TROTOAR.ID, BANTAENG – Kegelisahan dan kegetiran terus dialami masyarakat Sulawesi Selatan yang tertimpa bencana alam, banjir hingga longsor. Setidaknya ada 10 Kabupaten/Kota mengalami nestapa ini. Diantaranya dan terparah adalah Kabupaten Gowa.
Bencana alam ini sejatinya merupakan ujian berat yang harus dilalui dengan penuh ketabahan. Doa-doa membubung ke langit seraya mengharap Tuhan usai dalam perkara ini. Cuaca ekstrim pun perlahan berakhir, air bah mulai surut dan masyarakat kembali bangkit diantara tangisan menatap serpihan dari puing-puing reruntuhan rumah, pohon yang tumbang, serta jalan yang dilumuri lumpur.
Kabar baiknya, gerakan solidaritas terus digaungkan dengan harapan bisa menghapus air mata pilu mereka yang tertimpa musibah mengerikan ini. Seperti yang ditunjukkan tim penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten Bantaeng. Hj. Sri Dewiyanti Ilham, ya, dia adalah Ketua TP PKK Bantaeng yang terlibat dalam gerakan ini, menjajaki daerah terisolir di Kabupaten Gowa. Tepatnya di Desa Sapaya, Kecamatan Bungaya.
Matanya memerah dan nampak berkaca-kaca saat menceritakan perjalanannya menyusuri daerah yang rusak parah tertimbun tanah longsor. Dia sedikit terbata-bata kala menguntai kata, sambil memejamkan mata berusaha menahan sesak di dada, betapa dia merasakan pedih yang diderita masyarakat di sana.
“Saya tidak bisa menggambarkan perasaan warga, karena yang ada hanya tangisan, hanya ratapan, hanya harapan agar keluarga mereka bisa ditemukan. Ada ibu yang meratap di atas tanah, itu adalah bekas rumahnya dan belum menemukan anak dan cucunya, yang dia pikirnya masih ada di bawah tanah longsoran itu,” katanya sembari menutup setengah mulutnya seakan rasa sedih berkecamuk dalam benaknya.
Dahinya mengkerut tatkala lebih jauh menceritakan perjalanan, betapa sulitnya menembus medan yang tertutupi longsor. Kendati demikian, dia bersama rombongan yang terdiri dari PKK, Dharmawanita, Dinas Sosial, BPBD, Satpol PP, serta tim medis pantang surut meninjau lokasi yang terisolir pascabencana.
“Kenapa saya ke Sapaya, karena mendapat informasi bahwa akses di sana betul-betul terisolir dan bantuan memang belum ada pada saat hari kedua pascabencana. Akhirnya, Sabtu (tanggal 26 Januari) itu, saya memutuskan bahwa besok (Minggu, 27 Januari) saya harus berangkat ke sana membawa bantuan,” ujarnya saat ditemui di rumah jabatan Bupati Bantaeng, Senin 28 Januari 2019.
Waktu yang singkat guna mengumpulkan bantuan, baginya bukanlah suatu hal yang sangat berat. Dia mengakui bahwa cara tercepat dengan waktu yang sangat sempit itu dimanfaatkan untuk menghubungi anggota PKK, Dharma Wanita, Kadis Sosial, Kepala BPBD Kabupaten Bantaeng agar membantunya dalam hal pengumpulan sumbangan.
“Kami membawa empat tabung gas dan empat kompor, mie 40 dos, beras 36 karung, pakaian, ada perlengkapan susu untuk anak-anak, biskuit, kantong mayat, selimut, matras. Itu semua sumbangan dari PKK, Dharmawanita, Dekranasda, Dinas Sosial dan Badan Penanggulangan,” sebut Ketua PKK ini.
“Dari informasi yang saya dapatkan, mereka membutuhkan makanan, kantong mayat, selimut. Itu yang kami siapkan, sesuai kebutuhan mereka. Ternyata masih ada yang lebih urgen yang mereka butuhkan, adalah bahan bakar untuk mobilitas mereka mengangkut bantuan ke titik-titik longsor berikutnya. Camat di sana (Bungaya), sebut kalau di Desa Mangempang adalah daerah yang sangat parah terisolir. Warga di sana tidak bisa keluar, begitu pula kita yang membawa bantuan tidak bisa masuk ke situ. Betul-betul terputus,” ucapnya.
Dia menuturkan bahwa ada dua titik longsor yang susah untuk ditempuh. Pasalnya saat itu, ketika mereka berada di lokasi longsoran, belum ada alat berat atau excavator yang mebersihkan jalur yang tertimbun. Hingga akhirnya pemerintah setempat berkoordinasi dengan pengusaha, pemilik alat berat guna memperadakan bantuan untuk membersihkan area longsor.
