Pemprov Sulsel

Gerak Cepat Gubernur Andi Sudirman, Mobile Clinic hingga Operasi RSUD Pidie Jaya Digelar Nonstop

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Jumat, 12 Desember 2025 18:50

Gerak Cepat Gubernur Andi Sudirman, Mobile Clinic hingga Operasi RSUD Pidie Jaya Digelar Nonstop
Gerak Cepat Gubernur Andi Sudirman, Mobile Clinic hingga Operasi RSUD Pidie Jaya Digelar Nonstop

MAKASSAR, Trotoar.id  — Respons cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan kembali menjadi penopang penting dalam penanganan bencana banjir besar yang melanda Aceh. 

Setelah mengirim tim medis pada awal Desember, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, kembali memimpin penyaluran bantuan lanjutan, termasuk mengerahkan 100 tenaga kesehatan ke Aceh Tamiang pada Kamis, 11 Desember 2024.

Salah satu tenaga medis yang pertama diterjunkan pada fase awal adalah dr. Muh Ilham Iskandar, SpPD. Ia masih mengingat jelas kondisi yang disaksikan ketika tim memasuki Pidie Jaya. 

Udara lembap, bau lumpur pekat, dan bangunan yang porak-poranda menyambut bahkan sebelum mereka mencapai pusat lokasi terdampak. “Gambaran itu sulit dihapus dari ingatan,” ujarnya.

Menurut dr. Ilham, langkah cepat Gubernur Sulsel menjadi kunci mobilisasi awal. Hanya dalam satu malam, tim disiapkan dan diberangkatkan menuju tiga provinsi terdampak. 

“Itu sebabnya kami bisa bergerak cepat,” katanya. 

Setiba di Banda Aceh, tim langsung melapor ke Posko HEOC sebelum diarahkan ke Kabupaten Pidie Jaya untuk koordinasi dengan RSUD Pidie Jaya dan tim medis setempat.

Kolaborasi lintas lembaga menjadi kekuatan besar dalam misi kemanusiaan ini. Pemprov Sulsel, Unhas, Unsyiah, TBM Calcaneus, serta Keperawatan Unhas (Siaga Ners) bergerak bersama, didukung sarana ambulans dari RSUD Pidie Jaya sehingga pelayanan mobile clinic dapat digelar. 

Selama empat hari, tim berpindah dari Desa Beringin, Manesah Balek, Teupin Pukat, hingga Seunong.

Setiap titik menunjukkan tingginya kebutuhan medis, terutama ISPA, penyakit kulit, luka infeksi, dan diare pada anak-anak. “Ada warga yang sudah beberapa hari belum mandi karena tidak ada air bersih,” ungkap dr. Ilham. Setiap hari, tim menangani 100–150 pasien.

Dalam penanganan lapangan, dr. Ilham tidak bekerja sendirian. Ia didampingi para spesialis, seperti dr. Pasrah Kitta, Sp.An (Anestesi), dr. M. Alief Akbar, Sp.A (Anak), serta H. Arsyad, S.Kep., Ns. (Perawat Ahli Anestesi), dan diperkuat tenaga medis serta relawan lainnya. 

Formasi ini memungkinkan tim memberikan layanan mobile clinic, kunjungan rumah bagi warga yang tidak mampu datang ke posko, serta membantu layanan operasi di rumah sakit.

Banjir besar tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga melumpuhkan layanan kesehatan Pidie Jaya. 

Sejumlah tenaga kesehatan RSUD turut menjadi korban sehingga harus membagi waktu antara menjaga pasien dan mengurus keluarga. Dalam situasi ini, keberadaan tim medis Sulsel menjadi penguat utama.

Di RSUD Pidie Jaya, tim membantu menjalankan berbagai layanan kritis, termasuk operasi caesar darurat bersama dokter kandungan dan dokter anak setempat; operasi ortopedi dan debridement bersama dokter Unhas; serta penanganan gawat darurat untuk pasien dengan infeksi luka berat dan komplikasi pascabanjir. Distribusi obat yang tersendat dan akses jalan yang terputus membuat peran relawan semakin vital.

Selain layanan klinis, tim juga melakukan kunjungan rumah untuk lansia, pasien penyakit kronis, hingga ibu menyusui yang membutuhkan obat dan pemeriksaan lanjutan. 

Mereka menyalurkan bantuan logistik berupa makanan siap saji dan paket alat mandi ke tenda-tenda pengungsian yang berdesakan, dengan keterbatasan air bersih serta risiko penularan penyakit yang tinggi.

Bagi dr. Ilham, misi kemanusiaan ini menunjukkan bahwa batas administratif provinsi hilang ketika warga sedang menderita. 

Solidaritas terlihat di setiap titik: dokter Sulsel bekerja bersama dokter muda Aceh, relawan desa, hingga pemuda lokal yang membantu mengatur alur pasien. 

“Yang sering tidak terlihat itu beban mental tim medis. Kadang yang paling dibutuhkan warga adalah seseorang yang mau mendengar cerita mereka,” ucapnya.

Ia menegaskan bahwa fase pascabanjir justru lebih berbahaya. Penyakit berbasis air, infeksi kulit, ISPA, hingga pneumonia pada anak bisa meningkat cepat jika sanitasi tidak membaik. 

“Lima hari itu singkat, tetapi padat makna. Harapan kami, setelah semua berita berlalu, orang tetap ingat bahwa warga di sini membutuhkan lebih dari sekadar bantuan untuk hari ini,” tuturnya.

Pengalaman tim medis Sulsel di Pidie Jaya menunjukkan bahwa bencana ini bukan hanya darurat kesehatan, tetapi juga seruan untuk memperkuat mitigasi, adaptasi iklim, dan dukungan pemulihan jangka panjang. 

Kehadiran tenaga kesehatan yang bergerak cepat menjadi bukti nyata bahwa negara hadir untuk warga yang paling membutuhkan. (*)

Penulis : Awal

 Komentar

Berita Terbaru
Metro22 Januari 2026 20:01
Temui Wali Kota Makassar, KPU Makassar Bahas Sinergi Pemutakhiran Data
8 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO Makassar, Trotoar.id  — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyatakan dukungan penuh Pemerintah Ko...
News22 Januari 2026 19:36
Bapperida Sidrap Pandu Penginputan Data Aksi Penurunan Stunting di Aplikasi Kemendagri
8 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO Sidrap, Trotoar.id  — Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten S...
Nasional22 Januari 2026 19:34
Gubernur Sulsel Saksikan Penyerahan Black Box Pesawat ATR 42-500 PK-THT
9 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO Maros, Trotoar.id  — Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, menyaksikan langsung penyeraha...
Daerah22 Januari 2026 19:28
Diskominfo Sidrap Gelar Pembinaan Penginputan Data Satu Data Indonesia
8 / 100 Didukung oleh Rank Math SEO Skor SEO Sidrap, Trotoar.id  — Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidra...