Site icon Trotoar.id

TEBAR III Guru Sekolah Minggu Gereja Toraja Digelar, Fatmawati Rusdi: Karakter Anak Harus Diperkuat Sejak Dini

MAKASSAR, Trotoar.id— Tantangan membentuk karakter anak semakin kompleks di tengah derasnya arus teknologi digital.

Media sosial, kecerdasan buatan hingga berbagai platform digital kini menjadi bagian dari kehidupan anak, sehingga pendidikan karakter tidak lagi cukup hanya mengandalkan ruang kelas.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi saat membuka Temu Akbar III Guru Sekolah Minggu Gereja Toraja (TEBAR III GSMGT) di Hotel Myko and Convention Center Makassar, Rabu (9/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung 9–12 September 2026 tersebut dibuka secara resmi dengan pemukulan gong.

Mengusung tema “Teguh Mengajar Karena Kristus”, TEBAR III GSMGT menjadi ajang perjumpaan sekaligus penguatan kapasitas para guru Sekolah Minggu Gereja Toraja dalam mendampingi anak.

Fatmawati menegaskan pendidikan karakter harus ditanamkan sejak usia dini. Menurutnya, guru memiliki posisi strategis dalam membangun nilai moral dan membentuk karakter anak sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.

“Ketika semangat itu ada dari para guru, lebih khusus lagi para guru Sekolah Minggu, saya yakin dan percaya masa depan anak bangsa menuju Indonesia Emas 2045 akan semakin baik,” kata Fatmawati.

Ia menyebut pembangunan sumber daya manusia saat ini menghadapi tantangan yang tidak sederhana.

Persoalan stunting, anak tidak sekolah, kekerasan dan kejahatan terhadap anak hingga perkembangan teknologi digital menjadi tantangan yang harus dihadapi secara bersama.

Karena itu, pendidikan karakter dinilai tidak boleh ditempatkan sebagai pelengkap. Pendidikan moral dan karakter harus menjadi bagian penting dari proses pendampingan anak sejak usia dini.

“Pendidikan karakter ini sangat penting sebagai perlindungan dan fondasi generasi masa depan menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Fatmawati juga meminta para guru Sekolah Minggu tidak terpaku pada metode lama. Perubahan karakter dan pola interaksi anak menuntut guru untuk terus beradaptasi agar proses pembelajaran dan pelayanan tetap menarik serta relevan.

“Bapak/Ibu lebih kreatif, inovatif, dan konseptual dalam mendampingi anak-anak sesuai perkembangan zaman. Tidak kalah pentingnya memberikan pendidikan moral dan karakter,” tuturnya.

Dalam forum tersebut, Fatmawati juga membuka dialog dengan perwakilan enam wilayah pelayanan Gereja Toraja.

Sejumlah aspirasi disampaikan peserta, mulai dari kebutuhan insentif guru Sekolah Minggu, pemenuhan guru agama Kristen di sekolah umum, fasilitas tempat ibadah, penguatan materi sejarah peradaban Kristen hingga pendidikan inklusi bagi anak berkebutuhan khusus.

Fatmawati menyampaikan Pemerintah Provinsi Sulsel terus mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.

Sejumlah program, termasuk beasiswa dan peningkatan kompetensi guru, terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya tersebut.

Ia juga mengapresiasi Pengurus Pusat Sekolah Minggu Gereja Toraja yang memilih Makassar dan Sulsel sebagai tuan rumah TEBAR III GSMGT. Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan keberagaman yang menjadi kekuatan Sulsel.

“Inilah rumah kita bersama yang selalu mengedepankan kebersamaan, kekeluargaan, dan keberagaman,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pengurus Pusat Sekolah Minggu Gereja Toraja Pdt. Syukur Matasak menilai perkembangan teknologi telah mengubah cara anak memperoleh informasi.

Kondisi tersebut membuat guru harus terus belajar agar mampu memberikan pendampingan yang sesuai dengan karakter generasi saat ini.

“Guru hendaknya terus berupaya mengembangkan potensi dan kompetensinya. Anak-anak sekarang kadang-kadang kita belum tahu sesuatu, dia sudah lebih dulu tahu,” ujarnya.

Ketua Umum Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja Pdt. Dr. Alfred Y.R. Anggui menambahkan, tantangan pendidikan anak kini telah masuk hingga ruang privat melalui media sosial, kecerdasan buatan, algoritma dan berbagai ekosistem digital.

Menurutnya, gereja tidak boleh berada di luar perubahan tersebut. Pendampingan anak membutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah dan gereja agar pembentukan karakter tetap berjalan di tengah derasnya arus informasi.

“Gereja harus hadir di sana. Sekolah Minggu harus hadir di sana. Untuk turut memberikan perhatian bagi seluruh anak-anak kita,” ujarnya.

TEBAR III GSMGT diikuti sekitar 1.238 peserta dari berbagai wilayah pelayanan Gereja Toraja. Selain seminar dan dinamika kelompok, kegiatan tersebut juga diarahkan menghasilkan rekomendasi untuk pengembangan pelayanan anak yang kreatif, inovatif, kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman.

Rangkaian kegiatan sebelumnya telah diawali aksi donor darah pada 18 Juli 2026 serta bakti sosial di Kabupaten Jeneponto pada 29 Agustus 2026.

Bakti sosial tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan gratis, penanaman dan pembagian pohon serta edukasi pencegahan stunting.

Pembukaan TEBAR III GSMGT turut dimeriahkan parade enam wilayah pelayanan Gereja Toraja yang menampilkan keberagaman budaya melalui busana dan atribut khas masing-masing wilayah.

Enam wilayah tersebut yakni Tanalu, Rantepao, Makale, Makassar dan Jawa, Kalimantan, serta Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat.

Melalui TEBAR III GSMGT, para guru Sekolah Minggu diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas pelayanan, tetapi juga mampu menjadi bagian dari benteng pendidikan karakter anak di tengah perubahan teknologi dan tantangan sosial yang semakin kompleks.

Exit mobile version