MAKASSAR, Trotoar.id — Kinerja Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mendapat penilaian positif dari kelompok anak muda.
Dalam Survei Nasional Muda Bicara ID tentang Pandangan Kelompok Muda, Andi Sudirman masuk 10 besar gubernur dengan penilaian kinerja baik, menempati peringkat kedelapan dengan tingkat penilaian 35,7 persen.
Survei yang melibatkan 800 responden kelompok muda tersebut dilaksanakan pada 15 September hingga 10 Oktober 2026.
Hasilnya menjadi salah satu gambaran persepsi anak muda terhadap kinerja kepala daerah, termasuk dalam menjalankan pembangunan dan menghadirkan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Hasanuddin (Unhas), Rizal Pauzi, menilai salah satu aspek yang berpotensi mendapat apresiasi masyarakat, khususnya kalangan muda, adalah program pembangunan yang manfaatnya dapat dilihat dan dirasakan secara langsung.
Ia menyoroti program Multi Years Project (MYP) yang dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, terutama dalam pembangunan infrastruktur jalan, rehabilitasi jaringan irigasi, dan pembangunan rumah sakit regional.
“Salah satunya adalah program Multi Years Project (MYP), yang hasil pembangunannya dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” kata Rizal dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Menurut Rizal, di tengah kebijakan efisiensi anggaran, pembangunan infrastruktur tetap menjadi kebutuhan mendasar yang harus diprioritaskan pemerintah daerah.
Ia menilai program MYP senilai Rp3,7 triliun menunjukkan upaya Pemprov Sulsel memperluas pembangunan, termasuk menjangkau wilayah yang membutuhkan peningkatan konektivitas dan akses pelayanan dasar.
Program tersebut mencakup pembangunan dan perbaikan jalan, rehabilitasi daerah irigasi, serta pembangunan dua rumah sakit regional.
Dari total anggaran MYP, sekitar Rp2,5 triliun dialokasikan untuk sektor jalan. Program ini mencakup penanganan sekitar 1.000 kilometer jalan yang terbagi dalam kurang lebih 83 ruas dan tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.
Selain itu, sekitar Rp780 miliar dialokasikan untuk pembangunan dan rehabilitasi irigasi yang ditujukan untuk mendukung layanan pengairan bagi 54.000 hektare lahan persawahan.
Sementara itu, pembangunan Rumah Sakit Regional Selatan di Gowa dan Rumah Sakit Regional Utara di Luwu memiliki nilai anggaran sekitar Rp485 miliar.
Keseluruhan proyek tersebut ditargetkan rampung pada 2027.
Rizal menilai, keberanian pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan menjadi faktor penting untuk menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam memperbaiki akses transportasi, mendukung produktivitas pertanian, dan memperluas jangkauan pelayanan kesehatan.
“Saya melihat Gubernur Andi Sudirman Sulaiman memiliki keberanian mengambil kebijakan dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur, karena memang itu yang paling dibutuhkan masyarakat,” ungkapnya.
Meski demikian, manfaat pembangunan tersebut perlu terus diukur melalui kualitas infrastruktur yang dihasilkan, peningkatan konektivitas antarwilayah, serta dampaknya terhadap aktivitas ekonomi dan akses pelayanan publik.
Selain pembangunan infrastruktur, indikator perekonomian juga menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan Sulawesi Selatan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Sulawesi Selatan pada triwulan II 2026 tumbuh 5,59 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,29 persen pada periode yang sama.
Pertumbuhan ekonomi Sulsel ditopang sejumlah sektor unggulan, antara lain pertanian, perdagangan, konstruksi, dan industri pengolahan.
Sektor-sektor tersebut memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian daerah, menciptakan aktivitas usaha, serta menopang pendapatan masyarakat.
Pembangunan infrastruktur diharapkan turut memperkuat kontribusi sektor-sektor tersebut melalui peningkatan akses distribusi barang, konektivitas sentra produksi, dan kelancaran mobilitas masyarakat.
Namun, pertumbuhan ekonomi yang positif juga perlu diikuti pemerataan manfaat agar peningkatan aktivitas ekonomi dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai wilayah, termasuk kelompok berpendapatan rendah dan pelaku usaha kecil.
Dari sisi kesejahteraan sosial, data BPS menunjukkan jumlah penduduk miskin di Sulawesi Selatan pada Maret 2026 mencapai 669,63 ribu orang atau 7,24 persen dari total penduduk.
Jumlah tersebut berkurang 15,51 ribu orang dibandingkan kondisi September 2025.
Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,66 persen, turun 0,29 poin persentase dibandingkan Februari 2026.
Adapun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulawesi Selatan pada 2025 mencapai 75,92, meningkat dari 75,18 pada 2024.
Perkembangan sejumlah indikator tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi dan sosial Sulawesi Selatan.
Meski demikian, penurunan kemiskinan dan pengangguran serta peningkatan IPM merupakan hasil dari berbagai faktor dan kontribusi lintas sektor, sehingga tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu program atau kebijakan.
Masuknya Andi Sudirman dalam 10 besar gubernur dengan penilaian kinerja baik versi survei kelompok muda menjadi salah satu gambaran persepsi publik terhadap kepemimpinan di daerah.
Bagi pemerintah daerah, penilaian tersebut sekaligus menjadi tantangan untuk menjaga konsistensi pembangunan, memastikan program berjalan sesuai target, dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat.
Pembangunan jalan yang menjangkau wilayah terpencil, peningkatan layanan irigasi bagi petani, serta penguatan fasilitas kesehatan menjadi sejumlah aspek yang dapat dinilai masyarakat melalui manfaat konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau jumlah proyek yang dikerjakan, tetapi juga dari kualitas hasilnya, pemerataan manfaat, dan kontribusinya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Selatan.




Komentar