MAKASSAR, Trotoar.id — Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), mengingatkan pentingnya menjaga demokrasi dan soliditas kader dalam menghadapi rangkaian Musyawarah Daerah (Musda) Golkar di tingkat kabupaten/kota.
IAS menegaskan, demokrasi di tubuh Partai Golkar tidak harus selalu berakhir dengan konsensus. Menurutnya, perbedaan kepentingan dan pilihan dalam proses organisasi merupakan bagian dari dinamika politik yang harus dikelola secara dewasa.
Ia menginginkan setiap proses pengambilan keputusan berlangsung dengan mengedepankan komunikasi, pendekatan personal, dan pemahaman bersama, tanpa menimbulkan kekecewaan yang berpotensi mengganggu keutuhan partai.
“Partai Golkar ini partai yang sangat menjunjung demokrasi. Tetapi demokrasi itu tidak harus selalu dilaksanakan dalam sebuah konsensus,” ujar IAS.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa proses konsolidasi organisasi menjelang Musda tidak semata-mata mengejar kesepakatan, tetapi juga harus mempertimbangkan aspirasi dan perasaan kader yang terlibat di dalamnya.
IAS menilai, politik tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Karena itu, perbedaan pandangan di internal partai perlu disikapi melalui dialog dan komunikasi yang terbuka.
Ia mendorong jajaran pengurus untuk membangun pendekatan persuasif kepada para kader agar setiap agenda organisasi dapat berjalan dengan baik.
Menurutnya, konsensus yang terbentuk tanpa pengelolaan aspirasi secara matang justru berisiko menimbulkan persoalan baru.
Kekecewaan dan kemarahan, kata IAS, dapat memengaruhi loyalitas kader, bahkan berujung pada keputusan untuk mundur atau berpindah ke partai lain.
“Kita tidak mau seperti itu,” tegasnya.
Karena itu, IAS meminta seluruh elemen Golkar mengedepankan kedewasaan politik dalam menyikapi dinamika organisasi. Perbedaan pilihan tidak boleh menjadi alasan untuk merusak hubungan antar kader ataupun melemahkan soliditas partai.
Pesan IAS tersebut menjadi relevan menjelang pelaksanaan Musda Golkar kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Forum ini menjadi bagian penting dari proses regenerasi kepemimpinan sekaligus konsolidasi organisasi menghadapi Pemilu 2029.
Dalam proses tersebut, perbedaan dukungan terhadap calon ketua merupakan dinamika yang perlu dikelola sesuai mekanisme dan aturan organisasi.
IAS menginginkan para kader memahami bahwa kepentingan organisasi harus tetap menjadi perhatian bersama, terlepas dari perbedaan pilihan dalam kontestasi kepemimpinan.
Pendekatan personal dan komunikasi persuasif diharapkan dapat mencegah persaingan internal berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Namun, menjaga soliditas tidak berarti meniadakan demokrasi. Sebaliknya, proses demokratis perlu memberi ruang bagi aspirasi kader sekaligus memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai ketentuan partai.
Bagi IAS, kedewasaan dalam menghadapi perbedaan menjadi salah satu tantangan penting bagi Golkar Sulsel dalam menata kepengurusan di daerah.
Di tengah persiapan menghadapi Pemilu 2029, Golkar Sulsel dituntut menjaga keseimbangan antara konsolidasi organisasi dan penguatan kerja politik di tengah masyarakat.
Perbedaan kepentingan dalam Musda, jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menyita energi organisasi yang seharusnya digunakan untuk memperkuat pelayanan masyarakat dan meningkatkan kinerja kader.
Karena itu, IAS menekankan pentingnya sikap dewasa, keterbukaan komunikasi, serta kesediaan untuk duduk bersama dalam menyelesaikan perbedaan.
Pesan utamanya jelas: demokrasi internal harus tetap terjaga, sementara soliditas kader perlu dipelihara agar dinamika pergantian kepemimpinan tidak berkembang menjadi perpecahan.
Bagi Golkar Sulsel, keberhasilan konsolidasi bukan hanya ditentukan oleh terbentuknya kepengurusan baru, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kebersamaan setelah proses Musda berakhir.




Komentar