JAKARTA—Koalisi Ulama, Habaib, dan Pengacara Anti Penodaan Agama melapor KSAD, Jenderal TNI Dudung Abdurachman ke Pusat Polisi Militer TNI AD (Puspomad).
“Tuhan bukan orang Arab” kata Dudung dalam podcast yang diunggah di Youtube. Hal ini yang diduga jadi penyebab pelaporan itu.
Panglima TNI, Andika Perkasa pun diminta menengahi kasus ini, hal ini diterangkan oleh Ketua Rekat Indonesia Raya, Eka Gumilar.
Menurutnya, pertemuan kedua belah pihak sangat penting dalam menjunjung tali silaturahmi untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
“Pertahanan yang kuat sebuah negara adalah bersatunya antara ulama dan umaro,” kata Eka kepada wartawan, Jumat, 4 Februari.
Eka menilai, jika Panglima TNI memfasilitasi pertemuan jajaran tinggi TNI dan ulama sebagai forum silaturahmi, maka hal itu bakal membawa keberkahan dan manfaat bagi umat.
“Sebaiknya semua pihak difasilitasi, termasuk Jenderal Dudung agar kembali harmonis. Tiang penyangga negara ini ya TNI dan ulama, kalau keduanya gak harmonis, bahaya bangsa ini,” katanya.
Disisi lain, Eka meminta semua pihak, termasuk pelapor menempuh jalur tabayun terlebih dahulu. Menurut dia, Tabayun merupakan langkah yang sangat penting untuk mengetahui maksud dan tujuan apa yang disampaikan Jenderal Dudung.
“Akan lebih bijak kita lihat tujuannya, tidak hanya fokus kepada kesalahannya. Bukankah Pak Dudung menyampaikan beliau ketika berdoa dalam bahasa Indonesia, doanya doa kebaikan ingin menolong orang lain, mungkin cara penyampaian Pak Dudung dapat menimbulkan salah tafsir, tapi jangan lupa dilihat tujuannya beliau juga baik. Yang salah itu kalau kita tidak pernah berdoa,” katanya.
Eka pun meminta semua pihak terus menjunjung persatuan dan kesatuan bangsa serta menghindari hal-hal yang berpotensi memecah belah bangsa.
“Rakyat, TNI, dan ulama jangan sampai dibentur-benturkan. Kita tujuannya ingin merekatkan dan menyejukkan semua pihak, agar bangsa ini terus damai dan nyaman,” tandasnya.




Komentar