Pemkot Makassar

Di Forum PBB, Appi Pamerkan Inovasi Hijau Makassar untuk Perkuat Ketahanan Banjir

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Rabu, 14 Oktober 2026 11:31

Di Forum PBB, Appi Pamerkan Inovasi Hijau Makassar untuk Perkuat Ketahanan Banjir

JENEWA, TROTOAR.ID — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, membawa inovasi hijau Kota Makassar ke panggung internasional.

Dalam United Nations Forum of Mayors 2026 di Jenewa, Swiss, 12–13 Oktober, Munafri memaparkan proyek Revitalising Informal Settlements and Their Environments (RISE) sebagai salah satu pendekatan untuk memperkuat ketahanan lingkungan perkotaan terhadap banjir dan perubahan iklim.

Di hadapan para pemimpin kota dari berbagai negara, Munafri yang akrab disapa Appi menjelaskan bagaimana Makassar mengembangkan infrastruktur hijau untuk menjawab persoalan sanitasi, pengelolaan air limbah, dan kualitas lingkungan permukiman.

Menurut Appi, pertumbuhan kota yang pesat menghadirkan tantangan lingkungan yang semakin kompleks.

Banjir musiman, genangan, persoalan sanitasi, hingga peningkatan suhu kawasan perkotaan membutuhkan penanganan yang tidak hanya bertumpu pada infrastruktur konvensional.

“Solusi teknologi hijau yang inovatif sangat krusial untuk mengatasi permasalahan perkotaan di seluruh dunia,” menjadi pesan utama yang dibawa Appi dalam forum tersebut, Selasa (13/10/2026).

Ia menjelaskan, melalui proyek RISE, Pemkot Makassar mengembangkan pendekatan berbasis alam dengan mengintegrasikan pengolahan air limbah, lahan basah buatan, dan taman biofiltrasi.

“Melalui Proyek RISE, kami di Kota Makassar mengembangkan model penanganan lingkungan permukiman dengan mengintegrasikan teknologi pengolahan air limbah berbasis alam, lahan basah buatan, serta taman biofiltrasi,” tutur Appi.

Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan Monash University dari Australia, bersama mitra lokal, termasuk Universitas Hasanuddin dan tim pelaksana di Makassar.

Bagi Appi, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mitra internasional menjadi bagian penting dalam menghadirkan inovasi yang sesuai dengan karakteristik lingkungan serta kebutuhan masyarakat setempat.

Ia mengungkapkan, implementasi RISE telah menghadirkan infrastruktur hijau di lima lokasi di Makassar.

Pendekatan tersebut, menurutnya, turut mendukung upaya meningkatkan ketahanan kawasan terhadap banjir sekaligus menciptakan lingkungan permukiman yang lebih sejuk.

“Program ini turut mendukung peningkatan ketahanan terhadap banjir serta membantu menciptakan lingkungan yang lebih sejuk di sekitar kawasan permukiman di Kota Makassar,” jelasnya.

Pemkot Makassar kini mendorong pengembangan model serupa di tujuh lokasi baru. Langkah ini diharapkan dapat memperluas manfaat infrastruktur hijau sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim.

“Langkah ini kami harapkan dapat memperluas manfaat infrastruktur hijau sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko perubahan iklim,” tegas Ketua IKA Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tersebut.

Di forum tersebut, Appi juga menyampaikan bahwa proyek RISE memperoleh pengakuan internasional setelah masuk dalam lima proyek terbaik dunia dalam ajang WRI Ross Center Prize for Cities 2026 di New York, Amerika Serikat.

Pengakuan tersebut menjadi bagian dari perjalanan RISE dalam memperkenalkan pendekatan penataan lingkungan permukiman berbasis alam kepada komunitas global.

Menurut Appi, RISE menunjukkan bahwa penanganan persoalan perkotaan dapat dilakukan secara terpadu.

Sanitasi, pengelolaan air limbah, pengurangan risiko banjir, dan peningkatan kualitas ruang hidup masyarakat dapat ditempatkan dalam satu kerangka pembangunan yang saling mendukung.

Ia menilai, inovasi perkotaan tidak selalu harus dimulai dengan pembangunan teknologi berskala besar. Solusi berbasis alam yang dirancang sesuai kondisi kawasan juga dapat menjadi bagian dari strategi membangun kota yang lebih tangguh.

“Solusi berbasis alam yang dirancang sesuai kebutuhan kawasan dapat menjadi bagian dari strategi untuk membangun kota yang lebih tangguh,” katanya.

Appi menegaskan, partisipasi Makassar dalam forum internasional tersebut menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman sekaligus mempelajari pendekatan yang diterapkan kota-kota lain dalam menjawab tantangan perkotaan.

Bagi Pemkot Makassar, pengembangan teknologi hijau tidak hanya berkaitan dengan perbaikan kualitas lingkungan, tetapi juga merupakan bagian dari upaya membangun kota yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, tangguh menghadapi risiko banjir, dan layak huni bagi masyarakat.

United Nations Forum of Mayors menjadi ruang bagi para pemimpin kota untuk bertukar pengalaman dan membahas berbagai tantangan pembangunan perkotaan.

Dalam forum tersebut, isu transportasi umum, mobilitas aktif, keselamatan jalan, dan aksesibilitas turut menjadi perhatian. Pembahasan mencakup kebutuhan menghadirkan sistem transportasi yang aman, terjangkau, mudah diakses, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Perhatian khusus diberikan kepada kelompok yang membutuhkan aksesibilitas lebih baik, termasuk perempuan, anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, masyarakat berpenghasilan rendah, serta warga di kawasan yang belum terlayani secara optimal.

Para pemimpin kota juga didorong membahas langkah konkret untuk meningkatkan keselamatan jalan melalui penyediaan infrastruktur yang lebih aman, pengendalian kecepatan, dan integrasi aspek keselamatan dalam perencanaan transportasi.

Keikutsertaan Makassar dalam forum tersebut membuka peluang pertukaran pengetahuan dan pengalaman dengan kota-kota lain, sekaligus memperkenalkan pendekatan infrastruktur hijau yang dikembangkan untuk menjawab tantangan lingkungan perkotaan.

Penulis : Awal

 Komentar