Metro

Literasi Digenjot, Tapi Minat Baca Masih Rendah? Program Perpustakaan Pemprov Sulsel Disorot

Pemprov Sulsel

MAKASSAR, Trotoar.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus menggencarkan penguatan layanan perpustakaan sebagai strategi meningkatkan minat baca generasi muda.

Namun, di tengah berbagai program dan capaian yang dipamerkan, efektivitas kebijakan ini mulai dipertanyakan.

Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Pemprov mengandalkan sejumlah fasilitas seperti perpustakaan di Jalan Sultan Alauddin dan layanan khusus seperti Perpustakaan Ibu dan Anak di Makassar, hingga layanan mobil keliling untuk menjangkau masyarakat lebih luas.

Plt Kepala Dinas Perpustakaan, Prof. Muhammad Jufri, menegaskan literasi menjadi kunci utama peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Ia menyebut pendekatan inklusif mulai dari penyediaan ruang baca hingga area bermain edukatif dirancang untuk menarik minat anak sejak dini.

Namun realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar: budaya membaca masih kalah dari dominasi gawai dan media digital.

Pertanyaannya, apakah pembangunan fasilitas perpustakaan cukup kuat untuk mengubah pola perilaku generasi muda?

Sekretaris Daerah Sulsel, Jufri Rahman, bahkan mengingatkan bahwa rendahnya minat belajar hari ini bisa berdampak pada kualitas tenaga kerja di masa depan.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa persoalan literasi bukan sekadar fasilitas, melainkan perubahan budaya yang jauh lebih kompleks.

Di sisi lain, Pemprov menampilkan sederet capaian mulai dari penghargaan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial hingga predikat pengelolaan layanan terbaik.

Namun kritik muncul: apakah indikator keberhasilan tersebut benar-benar mencerminkan peningkatan minat baca masyarakat secara nyata?

Program inovasi seperti “Gemas De”, “Gempita Sjaya”, dan “Gempur Pustaka” disebut sebagai terobosan layanan.

Meski begitu, tanpa pengukuran dampak yang konkret di tingkat masyarakat, inovasi ini berpotensi hanya menjadi pencapaian administratif.

Kini, sorotan publik mengarah pada konsistensi kebijakan: apakah Pemprov Sulsel mampu mendorong perubahan budaya literasi secara substansial, atau justru terjebak pada rutinitas program tanpa dampak signifikan?

Di tengah ambisi meningkatkan daya saing daerah, pertarungan sesungguhnya bukan pada jumlah perpustakaan—melainkan sejauh mana masyarakat benar-benar kembali membuka buku.

MUHAMMAD LUTFI

Share
Published by
MUHAMMAD LUTFI

BERITA TERKAIT

DPRD Parepare Usul Hibah Aset 5 Hektare Milik Pemprov Sulsel untuk Warga

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Sejumlah anggota DPRD Kota Parepare mengajukan usulan agar aset lahan seluas sekitar…

37 menit ago

Kisah Nene Mallomo Dipentaskan di Makassar, Rawat Nilai Moral Kebudayaan Sidrap

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Nilai-nilai moral dan kearifan lokal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali digaungkan melalui…

18 jam ago

Sabet Tiga Penghargaan di Gapura Awards Sulsel, IGTKI-PGRI Sidrap Raih Kado Terindah Akhir Kepengurusan

MAKASSAR, ROTOAR.ID — Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia (IGTKI-PGRI) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali menorehkan…

18 jam ago

Gubernur Sulsel Tinjau Progres Jalan Hertasning, Proyek MYP Capai 64 Persen

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, melakukan peninjauan langsung terhadap progres pengerjaan…

18 jam ago

Bupati Sidrap Tutup Kejurnas Drag Race 2026 Putaran 2 di Lanud Sultan Hasanuddin

MAKASSAR, Trotoar.id — Putaran kedua Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Drag Race IMI 2026 resmi berakhir dengan…

18 jam ago

Wali Kota Makassar Resmi Tutup Tudang Sipulung Nasional II SMADA

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, secara resmi menutup rangkaian kegiatan Tudang Sipulung…

20 jam ago

This website uses cookies.