MAKASSAR, Trotoar.id — Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mulai memacu konsolidasi internal partai berlambang pohon beringin itu dengan menetapkan target peningkatan perolehan kursi legislatif hingga 50 persen pada Pemilu 2029.
IAS menegaskan, Golkar Sulsel perlu mengubah pendekatan politik. Orientasi partai tidak cukup hanya menggaungkan kemenangan, tetapi harus diterjemahkan ke dalam target elektoral yang terukur, yakni penambahan jumlah kursi di lembaga legislatif.
Menurut IAS, penambahan kursi menjadi indikator konkret untuk mengukur keberhasilan kerja politik dan konsolidasi organisasi di semua tingkatan.
“Tagline-nya tidak usah harus menang, menang, menang. Yang penting kita tambah kursi,” demikian penegasan IAS dalam pidatonya.
Ia menjelaskan, target peningkatan 50 persen tersebut menjadi komitmen politik yang harus diperjuangkan seluruh jajaran Golkar Sulsel. Dengan target itu, perolehan kursi Golkar di DPRD Sulsel ditargetkan meningkat dari 14 menjadi 21 kursi.
Sementara di DPRD Kota Makassar, Golkar membidik kenaikan dari enam menjadi sembilan kursi.
Target tersebut menuntut kerja politik yang lebih terukur, terencana, dan berkelanjutan. IAS mengingatkan, mempertahankan capaian yang telah diraih berbeda dengan merebut tambahan dukungan politik.
Menurutnya, upaya meningkatkan perolehan kursi membutuhkan energi, waktu, serta kerja organisasi yang lebih besar. Karena itu, seluruh perangkat partai harus dipersiapkan sejak dini untuk menghadapi kontestasi politik 2029.
IAS menilai dinamika politik saat ini mengalami perubahan mendasar. Masyarakat semakin kritis dan cerdas dalam menentukan pilihan politik sehingga partai tidak bisa lagi hanya mengandalkan popularitas, simbol, atau kekuatan struktural.
Pemilih, kata dia, akan menilai sejauh mana partai politik memiliki kepedulian nyata terhadap kepentingan masyarakat.
“Apakah Partai Golkar sekarang betul-betul punya kepedulian kepada kepentingan rakyat?” ujarnya.
Bagi IAS, pertanyaan tersebut harus dijawab melalui tindakan nyata, bukan sebatas slogan politik. Ia menekankan, kerja politik semestinya diwujudkan dalam kegiatan sosial dan program yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa Golkar memiliki sejarah panjang dalam kehidupan politik masyarakat Sulawesi Selatan. Karena itu, kedekatan historis dan kultural tersebut harus diikuti dengan komitmen untuk terus hadir dan bekerja bagi masyarakat.
IAS menegaskan, tidak boleh ada jarak antara partai dan rakyat. Kantor partai harus menjadi ruang terbuka bagi masyarakat maupun kader yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan organisasi.
Ia bahkan mengibaratkan partai politik sebagai perusahaan pemasaran yang harus mampu memperlihatkan kualitas produk dan aktivitasnya kepada publik.
Dalam konteks politik, produk tersebut tidak lain adalah kerja nyata, program, serta kontribusi kader yang dapat dirasakan masyarakat.
Menurutnya, aktivitas partai harus berjalan secara konsisten, bukan hanya meningkat menjelang momentum pemilu. Dengan demikian, kehadiran Golkar dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Selain memperkuat konsolidasi, IAS menyiapkan mekanisme evaluasi terhadap pengurus dan kader, terutama mereka yang mendapatkan mandat politik dari partai.
Evaluasi akan dimulai dari proses Musyawarah Daerah (Musda) Golkar tingkat kabupaten/kota yang dijadwalkan berlangsung mulai November 2026.
IAS menyatakan, para ketua DPD II yang terpilih akan diminta menandatangani pakta integritas sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan kinerja organisasi dan capaian elektoral.
Menurut dia, perkembangan elektoral setiap kepengurusan akan dipantau secara berkala. Jika dalam enam bulan tidak terdapat peningkatan sesuai target, partai akan melakukan evaluasi.
