BULUKUMBA, TROTOAR.ID — Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf meminta seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Bulukumba turun tangan menyukseskan Festival Pinisi.
Ia menegaskan, festival yang mengangkat identitas maritim dan budaya Bulukumba tersebut bukan sekadar agenda Dinas Pariwisata, melainkan milik seluruh daerah.
Pesan itu disampaikan Andi Utta, sapaan akrabnya, saat memberikan amanat pada Apel Gabungan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lingkup Pemkab Bulukumba di halaman Kantor Bupati Bulukumba, Senin (5/10/2026).
Menurut Andi Utta, Festival Pinisi membawa nama Bulukumba secara keseluruhan. Karena itu, seluruh OPD diminta mengambil bagian sesuai tugas dan fungsinya agar pelaksanaan festival tidak hanya sukses secara acara, tetapi juga mampu memperkuat citra daerah.
“Festival Pinisi ini adalah agendanya Bulukumba, agenda kita semua, bukan hanya agendanya Dinas Pariwisata. Saya minta semuanya berpartisipasi menyukseskan Festival Pinisi,” tegasnya.
Ia menekankan, keberhasilan festival nantinya bukan hanya menjadi capaian satu perangkat daerah. Kesuksesan kegiatan tersebut akan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Bulukumba.
“Ketika kegiatan ini sukses, bukan satu OPD saja yang punya nama, tapi satu Bulukumba. Jadi semua harus ikut terlibat,” ujarnya.
Andi Utta juga meminta Festival Pinisi dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkenalkan identitas dan kekayaan budaya Bulukumba kepada masyarakat luas.
Menurutnya, Pinisi sebagai ikon daerah serta budaya adat Ammatoa Kajang merupakan bagian penting dari identitas Bulukumba yang harus terus dijaga dan diperkenalkan.
Karena itu, ia meminta seluruh jajaran pemerintah daerah ikut menjaga wajah daerah, terutama kebersihan di sepanjang jalur yang menjadi akses menuju destinasi wisata.
Ia secara khusus menyoroti masih ditemukannya sampah plastik di sejumlah titik jalan poros menuju kawasan wisata.
“Saya ingatkan, tolong jangan buang sampah di jalan poros Bira-Bonto Bahari, termasuk di sekitar jalan Bijawang yang sering ada sampah plastik. Tolong jangan jorok. Bulukumba ini milik kita bersama,” katanya.
Menurutnya, persoalan kebersihan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan wisata yang bersih dan nyaman.
“Jangan buang sampah. Ingatkan keluarga dan warga sekitar kita. Jangan buang sampah di jalan poros karena sangat jorok. Ini juga menjadi bahan evaluasi bagi kita untuk saling menjaga kebersihan,” pesannya.
Andi Utta mengaitkan kebersihan destinasi dengan potensi peningkatan kunjungan wisatawan.
Destinasi seperti Tanjung Bira dan kawasan wisata lainnya, kata dia, harus ditunjang lingkungan yang bersih, rapi dan nyaman.
“Bira dan tempat wisata lainnya, jangan harap banyak kunjungan kalau tidak bersih dan rapi,” tegasnya.
Ia menjelaskan, peningkatan kunjungan wisatawan akan memberikan dampak berantai terhadap perekonomian masyarakat.
Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula peluang transaksi bagi UMKM, pedagang, pelaku usaha jasa, transportasi hingga sektor akomodasi.
“Multiplier effect-nya luar biasa. Jika kunjungan banyak, transaksi ikut banyak, maka ekonomi masyarakat lebih hidup. Tetapi kalau kunjungan sepi, jangan harap ekonomi lebih baik,” jelasnya.
Dalam amanatnya, Bupati Bulukumba juga mengingatkan jajaran pemerintah daerah agar tidak bekerja sekadar menggugurkan kewajiban.
Setiap program, kata dia, harus dievaluasi dari sisi kualitas dan manfaatnya bagi masyarakat. Inovasi juga harus menjadi bagian dari budaya kerja pemerintahan.
“Jangan hanya menggugurkan kewajiban, tapi kita dituntut untuk berinovasi. Kita harus evaluasi apa yang sudah dikerjakan, apakah sudah berkualitas atau belum? Apakah program yang dijalankan berdampak kepada masyarakat atau tidak?” katanya.
Pesan serupa disampaikan Andi Utta terkait pelaksanaan Jambore Pelayanan Publik yang saat ini menyasar desa dan kecamatan.
Menurutnya, pola pelayanan dengan membawa langsung berbagai layanan pemerintah lebih dekat kepada masyarakat merupakan langkah yang perlu terus dievaluasi agar benar-benar memberikan kemudahan.
“Apakah masyarakat terbantu dengan pelayanan kita, termasuk Jambore Pelayanan Publik? Kita harus evaluasi kalau masih ada yang kurang. Mungkin ada antrean yang panjang sehingga masyarakat kurang terlayani secara maksimal. Ini yang harus dievaluasi terus-menerus di setiap kegiatan,” ujarnya.
Ia menegaskan, evaluasi bukan bertujuan mencari kesalahan, tetapi menjadi bahan pembelajaran untuk memperbaiki kualitas pelayanan pada kegiatan berikutnya.
“Kenapa? Karena ini pembelajaran untuk lebih baik lagi, sehingga masyarakat bisa terlayani dengan optimal. Sekali lagi, Jambore ini bukan untuk buang-buang waktu di desa dan kecamatan selama dua hari tapi kurang maksimal,” tegasnya.
Bupati berharap Jambore Pelayanan Publik benar-benar menjadi instrumen untuk mendekatkan pemerintah dengan masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Menutup amanatnya, Andi Utta mengingatkan jajaran pemerintah daerah agar tidak cepat berpuas diri meski berbagai inovasi mendapat respons positif dari masyarakat maupun media sosial.
Ia mendorong agar evaluasi, inovasi, kolaborasi dan orientasi pada pelayanan menjadi budaya kerja seluruh jajaran Pemkab Bulukumba.
Termasuk dalam menyukseskan Festival Pinisi, seluruh OPD diminta bergerak bersama agar agenda tersebut tidak hanya menjadi festival tahunan, tetapi juga menjadi momentum menjaga heritage, memperkuat identitas daerah dan menggerakkan ekonomi masyarakat Bulukumba.

