Daerah

Demi Mengisi Perut, Macaca Maura Melawan Maut

TROTOAR.ID, MAROS – Macaca kelaparan dan keluar melawan maut. Persediaan makanan di hutan Karaenta tak mampu mensubsidi kera kera itu. Ia terpaksa keluar, mencari rezeki. Apapun ia makan dari gorengan, apel dan paling lezat adalah buah yang matangnya berwarna kuning.

Macaca akan menyapa kita saat melintas di jalan poros Camba-Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel).

TN Babul telah memasang pesan gambar di pinggir jalan. Bacanya jelas, tak boleh memberi makan kera.

Ini kabar yang sangat miris ketika kita melintas ke sana. Ini soal masa depan fauna Indonesia.

Dari rimbunnya Hutan Karaenta yang terletak dalam pegunungan Bulu Saraung menyimpan kekhawatiran yang lebih. Ini menyangkut kelangsungan fauna di dalamnya.

Perlu kita ketahui, bahwa semakin sering kita singgah dan iba kepada kera itu, maka maut juga semakin dekat dengan menghampirinya.

Ia akan lupa lebih mengingat aspal dan suara bising mikrolet ketimbang pohon pohon rindang dan suara indah dalam hutan.

Kera itu akan semakin sering untuk keluar dan lupa untuk pulang ke habitat.

Macaca maura merupakan salah satu satwa endemik yang mulai terancam punah dan tentu ini tak ada di hutan hutan lain.  Macaca maura ini pula tak dijual belikan di negeri lahirnya kera. Pula tak dijual belikan di mol pun di pasar sentral hewan.

Macaca Maura hampir punah, jumlahnya sekitar 40-50 ekor lagi, dan saat saya melintas ada mayat kera yang sudah kering dan membusuk di jalan raya.

Sungguh Macaca Dalam Bahaya

Tentu kita khawatir jika itu semua terjadi. Anak cucu kita hanya mendengarkan ayahnya bercerita bahwa dulu ada monyet lucu dan unik yang menjadi legenda.

Legenda yang menjadi indentitas daerah, Cerita dari masa lalu, tentang kera putih sang penguasa.

Anak cucu kita akan paham bahwa betapa geramnya generasi saat ini yang tak peduli dengan kelestarian faunanya.

Ini tak menyangkut kehilangan Karaenta belaka. Tapi ini mengancam Indonesia.

Kita sudah kehilangan Harimau di Jawa dan Bali serta Kuau bergaris ganda asal Sumatera. Untuk melihat itu semua kita cuma melihatnya dalam gambar dan poster di sekolah.

Dan hal yang sama juga yang akan dirasakan oleh generasi di depan kita. Macaca Maura akan menjadi daftar oleh fauna yang sudah tinggal nama.

Dan kita manusia yang hidup hari ini, tegakah melihat macaca terus menerus menunggu makanan di pinggir jalan seperti itu.

*Penulis Ahmad Takbir Abadi (Warga yang sering melintasi Karaenta)

Suriadi

Share
Published by
Suriadi

BERITA TERKAIT

PSI Selayar Tancap Gas Konsolidasi, Perkuat Struktur hingga Desa

SELAYAR, Trotoar.id — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Kepulauan Selayar,…

6 jam ago

TP PKK Makassar Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Bimtek dan Peninjauan Kebun Aku Hatinya PKK

MAKASSAR, Trotoar.id — Tim Penggerak PKK Kota Makassar terus memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui kegiatan…

10 jam ago

Buka Karang Taruna Cup II, Aksi Bupati Sidrap Main Voli Semarakkan Suasana

SIDRAP, Trotoar.id — Pembukaan Turnamen Bola Voli Karang Taruna Cup II di Kelurahan Bangkai, Kecamatan…

11 jam ago

Pemerintah Pusat Apresiasi Kinerja Pemkot Makassar

JAKARTA, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, melakukan lawatan kerja ke Jakarta untuk memperkuat…

12 jam ago

Lawan Stunting, Pemkab Sidrap Gencarkan Kampanye Hidup Sehat

SIDRAP, Trotoar.id — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) terus menggencarkan upaya penanganan stunting melalui kampanye…

13 jam ago

Pesan Tegas Bupati di Rakor Pendidikan Sidrap: Tanamkan Karakter Siswa Melalui Budaya Bersih

SIDRAP, Trotoar.id — Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap), Syaharuddin Alrif, menyampaikan pesan tegas terkait pentingnya penanaman…

13 jam ago

This website uses cookies.