Makassar, Trotoar.id – Kehadiran Plant Badriah, fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi Refuse-Derived Fuel (RDF) di Desa Padanglampe, Kecamatan Marrang, Kabupaten Pangkep, menjadi bukti konkret keberhasilan Andi Sudirman Sulaiman dalam mengatasi permasalahan sampah di Sulawesi Selatan.
Fasilitas ini diresmikan pada September 2023 saat ia menjabat sebagai Gubernur Sulsel, dan kini terus menjadi solusi berkelanjutan di bawah kepemimpinan Pj Gubernur Sulsel, Prof. Zudan Arief Fakrulloh.
Plant Badriah memiliki kapasitas pengolahan hingga 90 ton sampah per hari, menghasilkan sekitar 30 ton bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh industri, seperti PT Semen Tonasa, sebagai pengganti batu bara.
Teknologi ini tidak hanya mengurangi dampak lingkungan akibat penumpukan sampah, tetapi juga menyediakan sumber energi baru yang lebih ramah lingkungan.
Kolaborasi Pemprov dan Pemkab Pangkep
Dewan Pengawas Asosiasi Bank Sampah Indonesia, Saharuddin Ridwan, mengapresiasi sinergi antara Pemprov Sulsel, Pemkab Pangkep, dan PT Semen Tonasa dalam mewujudkan fasilitas ini.
“Pemkab menyediakan lahan, Pemprov mengalokasikan anggaran untuk alat dan mesin, dan PT Semen Tonasa membeli hasil RDF sebagai energi alternatif,” ujar Sahar pada Senin (18/11/2024).
Menurut Sahar, RDF tidak hanya efektif dalam mengatasi persoalan sampah di Pangkep, tetapi juga berpotensi membantu pengelolaan sampah dari daerah tetangga seperti Makassar, Maros, Barru, dan Parepare.
Bahkan, Pj Gubernur Zudan telah mengimbau agar sampah dari kota-kota tersebut dikirim ke Plant Badriah untuk dikelola lebih baik.
“Ini adalah RDF kelima di Indonesia, dan kapasitasnya masih memungkinkan untuk menerima sampah dari daerah sekitar,” kata Sahar. Ia juga menegaskan bahwa RDF di Pangkep dapat menjadi model bagi solusi serupa di kota-kota lain, termasuk Makassar.
Tantangan Pengelolaan Sampah di Makassar
Di sisi lain, Makassar menghadapi tantangan besar dalam mengelola sampah yang mencapai lebih dari 1.000 ton per hari.
Salah satu solusi yang telah diusulkan adalah proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018. Namun, hingga kini, proyek tersebut belum terealisasi.
“Makassar sudah masuk dalam daftar 12 kota prioritas PSEL, tetapi prosesnya terkesan lambat dan sulit diwujudkan,” ungkap Sahar.
Investasi Berkelanjutan untuk Lingkungan
Plant Badriah dibangun dengan total anggaran Rp23 miliar, terdiri dari Rp15 miliar bantuan keuangan Pemprov Sulsel dan Rp8 miliar alokasi dari Pemkab Pangkep.
Dengan pengelolaan profesional oleh Pemkab Pangkep, fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai solusi lingkungan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD).
Sebagai salah satu inovasi unggulan di Sulsel, Plant Badriah menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah yang terintegrasi dapat memberikan manfaat besar, baik dari sisi lingkungan maupun ekonomi.
Langkah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam mengatasi persoalan sampah secara berkelanjutan.
MAKASSAR, TROTOAR.ID — Musyawarah Besar (Mubes) IKA Unhas yang digelar pada 1–3 Mei 2026 di…
SIDRAP, Trotoar.id — Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Baranti menggelar Musyawarah Ranting (Musran) Tahun 2026…
MAKASSAR, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyambut positif berbagai event berskala nasional maupun…
SIDRAP, Trotoar.id — Wakil Bupati Sidenreng Rappang, Nurkanaah, menghadiri sekaligus memberikan sambutan pada acara wisuda…
MAKASSAR, Trotoar.id — Kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, kembali menorehkan pengakuan di level nasional.…
MAKASSAR, Trotoar.id — Tepat pada peringatan Hari Pendidikan Nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali…
This website uses cookies.