Ika Unhas

IKA Unhas Siapkan Modal Usaha Rp1,5 Miliar, 33 Mahasiswa Presentasikan Ide Bisnis

Awal Febri
Awal Febri

Sabtu, 17 Oktober 2026 10:35

IKA Unhas Siapkan Modal Usaha Rp1,5 Miliar, 33 Mahasiswa Presentasikan Ide Bisnis

MAKASSAR, Trotoar.id — Di balik gagasan bisnis yang dipresentasikan, tersimpan beragam cerita perjuangan mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas).

Ada yang ingin merintis usaha minuman, mengembangkan bisnis kue bersama ibu, hingga melanjutkan usaha penjualan sekam padi demi membiayai pendidikan.

Beragam kisah tersebut mengemuka dalam seleksi calon peserta Akademi Wirausaha Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) di lantai III AAS Building, Makassar, Jumat (16/10/2026).

Program yang disiapkan Pengurus Pusat IKA Unhas periode 2026–2030 ini dirancang untuk mendorong mahasiswa baru menjadi wirausahawan muda melalui pendampingan dan bantuan modal usaha yang tidak wajib dikembalikan.

Sebanyak 33 calon peserta mengikuti presentasi rencana bisnis setelah melewati proses seleksi dari 467 mahasiswa baru Unhas angkatan 2026 yang sebelumnya mengikuti sosialisasi program.

Ketua Panitia Pelantikan IKA Unhas, Muhammad Ramli Rahim, mengatakan seleksi dilakukan secara bertahap untuk menjaring mahasiswa yang memiliki kesungguhan serta gagasan bisnis dengan prospek pengembangan.

“Setelah kami kurasi, akhirnya tersisa 33 calon peserta. Dan hari ini, kami undang seluruh calon peserta untuk memaparkan rencana bisnis mereka,” kata Ramli.

Dalam sesi presentasi, setiap calon peserta diminta menjelaskan konsep usaha, strategi pemasaran, kebutuhan modal, hingga potensi keuntungan dari bisnis yang ingin dijalankan atau dikembangkan.

IKA Unhas telah menyiapkan anggaran bantuan modal sebesar Rp1,5 miliar. Dana tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang memiliki keseriusan membangun usaha dan ingin mengembangkan kemandirian ekonomi sejak bangku kuliah.

Ramli yang akrab disapa MRR mengatakan, anggaran tersebut masih berpeluang bertambah melalui partisipasi alumni dan pengurus IKA Unhas lainnya.

“Kami siapkan anggaran bantuan modal kepada para mahasiswa baru yang betul-betul berkeinginan menjadi seorang pengusaha. Ini masih berpotensi bertambah karena semua alumni, apalagi pengurus, boleh berpartisipasi,” jelasnya.

Modal Usaha Tak Wajib Dikembalikan

Salah satu hal yang membedakan Akademi Wirausaha IKA Unhas adalah skema bantuan modal yang tidak mewajibkan mahasiswa mengembalikan dana yang diterima.

Meski demikian, Ramli berharap mahasiswa yang berhasil mengembangkan usahanya memiliki kepedulian untuk mengembalikan bantuan secara sukarela. Dengan begitu, dana tersebut dapat dimanfaatkan kembali untuk membantu mahasiswa lain yang ingin merintis usaha.

“Jika dikembalikan, maka dana itu akan kami salurkan kembali kepada mahasiswa Unhas yang ingin berbisnis,” tegasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa bantuan tersebut harus benar-benar digunakan untuk kepentingan usaha, bukan kebutuhan lain di luar peruntukannya.

Untuk memastikan penggunaan dana tepat sasaran, IKA Unhas menerapkan mekanisme pembelian kebutuhan usaha melalui organisasi. Jika mahasiswa membutuhkan peralatan atau perlengkapan untuk menjalankan bisnis, kebutuhan tersebut dapat diajukan agar proses pembelian dan pembayarannya dilakukan langsung oleh IKA Unhas.

“Harus untuk berbisnis,” katanya.

Sekretaris Jenderal IKA Unhas, Prof. Murtir Jeddawi, menambahkan bahwa program ini bukan sekadar memberikan bantuan keuangan. Akademi Wirausaha juga menjadi sarana untuk membangun kejujuran, integritas, dan tanggung jawab mahasiswa dalam mengelola usaha.

“Kita ingin bantuan modal yang diberikan IKA Unhas betul-betul digunakan untuk berwirausaha. Bukan untuk hal lain,” tegas Murtir.

Direktur AAS Foundation, Andi Rezky Muliadi, yang turut mengikuti sesi presentasi, menilai program tersebut memiliki nilai sosial karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar berbisnis sekaligus memperoleh dukungan dalam merintis usaha.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial. Di mana, selain dibantu, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk belajar berwirausaha,” kata Eki, sapaan Andi Rezky.

