Site icon Trotoar.id

Dubes Swiss Buka Peluang Tambah Pasokan Kopi dan Kakao dari Sulsel

IMG 20260924 WA0052 scaled

MAKASSAR, Trotoar.id — Peluang investasi dan perluasan pasar komoditas unggulan Sulawesi Selatan dibahas Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi bersama Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN Konstantin Obolensky.

Pertemuan berlangsung di atas Kapal Phinisi KLM Makessing, Pantai Losari, Makassar, Rabu (23/9/2026), dengan membahas sejumlah sektor potensial, mulai dari rumput laut, kopi, kakao, hingga pengembangan ekonomi berkelanjutan.

Dalam pertemuan tersebut, Fatmawati juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Swiss melalui State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan International Labour Organization (ILO) terhadap pengembangan sektor rumput laut Sulsel melalui program e-Seaweed yang didukung ILO PROMISE II IMPACT.

“Terima kasih atas dukungan dan bantuan yang telah diberikan kepada 200 petani rumput laut lokal kami. Kontribusi ini tidak hanya memperkuat mata pencaharian masyarakat, tetapi juga menjadi landasan untuk mempererat persahabatan dan kerja sama berorientasi masa depan antara Swiss dan Sulawesi Selatan,” kata Fatmawati.

Menurut Fatmawati, Sulsel memiliki potensi ekonomi yang besar pada sektor kelautan, pertanian, pariwisata, hingga energi baru dan terbarukan.

Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah rumput laut. Pada 2024, produksi rumput laut Sulsel mencapai 180.432 ton, yang tersebar di sejumlah wilayah pesisir, termasuk Kabupaten Luwu, Takalar, dan Wajo.

Pemprov Sulsel, kata Fatmawati, tidak ingin pengembangan rumput laut berhenti pada penjualan bahan mentah.

Pemerintah mendorong hilirisasi melalui pengembangan produk bernilai tambah, seperti karagenan, agar-agar, alginat, bahan farmasi, hingga bioplastik.

“Potensi hilirisasi rumput laut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah daerah melalui pembangunan pabrik pengolahan terpadu, seperti karagenan, agar-agar dan alginat, serta penyediaan cold storage dan rantai dingin ekspor,” ujarnya.

Selain rumput laut, Fatmawati turut memperkenalkan komoditas unggulan Sulsel lainnya kepada delegasi Swiss, di antaranya kakao, kopi, dan garam.

Produksi kakao Sulsel pada 2025 tercatat 79.740 ton, sedangkan produksi kopi mencapai 30.665 ton.

Kopi Sulsel antara lain berasal dari Kabupaten Enrekang, Toraja Utara, dan Tana Toraja. Sementara produksi garam mencapai lebih dari 30.900 ton, dengan Jeneponto sebagai salah satu sentra utama.

Fatmawati mengatakan potensi tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih besar apabila didukung investasi dan kemitraan yang tepat.

“Seluruh potensi besar ini akan semakin memberikan dampak nyata jika didorong oleh investasi dan kemitraan yang tepat. Melalui Dinas PMPTSP, kami siap mempermudah proses perizinan dan memberikan kenyamanan bagi para investor asal Swiss untuk berinvestasi di Sulawesi Selatan,” tegasnya.

Duta Besar Swiss Konstantin Obolensky menyambut positif kerja sama yang telah terjalin dengan Sulsel, khususnya dalam pengembangan sektor rumput laut.

Menurutnya, peluang kerja sama dapat diperluas ke komoditas lain, termasuk kopi dan kakao. Swiss juga membuka kemungkinan peningkatan pasokan bahan baku dari Sulsel melalui jejaring importir dan produsen asal Swiss.

“Saya sangat bangga melihat bahwa kita bekerja sama dengan sangat erat dalam dimensi rumput laut ini. Saya sangat berharap para importir dan produsen asal Swiss dapat menemukan mitra dialog untuk membahas apakah mereka bisa mengambil lebih banyak pasokan bahan baku dari provinsi Anda yang indah ini,” ujar Konstantin.

Konstantin juga menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam Sulsel. Menurutnya, perlindungan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan kelestarian alam, tetapi juga kesehatan dan masa depan generasi mendatang.

Sementara itu, Country Director ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste Simrin Singh mengatakan ILO melihat peluang memperluas kerja sama di Sulsel, terutama pada bidang ketenagakerjaan, UMKM, pariwisata, dan pengembangan rantai nilai rumput laut.

Saat ini, program tersebut telah mendampingi 200 petani rumput laut dan membuka peluang perluasan pendampingan hingga 2.000 petani.

“Tujuannya adalah melahirkan sektor rumput laut yang lebih sejahtera, lebih baik dan lebih berdaya saing melalui instrumen serta pengetahuan yang dimiliki,” ujarnya.

Head of Economic Cooperation and Development SECO Indonesia Violette Ruppanner menambahkan, kerja sama Swiss dengan Sulsel telah mencakup sejumlah sektor, mulai dari pengembangan keterampilan vokasi, energi terbarukan, bangunan hijau, hingga penguatan iklim usaha.

SECO juga mendukung pengembangan keterampilan energi terbarukan melalui proyek Renewable Energy Skills Development yang beraktivitas di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Kerja sama Swiss-Sulsel juga mencakup dukungan terhadap Kota Makassar dalam penyusunan konsep Bus Rapid Transit (BRT) dan perencanaan ketahanan kota.

Pertemuan tersebut ditutup dengan santap malam bersama dan penyerahan cenderamata khas Sulawesi Selatan.

Tahun 2026 sekaligus menandai 75 tahun hubungan diplomatik Swiss dan Indonesia, dengan kerja sama kedua negara mencakup perdagangan, investasi, pendidikan, sains dan inovasi, keberlanjutan, budaya, serta pariwisata.

Lebih dari 150 perusahaan Swiss tercatat beroperasi di Indonesia. Hubungan ekonomi kedua negara juga diperkuat melalui EFTA-Indonesia Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) serta keberadaan Konsulat Kehormatan Swiss di Makassar. (*)

Exit mobile version