MAKASSAR, Trotoar.id — Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mengingatkan seluruh kader agar tidak terlena dengan kekuatan struktural partai.
Menurutnya, kedekatan dengan masyarakat dan kepedulian terhadap persoalan rakyat akan menjadi penentu penting bagi Golkar dalam menghadapi Pemilu 2029.
Pesan itu disampaikan IAS saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar di Sulawesi Selatan, melalui rangkaian kegiatan ziarah dan doa syukuran bersama jajaran pengurus, organisasi Hasta Karya, serta organisasi sayap partai.
IAS menyebut momentum hari jadi partai bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan kesempatan untuk melakukan introspeksi sekaligus memperkuat kesiapan menghadapi agenda politik mendatang.
Ia menilai waktu menuju Pemilu 2029 semakin terbatas. Karena itu, seluruh jajaran pengurus, mulai tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, harus segera memaksimalkan kerja organisasi dan memperkuat kehadiran di tengah masyarakat.
“Kita harus bekerja secara maksimal untuk capaian di tahun 2029. Waktu dua setengah tahun bukan waktu yang panjang,” tegas IAS.
IAS menekankan, kerja politik tidak boleh berhenti pada aktivitas internal partai ataupun mobilisasi kader menjelang pemilu.
Kerja politik, menurutnya, harus diwujudkan melalui kegiatan sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Ia secara khusus meminta kader Golkar yang mendapat amanah sebagai wakil rakyat untuk lebih peka terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
IAS menyinggung sejumlah persoalan yang menjadi perhatian publik, mulai dari fluktuasi harga kebutuhan pokok, kelangkaan bahan bakar minyak, hingga dampak kebakaran hutan yang mengganggu kehidupan masyarakat.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut membutuhkan perhatian bersama. Kader partai, terutama anggota fraksi di lembaga legislatif, tidak boleh bersikap pasif ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Ia menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan langsung oleh kader partai.
Namun, kehadiran dan kepedulian tetap diperlukan agar masyarakat tidak merasa menghadapi masalah sendirian.
Bagi IAS, kader Golkar harus mampu menjadi bagian dari upaya mencari solusi, menyerap aspirasi, serta mendorong penyelesaian persoalan melalui jalur dan kewenangan yang dimiliki.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa keberadaan kader di lembaga legislatif harus dibarengi tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.
IAS juga menyoroti perubahan perilaku masyarakat dalam menentukan pilihan politik. Ia menilai masyarakat semakin kritis, sementara perkembangan teknologi membuat informasi menyebar dengan cepat, baik informasi positif maupun negatif.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi tantangan tersendiri bagi partai politik dan para kadernya.
Kinerja kader kini tidak hanya dinilai melalui aktivitas formal atau kehadiran dalam agenda partai. Masyarakat juga dapat memantau, membandingkan, dan menilai sejauh mana wakil rakyat menjalankan tanggung jawabnya.
Karena itu, IAS meminta seluruh kader, termasuk pimpinan DPRD dan anggota fraksi Golkar, untuk meningkatkan perhatian terhadap aspirasi masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa kegagalan merespons perubahan tersebut dapat berdampak terhadap capaian elektoral partai pada pemilu mendatang.
Dalam situasi politik yang semakin kompetitif, menurut IAS, kedekatan dengan masyarakat harus dibangun melalui kerja nyata dan komunikasi yang berkelanjutan.
Dengan demikian, kepercayaan publik tidak hanya menjadi slogan organisasi, tetapi harus dibuktikan melalui kinerja kader di lapangan.
Di sisi organisasi, IAS memastikan konsolidasi Golkar Sulsel terus berjalan, termasuk penyelesaian Musyawarah Daerah (Musda) di tingkat kabupaten/kota.
Ia menjelaskan, kepengurusan DPD I Golkar Sulsel memiliki masa kerja yang mengacu pada surat keputusan pengurus pusat periode 2025–2030.
Dengan masa kerja efektif yang terbatas, penyelesaian agenda organisasi menjadi salah satu prioritas.
Menurutnya, konsolidasi kepengurusan di daerah harus berjalan seiring dengan penguatan kerja politik dan peningkatan kinerja kader.
Musda tidak boleh hanya menjadi forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga momentum untuk memperkuat struktur, menyatukan langkah, dan menetapkan arah kerja organisasi.
IAS menginginkan seluruh kepengurusan Golkar di Sulawesi Selatan memiliki orientasi yang jelas dalam menghadapi Pemilu 2029.
Ia menegaskan, persiapan tidak dapat dilakukan secara mendadak ketika tahapan pemilu semakin dekat. Sebaliknya, penguatan organisasi, pelayanan masyarakat, serta evaluasi kinerja harus dimulai sejak sekarang.
Bagi Golkar Sulsel, tantangan menuju 2029 bukan hanya mempertahankan basis dukungan yang sudah ada, melainkan memastikan seluruh kader mampu menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
Peringatan HUT ke-62 Partai Golkar di Sulawesi Selatan menjadi momentum bagi IAS untuk menegaskan kembali arah pembenahan organisasi.
Ia menginginkan seluruh kader menjaga konsistensi kerja, tidak terjebak dalam euforia perayaan, dan menjadikan kepentingan masyarakat sebagai bagian utama dari aktivitas politik.
Pesan tersebut sejalan dengan upaya Golkar Sulsel memperkuat konsolidasi internal dan menyiapkan target peningkatan perolehan kursi pada Pemilu 2029.
Pada akhirnya, IAS menempatkan kerja nyata, kepekaan sosial, dan kedisiplinan organisasi sebagai pekerjaan yang harus berjalan beriringan.
Sebab, di tengah masyarakat yang semakin kritis dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, kekuatan partai tidak cukup diukur dari besarnya struktur kepengurusan.
Kinerja kader dan kemampuan merespons persoalan rakyat juga menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan kepercayaan publik.




Komentar