Kisah Al May, Bertahan Lewat Usaha Kue Bersama Ibu

Satu per satu calon peserta memaparkan rencana bisnis mereka. Muhammad Ramli Rahim, Andi Rezky Muliadi, dan Direktur Eksekutif IKA Unhas, Salahuddin Alam, turut mengajukan pertanyaan serta memberikan masukan terkait strategi usaha, pemasaran, dan perhitungan keuntungan.

Peserta pertama, Reslin Amelia, mahasiswi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya, mempresentasikan rencana bisnis minuman segar atau fresh drink. Ia melihat peluang usaha tersebut masih terbuka, terutama jika mampu menawarkan cita rasa dan konsep yang berbeda dari produk sejenis.

Namun, suasana presentasi berubah haru ketika peserta kedua, Nur Al May Syahrah Yanwar dari Fakultas Ilmu Budaya, menceritakan usaha kue yang dijalankannya bersama sang ibu.

Air matanya tak terbendung saat menceritakan kepergian ayahnya pada Maret lalu. Sejak kehilangan sosok ayah, usaha kue yang mereka jalankan menjadi salah satu sumber penghidupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Bapak meninggal bulan Maret lalu. Makanya bisnis kue ini saya dan mama yang geluti untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tuturnya dengan suara bergetar.

Al May berusaha melanjutkan presentasinya meski beberapa kali tak kuasa menahan tangis.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian mahasiswa, berwirausaha bukan semata-mata tentang mengejar keuntungan. Usaha juga menjadi jalan untuk membantu keluarga sekaligus mempertahankan keberlangsungan pendidikan.

Di tengah suasana haru itu, para penguji tetap memberikan masukan agar setiap gagasan bisnis disertai perencanaan yang matang dan dapat dijalankan secara mandiri.

Salahuddin Alam mengingatkan bahwa tujuan Akademi Wirausaha bukan sekadar menyalurkan bantuan modal, melainkan membentuk mahasiswa agar mampu menjadi pelaku usaha yang bertanggung jawab.

“Untuk adik-adik, pahami bahwa kami ingin kalian belajar berwirausaha pada program ini. Tetapi usaha itu harus dilakukan oleh kalian. Bukan orang lain,” kata Salahuddin.

Dari Bisnis Minuman hingga Penjualan Sekam Padi

Dari 33 calon peserta, mayoritas mengajukan gagasan usaha makanan dan minuman. Sejumlah peserta lainnya menawarkan bisnis sembako, konveksi, penjualan pakaian, jasa makeup artist, hingga usaha menjahit.

Namun, ada pula gagasan bisnis yang tidak biasa, yakni penjualan sekam padi.

Putri Salsabila, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, mengajukan rencana usaha yang sebelumnya telah digeluti kedua orang tuanya.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Putri berupaya melanjutkan usaha tersebut. Baginya, bisnis sekam padi bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan sekaligus upaya membantu membiayai kuliah.

“Kami membeli sekam dari pabrik beras lalu kami jual ke perusahaan peternakan. Sekam digunakan untuk alas kandang,” kata Putri optimistis.

Ia menjelaskan, usaha tersebut menghasilkan margin lebih dari Rp1.000 per karung. Meski terlihat sederhana, sekam padi memiliki pasar tersendiri karena dibutuhkan perusahaan peternakan sebagai alas kandang.

Pengalaman Putri menunjukkan bahwa peluang usaha tidak selalu harus dimulai dari sektor yang sedang populer. Bisnis yang dekat dengan lingkungan keluarga dan memiliki pasar jelas pun dapat menjadi sumber penghasilan apabila dikelola dengan baik.

Membangun Kemandirian Sejak Bangku Kuliah

Presentasi rencana bisnis berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 15.00 WITA, dengan jeda untuk pelaksanaan salat Jumat.

Beragam gagasan yang muncul memperlihatkan latar belakang dan kebutuhan yang berbeda di antara para calon peserta. Sebagian ingin memulai usaha dari nol, sementara lainnya berupaya mengembangkan bisnis keluarga untuk menopang kebutuhan hidup dan pendidikan.

Melalui Akademi Wirausaha, IKA Unhas berupaya menjadikan dukungan alumni lebih dari sekadar pemberian modal. Program ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menyusun perencanaan bisnis, menghitung keuntungan, memahami pemasaran, serta menjaga integritas dalam menjalankan usaha.

Bantuan modal juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mulai membangun kemandirian ekonomi tanpa harus menunggu menyelesaikan pendidikan.

Bagi mahasiswa seperti Al May dan Putri, kesempatan tersebut memiliki arti lebih luas. Usaha yang mereka perjuangkan bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan, tetapi juga tentang menjaga keberlangsungan hidup keluarga dan pendidikan.

Dari ruang presentasi di AAS Building, Akademi Wirausaha IKA Unhas mempertemukan gagasan bisnis dengan cerita perjuangan. Selanjutnya, tantangan bagi para peserta adalah membuktikan bahwa ide yang dipaparkan dapat diwujudkan menjadi usaha nyata, dikelola secara bertanggung jawab, dan berkembang secara berkelanjutan. (*)

Penulis : Addy

 Komentar