Musda Golkar Sulsel

Musda Golkar Sulsel Antara Formalitas Demokrasi dan Konsolidasi Kekuasaan Menuju 2029

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Minggu, 12 Juli 2026 21:32

Bendera Paartai Golkar
Bendera Paartai Golkar

Trotoar.id, Makassar — Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Juli mendatang diprediksi tidak lagi menjadi arena pertarungan terbuka perebutan kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel.

Forum tertinggi partai di tingkat provinsi itu justru berpotensi berubah menjadi panggung pengesahan kepemimpinan baru.

Jika biasanya Musda menjadi ruang adu gagasan, pertarungan strategi, hingga pertarungan dukungan antar figur, kali ini dinamika tersebut diperkirakan berjalan berbeda.

Arah politik internal Golkar Sulsel mulai mengerucut setelah terbitnya surat rekomendasi khusus dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

Surat yang kemudian disebut sebagai “surat sakti” itu menjadi penanda kuat bahwa DPP telah menentukan pilihan terhadap figur yang akan membawa nahkoda Golkar Sulsel ke depan.

Nama Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menjadi figur yang mendapatkan dukungan resmi untuk maju sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulsel.

Keputusan tersebut sekaligus mengubah peta politik internal partai berlambang pohon beringin itu.

Ruang kompetisi yang sebelumnya dinanti publik sebagai pertarungan politik kader, perlahan berubah menjadi proses konsolidasi untuk memastikan transisi kepemimpinan berjalan mulus.

Bahkan, sejumlah pemilik suara dalam Musda mulai dari DPD II kabupaten/kota hingga organisasi sayap partai yang didirikan dan mendirikan, disebut telah memberikan dukungan kepada IAS.

Dukungan yang terkonsolidasi itu membuat kontestasi Musda semakin mengarah pada satu titik.

Dengan kondisi tersebut, agenda pendaftaran bakal calon hingga pelaksanaan Musda nantinya dinilai lebih banyak menjadi bagian dari mekanisme administratif organisasi.

Sebuah proses yang tetap harus dilalui sebagai penghormatan terhadap aturan dan sistem yang berlaku di internal Golkar.

Namun, di balik kesan formalitas tersebut, terdapat pesan politik yang lebih besar. Keputusan DPP menunjukkan bagaimana Partai Golkar tetap menjaga tradisi sentralisasi keputusan strategis, terutama dalam menentukan figur yang dianggap mampu menjaga stabilitas dan memperkuat mesin politik partai.

Bagi Golkar Sulsel, pergantian kepemimpinan bukan sekadar persoalan pergantian figur.

Ketua DPD I terpilih nantinya akan memikul tanggung jawab besar menghadapi agenda politik nasional, terutama persiapan menuju Pemilu 2029.

IAS bukan nama baru dalam peta politik Sulawesi Selatan. Pengalaman panjangnya sebagai mantan Wali Kota Makassar dan kader senior Golkar menjadi modal politik yang membuatnya kembali diperhitungkan dalam dinamika internal partai.

Kini tantangan terbesar bukan lagi bagaimana memenangkan Musda, melainkan bagaimana membangun soliditas setelah Musda.

Sebab, partai besar membutuhkan konsolidasi yang kuat agar seluruh kader bergerak dalam satu arah menghadapi pertarungan politik mendatang.

Kepemimpinan baru Golkar Sulsel nantinya akan diuji dalam menghadapi perubahan perilaku pemilih, persaingan antarpartai, hingga tuntutan masyarakat terhadap partai politik yang semakin besar.

Musda 18 Juli pun menjadi momentum penting bagi Golkar Sulsel untuk menunjukkan bahwa proses regenerasi dan konsolidasi internal dapat berjalan beriringan.

Bagi publik, Musda kali ini mungkin tidak menghadirkan drama politik seperti yang selama ini dibayangkan.

Namun, justru di balik minimnya rivalitas terbuka, terdapat proses politik yang lebih senyap: bagaimana sebuah partai besar menyusun kekuatan untuk pertarungan yang lebih panjang.

Akan tetapi Musda Partai Golkar Sulsel ini meski bukan perebutan kursi ketua, akan tetapi beberapa posisi akan menjadi rebutan kader Golkar diantaranya ,Sekretaris, Bappilu, Badan Saksi dan OKk

Sebab dalam politik, kemenangan tidak selalu ditentukan oleh siapa yang paling ramai bertarung di arena. Terkadang, arah kemenangan telah dibentuk jauh sebelum panggung utama dibuka.

Dan Musda Golkar Sulsel kali ini menjadi salah satu contoh bagaimana sebuah keputusan politik di tingkat pusat mampu mengubah seluruh konfigurasi permainan di tingkat daerah.

Penulis : Upiq

 Komentar

Berita Terbaru
Metro12 Juli 2026 20:38
HKG PKK dan Dekranas ke-46 Gerakkan Ekonomi Sulsel, Andi Sudirman Sebut Dampak Dirasakan Berbagai Sektor
Trotoar.id, Makassar — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menggelar malam ramah tamah dalam rangka Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Ker...
Nasional12 Juli 2026 20:26
Presiden Prabowo Hadiri Puncak Hari Koperasi ke-79, Tegaskan Koperasi Pilar Ekonomi Rakyat
Trotoar.id, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 yang digelar di Indonesia Arena, Jakarta...
Parlemen12 Juli 2026 18:04
Ketua DPRD Sulsel Hadiri Penutupan HUT Dekranas ke-46 di Makassar, Dorong Penguatan Ekonomi Kreatif
Trotoar.id, Makassar — Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Rachmatika Dewi, menghadiri penutupan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kera...
Parlemen12 Juli 2026 16:01
Rahman Pina Hadiri Nobar “Bola Gembira” TVRI Sulsel, Dorong Kebersamaan Lewat Sepak Bola
Trotoar.id, Makassar — Dengan Mengenakan Baju Argentina, yang merupakan jagoan lnya di Piala Dunia 2026, Wakil Ketua DPRD Provinsi Sulawesi Selatan,...