Makassar, Trotoar.id — Kepemimpinan bukan tentang jabatan, melainkan keberanian memikul tekanan dan kesanggupan menjaga integritas.
Pesan itu disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, saat menjadi narasumber dalam Ramadhan Leadership Camp di Asrama Haji Sudiang, Kamis (26/2/2026).
Dalam kegiatan bertema “Profesional dalam Berkinerja, Berkarakter dan Amanah dalam Kepemimpinan” yang dihadiri jajaran Forkopimda dan hampir 1.000 peserta, Amran tampil reflektif mengenang perjalanan hidupnya dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) hingga dipercaya memimpin Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Baca Juga :
“Pemimpin itu indah dalam mimpi tetapi tidak indah dalam kenyataan. Tetapi kalau menjadi pemimpin yang baik, adil dan jujur, insya Allah surga akan menunggu,” ujarnya.
Amran mengisahkan sekitar 40 tahun lalu dirinya memulai karier sebagai PPL, pernah menjadi buruh kebersihan, hingga bertugas 8,5 tahun di wilayah perbatasan.
Ia mengabdi selama 15 tahun sebelum akhirnya berwirausaha dan kemudian dipercaya menjadi menteri.
“Gaji saya Rp125 ribu rupiah,” kenangnya.
Pengalaman panjang itu, menurutnya, membentuk karakter disiplin dan tahan uji.
Ia menyebut tekanan sebagai bagian tak terpisahkan dari kepemimpinan, diibaratkan seperti proses terbentuknya berlian.
“Ketika menjadi pemimpin gunakan kalbu, gunakan mata hati. Itu pasti berada di jalan yang benar,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Kepercayaan diri, kata dia, menjadi fondasi utama untuk meraih keberhasilan.
Amran mengutip pernyataan Albert Einstein tentang definisi kegilaan melakukan hal yang sama berulang kali dan mengharapkan hasil berbeda serta QS. Ar-Ra’d ayat 11 yang menegaskan bahwa perubahan keadaan bergantung pada perubahan diri sendiri.
Menurutnya, perubahan nasib pegawai, termasuk di lingkup pemerintahan daerah, sangat ditentukan oleh perubahan pola pikir dan integritas.
“Pegawai harus mengubah mindset-nya dan harus menjadi teladan yang baik,” tegasnya.
Ia juga menceritakan momen paling menegangkan saat target swasembada pangan dipercepat dari empat tahun menjadi satu tahun.
Tekanan meningkat ketika dalam sidang kabinet disampaikan bahwa Indonesia harus menghentikan impor beras pada 2025.
“Yang dari empat tahun menjadi satu tahun swasembada. Itulah tekanan empat kali lipat,” ungkapnya.
Tekanan tersebut dijawab dengan kolaborasi lintas sektor bersama TNI-Polri dan Kejaksaan. Target swasembada, kata dia, tercapai pada 31 Desember 2025.
Data yang dipaparkan menunjukkan stok beras per Juni 2025 mencapai 4,2 juta ton. Per 25 Februari 2026 tercatat 3,58 juta ton dan diproyeksikan mencapai 5 juta ton pada Mei mendatang.
“Stok hari ini 3,5 juta ton. Tidak pernah terjadi selama merdeka pada bulan Januari beras setinggi ini,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan rencana ekspor beras perdana ke Arab dalam jumlah besar.
Di akhir pemaparannya, Amran menegaskan bahwa pertanian merupakan sektor strategis masa depan. Swasembada bukan sekadar capaian angka, melainkan simbol kedaulatan dan martabat bangsa.











Komentar