Trotoar.id, Makassar – Para Srikandi DPRD Provinsi Sulawesi Selatan kompak mengenakan kebaya dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional.
Mereka tampak anggun dalam balutan kebaya, yang telah menjadi salah satu ikon budaya perempuan Indonesia.
Ketua DPRD Sulsel, Andi Ina Kartika Sari, menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan kebaya sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan identitas bagi perempuan Indonesia.
Baca Juga :
“Kebaya menjadi salah satu ciri khas atau identitas dari busana perempuan Indonesia dan kita bangga memiliki itu,” ungkap Andi Ina Kartika Sari, yang juga merupakan Ketua DPRD perempuan pertama di Sulawesi Selatan.
Istilah kebaya sendiri diyakini berasal dari kata serapan Arab “kaba” atau “gaba” yang berarti pakaian, yang kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Portugis sebagai “cabaya.”
Penggunaan kebaya di Indonesia sendiri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas perempuan di berbagai daerah, termasuk Jawa, Bali, Sumatra, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT), meskipun dengan variasi corak daerah.
Selain sebagai simbol budaya, kebaya juga memiliki peran politik yang signifikan dalam sejarah Indonesia. Kebaya telah dinyatakan sebagai busana nasional, meskipun sempat ada kritik bahwa penggunaannya lebih dominan di Jawa dan Bali.
Namun, kebaya sebenarnya juga dikenal luas di berbagai daerah lainnya di Indonesia. Tokoh-tokoh politik perempuan, seperti Kartini, seringkali digambarkan mengenakan kebaya, dan peringatan Hari Kartini pun identik dengan penggunaan pakaian tradisional ini.
Sejak masa pemerintahan Soekarno hingga Soeharto, kebaya juga menjadi pilihan busana bagi para istri Presiden Republik Indonesia, yang mengenakannya dalam berbagai kesempatan resmi.
Hal ini semakin memperkuat status kebaya sebagai simbol kehormatan dan kebanggaan nasional.
Dengan peringatan Hari Kebaya Nasional ini, diharapkan masyarakat semakin menyadari pentingnya melestarikan kebaya sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.



Komentar