteorologis.
Situasi tersebut membuat pencegahan harus dilakukan secara berlapis. Pemerintah daerah, aparat, petugas pemadam, pengelola kawasan hutan, dunia usaha hingga masyarakat diminta memiliki kewaspadaan yang sama.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Sulsel, Kasman, mengatakan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh unsur. Menurutnya, pemerintah tidak dapat bekerja sendiri menghadapi ancaman kebakaran yang berpotensi meluas.
“Semua unsur terkait, baik itu pemerintah pusat, kemudian dari pemerintah provinsi dan kabupaten/kota, termasuk keterlibatan semua sektor swasta,” ujar Kasman.
Ia menjelaskan, sejumlah lokasi yang sebelumnya mengalami kebakaran telah berhasil dipadamkan berkat kerja sama berbagai pihak. Meski api telah berhasil dikendalikan, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul.
“Alhamdulillah, titik-titik tersebut sudah padam dan teman-teman sementara melakukan monitoring dan evaluasi, termasuk mengevaluasi luasan yang terbakar serta melakukan edukasi kepada masyarakat,” jelasnya.
Kelompok Tani Ikut Turun Padamkan Api
Kasman menyebut keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan penting dalam penanganan kebakaran di lapangan. Bahkan, kelompok tani turut membantu petugas melakukan pemadaman ketika kebakaran terjadi di sejumlah lokasi.
“Kemarin juga kita dibantu oleh kelompok-kelompok tani masyarakat untuk melakukan pemadaman di lapangan,” katanya.
Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan gerakan bersama. Masyarakat yang berada paling dekat dengan kawasan rawan kebakaran dinilai memiliki peran penting dalam mendeteksi potensi api sejak dini.
Pemerintah Provinsi Sulsel pun mendorong masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Bagi Andi Sudirman, menjaga lingkungan di tengah musim kemarau bukan semata-mata tugas pemerintah. Pencegahan harus dimulai dari kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Dengan meningkatnya kewaspadaan, penguatan patroli, edukasi serta respons cepat terhadap titik api, Pemprov Sulsel berharap ancaman karhutla selama puncak musim kemarau dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan. (*)

