News

Pancasila telah Terkubur: Perlukah Menggali Kuburannya ?

OLEH : TAUFIK HUSAINI KETUA UMUM BADKO HMI SULSELBAR

TROTOAR.ID, MAKASSAR — 1 Juni adalah hari lahir pancasila, terlahir sebagai sebuah system nilai yang menjadi pegangan seluruh manusia yang hidup di negeri Indonesia. Tidak jarang hari kelahiran itu selalu di peringati di setiap tahunnya oleh mereka yang sadar akan waktu kelahiran dari pancasila tersebut. Tetapi menjadi sebuah masalah apabila memperingati kelahiran jika tidak di ikuti oleh kesadaran mendalam tentang maksud terlahirnya pancasila.

Kesadaran merupakan pemantik untuk menemukan sebuah kebenaran sejarah kelahiran pancasila sebab tanpa itu maka pancasila menjadi “yatim piatu”. Yatim piatu merupakan kelahiran yang tidak dianggap dan tidak berarti bagi kehidupan manusia Indonesia.

Tanpa kesadaran kita akan kesulitan menemukan kebenaran sejarah kelahiran pancasila, dan semestinya sila-sila pancasila tidak sekedar menjadi pajangan yang luput dari perdebatan akademis, sarjana, ilmuwan, intelektual di negeri ini. Karena kelahiran serta penetapan pancasila di awal terbentuknya negeri Indonesia ini melalui perdebatan panjang berbagai golongan, mulai dari golongan agamawan, akademis, intelektual, sarjana serta ilmuwan yang berakhir pada penetapan menjadi payung universal yang melindungi hak-hak seluruh manusia yang hidup dan berinteraksi di dalamnya.

Juga pancasila yang di tetapkan sebagai ideology kebangsaan ini tidak luput dari pergulatan panjang bersama ideologi lain. Ada komunisme, kolonialisme, kapitalisme, islamisme, masing-masing berlomba menyumbangkan gagasan besar untuk di jadikan pegangan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat menghadapi dilema panjang dari percaturan berbagai ideology yang ada. Karena Indonesia pada masa awal kelahiran ini menjadi arena percaturan berbagai macam ideologi bahkan hari ini masih belum sepenuhnya di rasakan hangatnya kehidupan yang dipayungi oleh pancasila.

Pancasila adalah anak kandung manusia Indonesia yang merupakan titipan leluhur nenek-moyang sejak masa kerajaan yang kita mengenalnya sebagai nusantara. Interaksi-interaksi yang berlangsung dari awal nusantara menggunakan interaksi keagamaan dan kebudayaan sebagai akar nilai kearifan tradisional leluhur yang begitu menjunjung tinggi kemanusiaan. Hal ini berlangsung hingga kelahiran bangsa Indonesia di tahun 20an yang tandai oleh sejarah sebagai “Sumpah Pemuda” yang menjunjung tinggi harkat, martabat kemanusiaan dan konsekuensi dari adanya kolonialisme untuk menghasilkan proses musyawarah untuk mufakat hingga pecahnya revolusi yang berujung dengan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan pada agustus 1945 dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita tempati hidup ini.

Pancasila bukanlah sekedar sebuah ideologi yang menggantung cita-cita manusia melainkan payung universal yang memiliki akar filosofis dari segala rantai kesejarahan manusia Indonesia. Maka sepatutnya generasi muda kembali kepada hakikat menjadi generasi muda yang bertanggungjawab serta memiliki andil penting untuk merumuskan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kembali menggali kembali pancasila yang telah terkubur dari kesalahan sejarah atas kerja colonial membolak-balikkan kebenarannya.

Satu hal yang penting untuk di mengerti adalah pancasila tidak boleh luput dari diskusi ilmiah, dan seharusnya generasi muda memperbesar suara dan urat sarafnya untuk menyampaikan pidato-pidato pancasila di semua forum yang melibatkan, sarjana muda, ilmuwan, akademisi, intelektual, interpreneur, bahkan rakyat jelata agar pemangku kebijakan sadar dasar kelahiran pancasila yang berakar dari dialektika kehidupan seluruh manusia Indonesia.

1 juni bukanlah ritus-ritus yang tidak bermakna tetapi 1 juni menjadi cikal bakal memahami kembali asal kelahiran pancasila yang berhubungan erat dengan rakyat, air, udara, tanah Indonesia. Seperti ramadhan sebagai bulan pembakaran segala dimensi tercela manusia juga generasi muda perlu membakar seluruh aliran sejarah yang salah atas usaha colonial merusak manusia Indonesia bersama sejarahnya.

Pancasila telah Terkubur: Perlukah Menggali Kuburannya ?

1 Juni adalah hari lahir pancasila, terlahir sebagai sebuah system nilai yang menjadi pegangan seluruh manusia yang hidup di negeri Indonesia. Tidak jarang hari kelahiran itu selalu di peringati di setiap tahunnya oleh mereka yang sadar akan waktu kelahiran dari pancasila tersebut. Tetapi menjadi sebuah masalah apabila memperingati kelahiran jika tidak di ikuti oleh kesadaran mendalam tentang maksud terlahirnya pancasila.

