MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus memperluas investasi di sektor sumber daya manusia melalui program beasiswa pendidikan penerbangan.
Tahun ini, sebanyak 20 putra-putri Sulsel resmi dilepas untuk menempuh pendidikan sebagai calon taruna Program Studi Diploma IV (D4) di Politeknik Penerbangan Indonesia Curug (PPIC).
Pelepasan calon taruna berlangsung di Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Kota Makassar, Selasa (8/9/2026). Para taruna didampingi orang tua masing-masing sebelum bertolak untuk memulai pendidikan yang akan ditempuh selama empat tahun.
Ke-20 taruna tersebut merupakan putra-putri dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan yang telah melewati proses seleksi Pemerintah Provinsi Sulsel.
Mereka mendapatkan beasiswa pendidikan melalui program kerja sama Pemprov Sulsel dengan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia melalui Politeknik Penerbangan Indonesia Curug.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman mengatakan program tersebut bukan sekadar memberikan bantuan biaya pendidikan.
Lebih dari itu, beasiswa penerbangan merupakan bagian dari upaya pemerintah menyiapkan generasi muda Sulsel agar mampu mengisi kebutuhan sumber daya manusia di sektor transportasi udara.
Di hadapan para calon taruna dan orang tua, Andi Sudirman memberikan pengarahan sekaligus motivasi sebelum mereka memasuki lingkungan pendidikan penerbangan yang menuntut kedisiplinan, kemampuan akademik, fisik, dan mental.
“Harapan saya para calon mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah bisa menjadi representatif Sulawesi Selatan untuk menjadi pilot yang handal dan menjadi andalan Sulsel,” ujar Andi Sudirman.
Ia meminta para penerima beasiswa tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diperoleh. Pendidikan selama empat tahun, menurutnya, harus menjadi ruang untuk membangun kompetensi, karakter, kedisiplinan, serta berbagai kemampuan lain yang dapat menunjang masa depan mereka.
Andi Sudirman juga mengingatkan para taruna untuk menjaga nama baik Sulawesi Selatan selama berada di lingkungan pendidikan.
Mereka diharapkan tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga menunjukkan potensi dan keunggulan masing-masing.
“Pesan saya bagaimana menjaga nama baik Sulsel. Harus menunjukkan kelebihan masing-masing. Memiliki keterampilan, baik olahraga, fisik, hafidz Al-Qur’an, maupun leadership yang bagus,” tuturnya.
Menurutnya, keberhasilan seorang calon pilot tidak cukup hanya diukur dari kemampuan teknis. Integritas, kepemimpinan, ketahanan mental, kedisiplinan, serta kemampuan bekerja sama juga menjadi modal penting untuk membangun profesionalisme di dunia penerbangan.
Karena itu, Gubernur berharap seluruh penerima beasiswa mampu menyelesaikan pendidikan dengan prestasi terbaik.
Ia bahkan mendorong para taruna untuk tidak sekadar menjadi lulusan, tetapi berusaha menjadi lulusan terbaik yang mampu membawa nama Sulsel di tingkat nasional.
“Kuliah empat tahun, keluar dengan membanggakan. Menjadi lulusan terbaik, membanggakan orang tua dan membanggakan daerah,” katanya.
Andi Sudirman juga mengingatkan agar para taruna memanfaatkan seluruh fasilitas dan kesempatan pembelajaran selama berada di PPIC.
Setiap proses pendidikan, kata dia, harus menjadi bekal untuk menghadapi tuntutan profesional ketika nantinya memasuki dunia kerja.
Di luar persoalan akademik dan profesionalisme, Andi Sudirman menitipkan pesan mengenai pentingnya menjaga hubungan spiritual serta tidak melupakan peran orang tua selama menjalani pendidikan jauh dari keluarga.
“Perbanyak istigfar, doa keselamatan, dan doakan kedua orang tua. Sesungguhnya yang bisa mengubah takdir adalah doa dan restu kedua orang tua kita,” pesannya.
Program Beasiswa Penerbangan Pemprov Sulsel menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam membuka akses pendidikan bagi generasi muda sekaligus menyiapkan tenaga profesional untuk sektor-sektor strategis.
Pemerintah berharap investasi pendidikan tersebut nantinya memberikan dampak jangka panjang bagi pembangunan daerah.
Kebutuhan terhadap sumber daya manusia penerbangan juga semakin penting seiring posisi Sulawesi Selatan sebagai salah satu pusat konektivitas udara di kawasan Indonesia Timur.
Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menjadi salah satu simpul utama mobilitas penumpang dan distribusi logistik di kawasan tersebut, ditambah keberadaan sejumlah bandara domestik di berbagai wilayah Sulsel.
Dari 20 taruna yang dilepas hari ini, Pemprov Sulsel berharap lahir pilot-pilot muda yang tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga membawa identitas dan kebanggaan daerah.
Empat tahun ke depan menjadi perjalanan panjang bagi mereka untuk membuktikan bahwa beasiswa yang diberikan pemerintah dapat berbuah menjadi sumber daya manusia penerbangan yang unggul dan membanggakan Sulawesi Selatan.