“Jadi bantuan yang hendak disalurkan ke Posko Kecamatan, harus diangkut berjalan kaki (kurang lebih 2 kilometer), lalu menggunakan mobil untuk diangkut ke Posko Kecamatan. Dan setelah itu (ke Desa Mangempang) jalurnya sudah berat, tidak bisa lagi diakses menggunakan kendaraan apapun. Jadi titik satu ke titik dua itu warga semcam terjebak di situ, tidak bisa keluar dan tidak bisa masuk karena jalan tertutup. Kemarin kami ingin memasuki tempat itu, tapi Pak Camat tidak menyarankan karena tidak ada lagi akses dan berlubang, yang bisa digunakan untuk mencapai disana tidak ada selain kuda. Tapi kemarin pas kami balik (ke Bantaeng) sudah ada ecavator, yah saya berharap bahwa hari ini (Senin, 28 Januari) sudah dibersihkan,” jelasnya.
Sekali lagi, air mata istri Ilham Azikin ini nyaris berderai mengingat sepenggal kisahnya di Butta Gowa. Dia melihat banyak anak-anak yang trauma, sementara di sudut lain, ibu-ibu sedang menangis tersayat karena dampak bencana ini.
“Ada rumah yang rata dengan tanah, ada yang hanya kelihatan atapnya saja, dan ada yang tampak depan utuh tapi belakang sudah hancur, ada pula yang sempurna sekelilingnya tapi dalamnya hancur,” ucapnya yang terlihat merengkuh kesedihan.
Bahkan, kata dia, tentara sekalipun tak akan mampu menahan kengerian ini. Dia bertemu dengan seorang Bhabinsa yang berbagi cerita selama empat hari terakhir, terjebak diantara reruntuhan dalam perjuangannya membantu warga.
“Kita datang itu sudah hari keempat pasca-kejadian. Waktu hari pertama itu mereka betul-betul tidak ada yang makan. Bhabinsa pun cerita kalau kita ini sudah kenyang mie. Kita rindu ikan, seperti itu katanya. Ibu Lurah ada juga, saya bicara langsung. Dia bilang, kita ini butuh BBM Bu, di sini banyak kendaraan tidak bisa jalan karena kurang bensin. Sementara mereka harus mengirit, seperti mobil dinas kecamatan, itu harus mengirit,” kenangnya.
Dia sangat berharap duka yang melanda di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Gowa, dapat segera terobati.
Akses di Kecamatan Bungaya Kini Dibuka
Harapan Sri Dewiyanti Ilham pun seakan terjawab. Hari ini, Rabu 30 Januari 2019, prajurit TNI dan aparat Kepolisian, Pemerintahan di Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, mulai membuka akses jalan poros Bontomanai ke arah desa Mangempang. Desa yang membuat istri Ilham Azikin itu terenyuh menyaksikan betapa porak-porandakan pascabencana.
Dandim 1409/Gowa, Letkol Arh Nur Subheki melalui laporan Pasi Intel Kodim 1409/Gowa, Pelda Eddy Syam memaparkan kondisi perbaikan yang dilakukan prajurit TNI. Dalam laporan itu, Komandan Pos (Danpos) Bungaya Koramil 1409-07/Tbl, Pelda Muh Amin membuka akses jalan dengan menggunakan alat berat, excavator dan lauder pada empat titik tertimbun longsor.
“Tapi mengalami kendala, baru satu titik (1) yang bisa di buka dengan tumpukan tanah kurang lebih 3 meter dan lebar 4 meter dengan panjang kurang lebih 75 meter menutupi badan jalan akibat bencana alam tanah longsor di Desa Bontomanai, Kecamatan Bungaya,” tulis anggota TNI yang akrab disapa Edy ini.
Tentunya tujuan perbaikan akses ini adalah upaya yang dilakukan guna membantu pemerintah dalam penanganan bencana. Sekaligus, melancarkan aktifitas masyarakat, juga perbaikan ekonomi. (Sdq)
MAKASSAR, Trotoar.id — Vonny Ameliani Suardi resmi dilantik sebagai Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI)…
MAKASSAR, Trotoar.id — Wakil Ketua II DPRD Papua Barat Daya, Fredrik Frans Adolof Marlissa, memimpin…
MAKASSAR, Trotoar.id — Pemerintah Kota Makassar mulai mematangkan standar operasional prosedur (SOP) terpadu penanganan Orang…
MAKASSAR, Trotoar.id — Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Vonny Ameliani Suardi, dijadwalkan segera dilantik sebagai…
MAKASSAR, Trotoar.id — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Papua Barat Daya melakukan kunjungan kerja ke…
SELAYAR, Trotoar.id — Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Kepulauan Selayar,…
This website uses cookies.