Pemkot Makassar

TP PKK Makassar Latih Kader Kembangkan Desain Khas Kecamatan Berbasis Budaya Lokal

ANTI CIBOL
ANTI CIBOL

Jumat, 09 Oktober 2026 19:42

TP PKK Makassar Latih Kader Kembangkan Desain Khas Kecamatan Berbasis Budaya Lokal

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Tim Penggerak PKK Kota Makassar mendorong lahirnya desain khas kecamatan yang berakar pada budaya lokal melalui pelatihan peningkatan kapasitas desain dan inovasi beretika bertema “Terciptanya Desain Lokal Kecamatan”.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 8–9 Oktober 2026, di Auditorium TP PKK Kota Makassar ini menjadi wadah bagi kader PKK dan masyarakat untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menggali potensi budaya daerah menjadi karya desain yang bernilai.

Pelatihan tersebut dibuka Ketua Bidang III TP PKK Kota Makassar, Prof. Hadijah Mahyuddin.

Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan desainer lokal yang mampu menerjemahkan kekayaan budaya setiap kecamatan ke dalam karya kreatif, inovatif, dan memiliki karakter tersendiri.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap kader TP PKK dan masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan tentang desain, tetapi juga mampu mengembangkan kreativitas dengan mengangkat nilai-nilai budaya lokal. Kita ingin setiap kecamatan memiliki desain yang khas dan mencerminkan identitas daerahnya masing-masing,” ujarnya.

Menurut Hadijah, desain lokal tidak sekadar menghasilkan karya dengan nilai estetika, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.

Dengan pengolahan yang tepat, kekayaan budaya daerah dapat menjadi sumber inspirasi bagi produk yang memiliki ciri khas sekaligus daya saing.

Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan desain berbasis budaya harus tetap memperhatikan nilai dan etika agar proses inovasi tidak menghilangkan makna yang terkandung dalam tradisi masyarakat.

“Yang terpenting, inovasi yang dihasilkan tetap memperhatikan etika dan menghargai budaya kita. Dengan begitu, desain lokal tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya sekaligus meningkatkan potensi ekonomi masyarakat,” tambahnya.

Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan ini menghadirkan empat narasumber, yakni Fantri Pribadi, Nasir, Hilal Cahril, dan Muhammad Habil Anugrah Simanjuntak.

Mereka berasal dari kalangan desainer, seniman batik, penggiat pembatikan, serta akademisi dan pengajar seni rupa.

Para narasumber memberikan materi sekaligus pendampingan praktik mengenai proses kreatif dalam menghasilkan desain yang berkarakter dan mencerminkan kekhasan daerah.

Peserta dibekali pengetahuan tentang tahapan pembuatan desain, mulai dari menggali inspirasi, menyusun konsep, membentuk pola, hingga mengembangkan motif yang dapat diaplikasikan pada media kain.

Tak hanya mendapatkan materi teori, peserta juga mengikuti praktik membatik secara langsung. Melalui kegiatan ini, mereka diperkenalkan pada keterampilan dasar pembatikan sekaligus proses menerjemahkan ide dan motif menjadi karya nyata.

Praktik tersebut diharapkan mampu memperluas wawasan peserta dalam memadukan unsur budaya tradisional dengan kreativitas baru, tanpa mengabaikan makna dan nilai yang melekat pada identitas budaya setempat.

Lebih jauh, pelatihan ini menjadi bagian dari upaya TP PKK Kota Makassar memperkuat peran kader sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat. Keterampilan desain yang diperoleh diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dikembangkan menjadi peluang usaha kreatif berbasis potensi daerah.

Kader yang mewakili berbagai kecamatan juga diharapkan dapat menularkan pengetahuan dan keterampilan tersebut di wilayah masing-masing. Dengan demikian, pengembangan desain lokal dapat tumbuh secara berkelanjutan dan melibatkan lebih banyak masyarakat.

Melalui pelatihan ini, TP PKK Kota Makassar berharap setiap kecamatan mampu mengembangkan desain yang memiliki identitas kuat, berakar pada kekayaan budaya lokal, serta berpotensi meningkatkan nilai ekonomi produk masyarakat.

Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi dan pemberdayaan ekonomi, selama kreativitas tetap berpijak pada penghormatan terhadap nilai-nilai lokal. (*)

Penulis : Addy

 Komentar