Site icon Trotoar.id

Jufri Rahman Serukan Lima Gerakan di Festival Adat Nusantara: Dari Warisan Menuju Kekuatan Masa Depan

MAKASSAR, Trotoar.id — Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Jufri Rahman menyerukan lima gerakan strategis kepada Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) untuk menghadapi perubahan zaman.

Lima gerakan tersebut meliputi regenerasi adat, penguatan ekonomi berbasis budaya, digitalisasi budaya, pelestarian lingkungan, serta diplomasi budaya Nusantara.

Gagasan itu disampaikan Jufri saat menghadiri Festival Adat Budaya Nusantara (FABN) ke-VIII Sulawesi Selatan 2026 sekaligus peringatan satu dekade MATRA di Hotel Claro Makassar, Senin (28/9/2026).

Festival yang berlangsung 27–29 September 2026 tersebut menjadi momentum bagi Jufri untuk mengingatkan bahwa tantangan masyarakat adat saat ini telah berubah.

Teknologi digital, globalisasi, dan perkembangan ekonomi kreatif ikut mengubah cara generasi muda berinteraksi dengan budaya.

“Pertanyaannya apa yang dilakukan MATRA sepuluh tahun ke depan,” kata Jufri.

Menurutnya, sebagian tradisi mulai kehilangan ruang dalam kehidupan generasi muda.

Karena itu, masyarakat adat tidak cukup hanya menjadi penjaga masa lalu, tetapi juga harus mengambil peran dalam membentuk masa depan dengan menjadikan kearifan Nusantara sebagai kekuatan.

Gerakan pertama yang ditawarkan Jufri adalah regenerasi adat. Ia mendorong agar generasi muda tidak hanya mengenal tradisi melalui buku atau seremoni, tetapi terlibat langsung sebagai pelaku kebudayaan.

“Jadikan anak muda kita sebagai pelaku, bukan sebagai penonton,” ucap Jufri.

Gerakan kedua adalah ekonomi berbasis budaya. Menurutnya, warisan budaya harus mampu memberikan nilai tambah ekonomi sehingga masyarakat yang menjaga dan mewarisinya juga memperoleh manfaat kesejahteraan.

“Warisan budaya harus mampu menciptakan kesejahteraan karena tanpa kesejahteraan budaya itu akan terkikis oleh zaman,” kata dia.

Selanjutnya, Jufri mendorong digitalisasi budaya. Dokumentasi dinilai penting agar pengetahuan adat tidak hilang di tengah perubahan generasi.

“Ini harus menjadi tanggung jawab MATRA. Jangan sampai generasi masa depan kita mengenal budaya Nusantara dari pihak lain sementara kita sendiri kehilangan arsip tentang jati diri kita,” ujarnya.

Menurut Jufri, berbagai pengetahuan lokal seperti bahasa, seni, sejarah, permainan tradisional, kuliner, hingga kearifan lokal lainnya perlu didokumentasikan dan diwariskan melalui teknologi digital.

Gerakan keempat adalah adat menjaga lingkungan. Jufri melihat masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun dan dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta krisis sumber daya alam.

Sedangkan gerakan kelima yang disebutnya paling penting adalah diplomasi budaya Nusantara. Jufri mendorong MATRA memperluas jejaring budaya hingga ke tingkat global melalui kolaborasi dengan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI).

“Kelima dan yang terpenting adalah gerakan diplomasi budaya Nusantara. Jadi inilah lima besar untuk MATRA berkolaborasi dengan Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) yang saya pimpin,” ungkap Jufri.

Jufri juga mengingatkan agar peringatan satu dekade MATRA tidak berhenti pada agenda seremonial. Menurutnya, momentum tersebut harus menghasilkan gerakan nyata yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Jangan berhenti pada seremoni semacam ini. Jika Anda hanya berhenti pada seremoni maka, siap-siaplah bagian dari sejarah,” katanya.

Ia kemudian mengajak MATRA menjadikan satu dekade kedua sebagai fase baru untuk memperkuat posisi masyarakat adat dalam pembangunan.

“Hanya tercatat dalam sejarah tetapi tidak menuliskan sejarah untuk kita wariskan kepada anak cucu kita,” jelasnya.

Bagi Jufri, keberagaman budaya Nusantara bukanlah alasan untuk terpecah. Sebaliknya, kekayaan tradisi dan identitas masyarakat adat dapat menjadi modal untuk memperkuat persatuan.

“Sekarang ini, mari kita jadikan sepuluh tahun kedua sebagai dekade kebangkitan masyarakat adat. Dari pelestarian menuju ke pemberdayaan, dari seremoni menjadi aksi, dari lokal menjadi global, dari warisan masa lalu menuju kekuatan masa depan,” tandasnya.

Festival Adat Budaya Nusantara ke-VIII Sulawesi Selatan 2026 dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku adat, di antaranya Ketua Dewan Pendiri MATRA Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Mangku Alam II, Ketua Umum DPP MATRA KPH Andi Bau Malik Barammamase Karaenta Tukkajannangang Satrio Sasmita, serta Wakil Bupati Sidenreng Rappang Nurkanaah.

Exit mobile version