Site icon Trotoar.id

Mappadendang di Buae, Tradisi Panen yang Merawat Syukur dan Kebersamaan

IMG 20261005 WA0025

SIDRAP, TROTOAR.ID — Suara alu beradu dengan lesung. Irama khas itu terdengar di tengah riuh warga Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Ahad (4/10/2026).

Di rumah Wa’ Dewe, masyarakat berkumpul merayakan Mappadendang. Bukan sekadar pesta setelah panen, tradisi turun-temurun itu menjadi ruang bagi warga untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus merawat kebersamaan.

Suasana penuh kegembiraan terasa sejak rangkaian kegiatan dimulai. Warga datang, bersilaturahmi, menyaksikan prosesi tradisi, dan menikmati kebersamaan yang menjadi bagian penting dari Mappadendang.

Di tengah suasana tersebut, Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Syaharuddin Alrif hadir langsung bersama masyarakat Desa Buae.

Kehadiran orang nomor satu di Sidrap itu menambah hangat suasana pesta panen. Ia turut menyaksikan masyarakat mempertahankan salah satu tradisi yang masih hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Bagi masyarakat Buae, Mappadendang memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar perayaan hasil pertanian. Di balik bunyi alu dan lesung, tersimpan pesan tentang rasa syukur, persaudaraan dan gotong royong.

Syaharuddin mengapresiasi masyarakat Desa Buae yang terus menjaga tradisi tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.

“Mappadendang ini bukan hanya pesta setelah panen. Ini adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah atas hasil yang telah diberikan. Yang paling penting, tradisi seperti ini mampu mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan,” ujar Syaharuddin.

Menurutnya, tradisi yang terus dipelihara masyarakat memiliki nilai penting bagi kehidupan sosial.

Sebab, budaya tidak hanya berbicara tentang warisan masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertemukan masyarakat di tengah kehidupan yang terus berubah.

“Kalau masyarakat berkumpul seperti ini, kita bisa merasakan kebersamaan. Tradisi seperti Mappadendang harus terus kita rawat, karena ini adalah bagian dari identitas masyarakat kita,” katanya.

Syaharuddin juga mengingatkan bahwa rasa syukur atas hasil panen harus menjadi energi untuk terus meningkatkan produktivitas pertanian.

Menurutnya, hasil panen bukanlah akhir dari proses, melainkan bagian dari perjalanan untuk terus bekerja, meningkatkan produksi, dan memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu penopang kehidupan masyarakat.

“Setelah kita bersyukur atas hasil panen, mari kita terus bekerja dan meningkatkan hasil pertanian. Pemerintah akan terus berupaya hadir bersama masyarakat, terutama dalam mendukung sektor pertanian,” tuturnya.

Mappadendang di Buae pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar pesta panen. Ia menjadi ruang perjumpaan warga, tempat silaturahmi dirawat dan nilai-nilai kebersamaan kembali diteguhkan.

Di tengah kemeriahan, generasi tua dan muda bertemu dalam satu tradisi. Bunyi alu dan lesung menjadi penanda bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat hari ini.

Dari Buae, Mappadendang kembali mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus membuat tradisi ditinggalkan. Justru melalui budaya, masyarakat menemukan cara sederhana untuk terus bersyukur, berkumpul dan menjaga ikatan sosial.

Sebab selama masyarakat masih mau berkumpul dan merawat tradisi, Mappadendang akan tetap hidup—bukan hanya sebagai ritual panen, tetapi sebagai bagian dari identitas dan kebersamaan masyarakat Buae.

Exit mobile version