Langkah tersebut dimaksudkan agar kepengurusan di tingkat kabupaten/kota tidak berhenti pada seremoni pergantian kepemimpinan, tetapi langsung bekerja membangun kekuatan organisasi dan memperluas dukungan masyarakat.
Mulai awal 2027, DPD I Golkar Sulsel berencana memantau kinerja kader yang memperoleh mandat partai di lembaga legislatif, termasuk pimpinan DPRD dan perangkat alat kelengkapan dewan.
Evaluasi direncanakan dilakukan setelah dua setengah tahun masa kerja untuk menilai pelaksanaan tugas, kontribusi, serta kinerja masing-masing kader.
Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan pertimbangan partai dalam menentukan langkah organisasi berikutnya.
Dengan mekanisme ini, IAS ingin memastikan bahwa jabatan politik yang diperoleh kader melalui partai diikuti tanggung jawab dan kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi internal, IAS juga mendorong pembenahan tata kelola organisasi dan infrastruktur partai.
Ia mengatakan, kantor partai harus terbuka bagi seluruh kader dan masyarakat. Tidak boleh ada sekat yang membuat orang merasa sungkan atau kesulitan ketika ingin datang dan berpartisipasi.
Keterbukaan tersebut, menurut IAS, merupakan bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih dinamis dan responsif.
Ia juga mengungkapkan rencana pembangunan fasilitas kantor DPD I Golkar Sulsel yang lebih representatif, termasuk ruang pleno yang mampu menampung sekitar 400 orang.
Rencana itu menjadi bagian dari kebutuhan organisasi dengan jumlah pengurus yang mencapai 197 orang.
IAS menekankan pentingnya semangat kebersamaan dalam membangun organisasi. Ia mengingatkan agar pembangunan fasilitas partai tidak menjadi alasan bagi pihak tertentu untuk mengklaim keberhasilan secara pribadi.
Sebaliknya, setiap capaian harus dipandang sebagai hasil kerja bersama seluruh kader.
Ia turut menyinggung pengalamannya membangun kantor Golkar Kota Makassar pada 2000. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan organisasi membutuhkan visi, perencanaan, dan kesinambungan antara kepengurusan.
Bagi IAS, kekuatan partai tidak hanya ditentukan oleh besarnya struktur kepengurusan, tetapi juga oleh kemampuan seluruh perangkat organisasi bekerja dalam satu arah.
IAS juga menjadikan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar sebagai momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menyiapkan langkah menghadapi Pemilu 2029.
Ia berharap semangat yang terbangun dalam peringatan hari jadi tidak berhenti pada euforia sesaat. Menurutnya, tantangan terbesar dalam mengelola organisasi adalah menjaga konsistensi kerja setelah semangat awal kepengurusan mulai mereda.
IAS mengingatkan, konsolidasi dan aktivitas partai harus berlangsung secara berkesinambungan, bukan hanya meningkat ketika pemilu semakin dekat.
Ia berharap, dalam dua tahun mendatang, Golkar Sulsel dapat memperkuat kerja organisasi dan mempersiapkan diri untuk mencapai target penambahan kursi.
Puncaknya, pada peringatan HUT ke-65 Partai Golkar, ia berharap seluruh kader dapat merayakan hasil kerja politik yang telah dilakukan, termasuk peningkatan perolehan kursi legislatif.
Harapan tersebut, kata dia, harus dibarengi kerja keras, kedisiplinan organisasi, dan kebersamaan seluruh kader.
Bagi IAS, keberhasilan Golkar menghadapi Pemilu 2029 tidak dapat dibangun hanya melalui instruksi pimpinan. Seluruh pengurus dan kader harus mengambil bagian dalam kerja politik yang terukur dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Penambahan kursi, pembenahan organisasi, keterbukaan terhadap masyarakat, serta evaluasi kinerja kader menjadi rangkaian strategi yang disiapkan Golkar Sulsel untuk menghadapi kontestasi politik mendatang.
Dengan target peningkatan perolehan kursi hingga 50 persen, tantangan Golkar Sulsel kini bukan sekadar mempertahankan posisi yang telah dicapai, melainkan membuktikan sejauh mana konsolidasi dan kerja nyata partai mampu menghasilkan pertumbuhan dukungan elektoral pada Pemilu 2029.




Komentar