RAPPANG, Trotoar.id — Sebuah rekomendasi sederhana dari seorang teman pada 2020 menjadi titik awal perjalanan bisnis Dirga.
Dari langkah kecil itu, ia perlahan membangun usaha sendiri hingga akhirnya memiliki dua lini bisnis yang tidak hanya menjadi sumber penghasilan keluarga, tetapi juga membuka jalan rezeki bagi warga di sekitarnya.
Usaha pertama yang dirintis Dirga adalah Popsa Indonesia, bisnis yang bergerak sebagai supplier bahan minuman, syrup café, serta berbagai kebutuhan dan peralatan café.
Berawal dari usaha yang dijalankan secara bertahap, Dirga mulai memahami karakter pasar sekaligus membaca peluang yang lebih besar di industri makanan dan minuman atau food and beverage (F&B).
Enam tahun kemudian, pengalaman tersebut membawanya mengambil langkah baru. Pada 2026, Dirga mendirikan Chantea Indonesia, usaha minuman yang berlokasi di Jalan Andi Makkasau, Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).
Menariknya, dua bisnis tersebut tidak berdiri sendiri. Popsa Indonesia yang lebih dulu dirintis justru menjadi salah satu penopang Chantea Indonesia, terutama dalam penyediaan bahan baku.
Dengan pola tersebut, Dirga membangun ekosistem bisnis sederhana yang saling terhubung antara usaha supplier dan usaha minuman.
Perkembangan dua usaha itu perlahan mulai memberikan dampak di luar kepentingan bisnis keluarga. Popsa Indonesia kini mempekerjakan enam orang, sementara Chantea Indonesia memiliki lima tenaga kerja.
Dalam proses perekrutan, Dirga berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat Rappang dan Kabupaten Sidrap.
“Alhamdulillah, usaha ini sudah bisa memberikan kehidupan yang layak bagi keluarga,” ujar Dirga.
Bagi Dirga, keberhasilan usaha bukan hanya dihitung dari omzet atau pertumbuhan bisnis. Kemampuan menyediakan pekerjaan bagi orang lain menjadi pencapaian tersendiri.
Dari usaha yang dibangun secara bertahap, kini ada 11 orang yang menggantungkan penghasilan dari dua lini bisnis tersebut.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Dirga juga tidak berjalan sendirian. Ia bergabung sebagai member Tangan Di Atas (TDA) Sidrap, komunitas wirausaha yang menjadi ruang bagi para pelaku UMKM untuk memperluas jaringan, bertukar pengalaman, dan saling memberikan dukungan dalam menghadapi tantangan bisnis.
Pengalaman membangun usaha dari bawah membuat Dirga menyadari bahwa mempertahankan bisnis membutuhkan lebih dari sekadar modal.
Konsistensi, kedisiplinan membaca kebutuhan pasar dan keberanian mengambil peluang menjadi bagian penting dalam perjalanan usahanya.
Ke depan, Dirga tidak ingin dua usaha tersebut berhenti di Rappang. Ia menargetkan Popsa Indonesia dan Chantea Indonesia dapat berkembang dengan membuka cabang di kabupaten lain sehingga jangkauan bisnis sekaligus lapangan kerja yang tercipta semakin luas.
Ia juga berharap ekosistem UMKM di Sidrap semakin mendapat dukungan, terutama dalam hal akses permodalan. Menurutnya, kemudahan memperoleh pembiayaan dapat memberi ruang bagi lebih banyak pelaku usaha lokal untuk naik kelas, memperbesar bisnis dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Bagi anak muda yang masih ragu memulai usaha, Dirga memiliki pesan yang lahir dari pengalamannya sendiri. Menurutnya, tidak perlu menunggu semuanya sempurna untuk memulai. Yang terpenting adalah berani mengambil langkah pertama, kemudian konsisten menjalankannya.
“Mulai, tekuni, disiplin!” pesan Dirga.
Dari Rappang, cerita Dirga menunjukkan bahwa sebuah usaha tidak selalu harus dimulai dengan skala besar. Terkadang, cukup dengan keberanian memulai, kemauan belajar dan disiplin untuk bertahan, sebuah usaha kecil dapat berkembang menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus membuka jalan rezeki bagi orang lain.