Kesadaran merupakan pemantik untuk menemukan sebuah kebenaran sejarah kelahiran pancasila sebab tanpa itu maka pancasila menjadi “yatim piatu”. Yatim piatu merupakan kelahiran yang tidak dianggap dan tidak berarti bagi kehidupan manusia Indonesia.

Tanpa kesadaran kita akan kesulitan menemukan kebenaran sejarah kelahiran pancasila, dan semestinya sila-sila pancasila tidak sekedar menjadi pajangan yang luput dari perdebatan akademis, sarjana, ilmuwan, intelektual di negeri ini. Karena kelahiran serta penetapan pancasila di awal terbentuknya negeri Indonesia ini melalui perdebatan panjang berbagai golongan, mulai dari golongan agamawan, akademis, intelektual, sarjana serta ilmuwan yang berakhir pada penetapan menjadi payung universal yang melindungi hak-hak seluruh manusia yang hidup dan berinteraksi di dalamnya.

Juga pancasila yang di tetapkan sebagai ideology kebangsaan ini tidak luput dari pergulatan panjang bersama ideologi lain. Ada komunisme, kolonialisme, kapitalisme, islamisme, masing-masing berlomba menyumbangkan gagasan besar untuk di jadikan pegangan oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat menghadapi dilema panjang dari percaturan berbagai ideology yang ada. Karena Indonesia pada masa awal kelahiran ini menjadi arena percaturan berbagai macam ideologi bahkan hari ini masih belum sepenuhnya di rasakan hangatnya kehidupan yang dipayungi oleh pancasila.

Pancasila adalah anak kandung manusia Indonesia yang merupakan titipan leluhur nenek-moyang sejak masa kerajaan yang kita mengenalnya sebagai nusantara. Interaksi-interaksi yang berlangsung dari awal nusantara menggunakan interaksi keagamaan dan kebudayaan sebagai akar nilai kearifan tradisional leluhur yang begitu menjunjung tinggi kemanusiaan. Hal ini berlangsung hingga kelahiran bangsa Indonesia di tahun 20an yang tandai oleh sejarah sebagai “Sumpah Pemuda” yang menjunjung tinggi harkat, martabat kemanusiaan dan konsekuensi dari adanya kolonialisme untuk menghasilkan proses musyawarah untuk mufakat hingga pecahnya revolusi yang berujung dengan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan pada agustus 1945 dan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita tempati hidup ini.

Pancasila bukanlah sekedar sebuah ideologi yang menggantung cita-cita manusia melainkan payung universal yang memiliki akar filosofis dari segala rantai kesejarahan manusia Indonesia. Maka sepatutnya generasi muda kembali kepada hakikat menjadi generasi muda yang bertanggungjawab serta memiliki andil penting untuk merumuskan masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan kembali menggali kembali pancasila yang telah terkubur dari kesalahan sejarah atas kerja colonial membolak-balikkan kebenarannya.

Satu hal yang penting untuk di mengerti adalah pancasila tidak boleh luput dari diskusi ilmiah, dan seharusnya generasi muda memperbesar suara dan urat sarafnya untuk menyampaikan pidato-pidato pancasila di semua forum yang melibatkan, sarjana muda, ilmuwan, akademisi, intelektual, interpreneur, bahkan rakyat jelata agar pemangku kebijakan sadar dasar kelahiran pancasila yang berakar dari dialektika kehidupan seluruh manusia Indonesia.

1 juni bukanlah ritus-ritus yang tidak bermakna tetapi 1 juni menjadi cikal bakal memahami kembali asal kelahiran pancasila yang berhubungan erat dengan rakyat, air, udara, tanah Indonesia. Seperti ramadhan sebagai bulan pembakaran segala dimensi tercela manusia juga generasi muda perlu membakar seluruh aliran sejarah yang salah atas usaha colonial merusak manusia Indonesia bersama sejarahnya.

Suriadi

Share
Published by
Suriadi

BERITA TERKAIT

Bupati Sidrap Apresiasi Peran Gemes Squad dalam Memajukan Ekonomi Kreatif Lokal

SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang, Syaharuddin Alrif, menghadiri puncak peringatan Hari Ulang Tahun (Anniversary)…

15 jam ago

Munafri: Muslim Life Fair Jadi Momentum UMKM Naik Kelas di Makassar

Walikota .akadsar, Munafri Arifuddin

18 jam ago

Serius Tangani Anak Putus Sekolah, Wali Kota Munafri Kerahkan Tim ATS Jemput Siswa Kembali Sekolah

MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan…

19 jam ago

TP PKK Sulsel Gelar Rakor, Bahas Program Pokok dan Persiapan Agenda Nasional 2026

JENEPONTO, TROTOAR.ID — Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Selatan menggelar rapat koordinasi (rakor) dengan fokus…

21 jam ago

Walk Out dari Mubes, IKAFE Ingin IKA Unhas Lebih Berdampak

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Musyawarah Besar (Mubes) IKA Unhas yang digelar pada 1–3 Mei 2026 di…

23 jam ago

Optimisme Bupati Sidrap di MRS Celebes 2026: Dari Lokal Menuju Internasional

SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang yang juga Ketua Harian Ikatan Motor Indonesia Sulawesi Selatan,…

24 jam ago

This website uses cookies.