Pemkot Makassar

Dekranasda Makassar Pelajari Pemberdayaan Perajin di Kampung Batik Cibuluh, Bidik Model Pembinaan Berkelanjutan

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 09 Oktober 2026 15:49

Dekranasda Makassar Pelajari Pemberdayaan Perajin di Kampung Batik Cibuluh, Bidik Model Pembinaan Berkelanjutan

BOGOR, TROTOAR.ID — Pengembangan industri kerajinan tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan menghasilkan produk.

Pendampingan, pemberdayaan masyarakat, penguatan usaha, dan perluasan pasar menjadi faktor penting agar para perajin mampu tumbuh secara berkelanjutan.

Hal inilah yang dipelajari Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Makassar saat mengunjungi Kampung Batik Cibuluh, Kota Bogor, Kamis (8/10/2026).

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi rombongan Dekranasda Makassar untuk menggali praktik pengembangan sentra batik yang bertumpu pada keterlibatan masyarakat, mulai dari proses pelatihan, pembinaan perajin, pengembangan produk, hingga strategi pemasaran.

Rombongan tidak sekadar melihat hasil kerajinan yang diproduksi, tetapi juga menelusuri proses di balik tumbuhnya usaha batik yang melibatkan warga di lingkungan tempat tinggal mereka.

Dalam kunjungan itu, rombongan mendatangi enam pelaku usaha batik, yakni Batik Gaziseri, Batik Melinda, Irwanda Batik, Batik Bogor Bumiku, Batik Pancawati, dan Batik Melangit.

Masing-masing pelaku usaha memiliki karakter motif dan produk tersendiri. Keberagaman tersebut memperlihatkan bagaimana keterampilan membatik dapat berkembang menjadi kegiatan produktif sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Wakil Ketua Dekranasda Kota Makassar, Prof. Andi Tenri, mengatakan pengalaman Kampung Batik Cibuluh memberikan perspektif mengenai pentingnya membangun ekosistem pembinaan perajin yang tidak berhenti pada pelatihan keterampilan.

“Yang menarik bagi kami adalah proses di belakang produknya. Bagaimana warga dilatih, didampingi, kemudian bisa berkembang menjadi pelaku usaha dengan karakter masing-masing. Itu yang ingin kami lihat lebih dekat dan menjadi bahan belajar untuk pembinaan perajin di Makassar,” ujarnya.

Menurut Andi Tenri, keberhasilan pengembangan perajin membutuhkan pendampingan yang berkesinambungan agar keterampilan yang diperoleh dapat dikembangkan menjadi usaha produktif.

Pelatihan menjadi langkah awal, tetapi kemampuan mengembangkan produk, menjaga kualitas, membaca kebutuhan konsumen, dan memasarkan hasil kerajinan juga harus diperkuat.

Karena itu, pengalaman Kampung Batik Cibuluh dinilai dapat menjadi referensi bagi Makassar dalam merancang pola pembinaan yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan perajin lokal.

“Tentu tidak semuanya harus diterapkan dengan cara yang sama. Tetapi kita bisa melihat bagian mana yang relevan, terutama bagaimana pendampingan tetap berjalan setelah pelatihan sehingga perajin tidak berhenti pada kemampuan membuat produk, tetapi juga mampu mengembangkan usahanya,” katanya.

Ketua Paguyuban Kampung Batik Cibuluh menjelaskan, kawasan tersebut tidak hanya menarik perhatian masyarakat setempat, tetapi juga menjadi tujuan belajar bagi pengunjung dari berbagai daerah.

“Banyak yang datang dari luar Kota Bogor untuk belajar di Kampung Batik Cibuluh. Ada yang ingin belajar membatik, ada juga yang ingin melihat bagaimana masyarakat di sini dilibatkan dan bagaimana kelompok-kelompok perajin bisa berkembang,” jelasnya.

Kampung Batik Cibuluh juga menjadi ruang pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan, untuk mengembangkan keterampilan menjadi aktivitas produktif. Melalui proses belajar dan pendampingan, warga memiliki kesempatan untuk membentuk kelompok, menghasilkan produk, dan mengembangkan usaha secara mandiri.

Pola tersebut menjadi salah satu aspek yang dicermati Dekranasda Makassar, terutama dalam melihat bagaimana kegiatan kerajinan dapat membuka ruang partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi keluarga.

Dalam dialog bersama pengelola dan perajin, rombongan juga menggali peran pemerintah daerah dan Dekranasda dalam menjaga keberlangsungan sentra batik.

Dukungan tersebut mencakup pembinaan, promosi, keikutsertaan dalam pameran, pengembangan produk, serta upaya memperluas akses pemasaran agar hasil kerajinan dapat menjangkau konsumen yang lebih beragam.

Selain pemberdayaan dan pengembangan usaha, rombongan turut menaruh perhatian pada praktik pemanfaatan kembali sisa bahan produksi.

Sisa tinta atau pewarna yang telah mengendap dan mengeras tidak seluruhnya dibuang, tetapi dikumpulkan untuk dimanfaatkan kembali. Praktik tersebut menjadi salah satu contoh perhatian perajin terhadap efisiensi penggunaan bahan dalam proses produksi.

Bagi Dekranasda Makassar, aspek tersebut menjadi pembelajaran bahwa pengembangan industri kerajinan juga perlu memperhatikan pengelolaan bahan dan sisa produksi, selain kualitas serta nilai estetika produk yang dihasilkan.

“Bukan hanya bagaimana menghasilkan produk yang baik, tetapi proses produksinya juga perlu kita lihat. Kalau ada bahan yang masih bisa dimanfaatkan kembali, tentu itu menjadi nilai tambah dan pembelajaran yang baik bagi perajin,” ujar Andi Tenri.

Lebih dari sekadar sentra produksi, Kampung Batik Cibuluh juga berkembang sebagai ruang edukasi bagi masyarakat yang ingin mengenal proses membatik secara langsung.

Pengunjung dapat mempelajari tahapan pembuatan batik sekaligus mengenal cerita dan keterampilan yang melatarbelakangi setiap produk. Aktivitas edukasi tersebut turut membuka kesempatan bagi perajin untuk memperkenalkan hasil karya dan memperluas jangkauan pemasaran.

Bagi Dekranasda Makassar, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa sentra kerajinan dapat dikembangkan dengan mengintegrasikan produksi, pemberdayaan masyarakat, edukasi, dan promosi dalam satu ekosistem.

Hasil kunjungan ini diharapkan menjadi bahan evaluasi dan referensi untuk memperkuat pembinaan perajin di Makassar, terutama melalui pendampingan berkelanjutan, peningkatan kapasitas usaha, inovasi produk, serta perluasan akses pasar.

Dengan mempelajari praktik yang telah berjalan di Kampung Batik Cibuluh, Dekranasda Makassar berupaya memperkaya pendekatan pengembangan kerajinan lokal agar tidak hanya mampu mempertahankan identitas budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. (*)

Penulis : Anti

 Komentar