TROTOAR.ID, Makassar – Rektor UIN Alauddin Makassar Prof Hamdan Juhannis menyiapkan sejumlah rencana untuk membangun kualitas Sumber Daya Manusia. Ia mencanangkan gerakan 100 buah buku yang bertemakan Moderasi Beragama yang direncanakan terbit setiap tahun.
Hal itu bertujuan untuk membangun strategis dalam menyebarkan ide-ide moderasi, juga menjadi lumbung produksi dai-dai atau mubaligh-mubaligh yang secara rutin berinteraksi dengan masyarakat luas di kawasan Timur Indonesia.
Modal ini tentu telah dan sedang dikapitalisasi secara bersama-sama dengan menghadirkan dai-dai alumni UIN Alauddin Makassar yang berkarir di berbagai tempat, baik pada panggung lokal maupun secara nasional. Selain itu, keberpihakan terhadap moderasi
Suasana pelaksanaan Dies Natalis ke-55 UIN Alauddin Makassar, Jl. Romang Polong, Samata Kab. Gowa. Rabu (11/11/2020). beragama ditunjukkan kepada karya-karya akademik mahasiswa.
“Insya Allah, selama periode kepemimpinan ini, nafas moderasi beragama ini akan terus kita jadikan tema sentral dalam gerakan 100 buku yang diadakan setiap tahun. Saya tentu berharap bahwa pada momentum dies natalis 55 ini, juga kita launching 100 buku referensi yang menandai diseminasi spirit moderasi beragama melalui berbagai karya akademik yang siap didistribusikan ke berbagai lembaga dan instansi terkait,” katanya.
Pada momentum dies natalis ke-55 itu, Wakil Menteri Agama mencanangkan penandatanganan prasasti rumah moderasi beragama agar semua elemen kampus memiliki komitmen bersama dalam menyebarkan spirit moderasi keberagamaan kepada masyarakat luas.
Selain itu, Guru Besar Sosiologi Pendidikan itu berpacu menaikkan akreditas Program Studi (Prodi). Ia menargetkan di masa kepemimpinannya tak ada lagi program studi terakreditasi C.
Tak hanya itu, rencana disiapkan untuk membangun kampus yang dulu bernama Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Mulai dari Target lebih besarnya berpacu membenahi kualitas pendidikan dari mahasiswa ke tenaga pengajar. Takarannya yakni menaikkan akreditasi jurusan atau prodi. Akreditasinya, meningkat C harus naik B, atau B ke akreditasi A.
Baginya akreditasi menjadi ruh atau nyawa kampus serta bekal lulusan kedepannya untuk percaya diri berkembang di luar setelah lulus.
“Saya memang menargetkan hingga akhir kepemimpinan tidak ada lagi prodi yang akreditasinya C,” ucapnya. Ungkapnya tegas.
Klik angka di bawah untuk lanjut membaca>>>




Komentar