Site icon Trotoar.id

Kemarau Tak Putuskan Panen, Listrik Masuk Sawah Bantu Petani Kadidi

IMG 20260828 WA0008

SIDRAP, Trotoar.id Kemarau biasanya menjadi momok bagi petani. Debit air menyusut, lahan mulai mengering, dan musim panen terancam mundur.

Namun, kondisi berbeda terlihat di Kelurahan Kadidi, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Di tengah keterbatasan air, sejumlah petani di wilayah tersebut masih mampu mempertahankan aktivitas pertanian hingga memasuki masa panen. Kuncinya adalah program Listrik Masuk Sawah yang dilengkapi fasilitas pompa air.

Kehadiran listrik dan pompa air memungkinkan sumber air yang tersedia dialirkan ke lahan persawahan, sehingga tanaman tetap mendapatkan pasokan air meski musim kemarau mulai menekan ketersediaan air pertanian.

Program tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang di bawah kepemimpinan Bupati Syaharuddin Alrif, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kementerian Pertanian, dan PT PLN.

Bagi petani, fasilitas tersebut bukan sekadar infrastruktur tambahan. Pompa air menjadi penopang penting untuk menjaga keberlangsungan produksi ketika kondisi alam tidak bersahabat.

Berdasarkan data pertanian Kelurahan Kadidi, terdapat sekitar 120 hektare lahan sawah yang dikelola empat kelompok tani. Dari luasan tersebut, sekitar 5,5 hektare terdampak kemarau, sementara 114,5 hektare lainnya masih berada dalam tahap persiapan panen.

Sementara itu, lahan yang telah memasuki masa panen mencapai sekitar 8 hektare, dengan produktivitas berkisar 5 hingga 8 ton per hektare.

Untuk mendukung pengairan lahan, terdapat 13 titik pompanisasi OPLA nonrawa yang telah menggunakan tenaga listrik.

Kondisi tersebut membuat petani memiliki alternatif ketika pasokan air dari sistem pengairan konvensional mulai terbatas. Air dapat dipompa dan dialirkan ke lahan sesuai kebutuhan tanaman.

Ketua Gapoktan Asoka Kelurahan Kadidi, Muh. Amin Daif, mengaku bersyukur dengan keberadaan program tersebut.

Menurutnya, bantuan listrik dan pompa air memberikan manfaat langsung bagi petani, terutama ketika kemarau melanda.

“Syukur Alhamdulillah, berkat adanya bantuan listrik masuk sawah lengkap dengan pompa air, masih bisa panen di tengah kemarau,” ujar Muh. Amin Daif.

Bagi petani Kadidi, kemampuan mempertahankan panen di tengah kemarau menjadi sesuatu yang penting.

Sebab, keberlangsungan produksi bukan hanya berkaitan dengan hasil pertanian, tetapi juga menyangkut pendapatan dan keberlanjutan usaha tani masyarakat.

Program Listrik Masuk Sawah sekaligus menunjukkan bahwa penguatan infrastruktur pertanian dapat menjadi salah satu solusi menghadapi ancaman kekeringan dan perubahan pola musim.

Dengan dukungan listrik, pompa air, serta pengelolaan irigasi yang lebih adaptif, petani memiliki peluang lebih besar untuk menjaga produktivitas lahan ketika curah hujan menurun.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, Kementerian Pertanian, PLN, dan kelompok tani menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program tersebut.

Bagi Kabupaten Sidrap, upaya mempertahankan produksi pertanian di tengah kemarau juga memiliki arti strategis karena sektor pertanian menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat.

Keberadaan 13 titik pompanisasi berbasis listrik di Kelurahan Kadidi diharapkan dapat terus dioptimalkan sehingga semakin banyak lahan yang memperoleh manfaat.

Pada akhirnya, kemarau tidak harus selalu berarti berhentinya aktivitas pertanian. Dengan dukungan teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi lintas sektor, petani masih memiliki ruang untuk mempertahankan produksi.

Dari Kelurahan Kadidi, program Listrik Masuk Sawah menjadi gambaran bahwa ketika sumber daya air terbatas, inovasi dan kerja sama dapat menjadi jembatan agar sawah tetap hidup dan panen tetap berjalan. (*)

Exit mobile version