JAKARTA, Trotoar.id — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menghadiri forum internasional The 8th Asia Pacific Cities Alliance for Health and Development (APCAT) Summit yang digelar di Hotel JW Marriott, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Senin (26/1/2026).
Pada ajang bergengsi tingkat Asia Pasifik tersebut, Munafri yang akrab disapa Appi dijadwalkan memaparkan materi terkait komitmen Kota Makassar sebagai kawasan bebas rokok, sekaligus memperkuat peran kota dalam isu kesehatan perkotaan di tingkat regional dan global.
APCAT Summit tahun ini mengusung tema “Together We Bring Health Solutions”, dan menjadi forum strategis bagi para pemimpin kota di kawasan Asia Pasifik untuk berbagi gagasan, inovasi, serta praktik terbaik dalam menjawab tantangan pembangunan kesehatan perkotaan yang berkelanjutan.
Baca Juga :
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, Bima Arya Sugiarto, didampingi Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.
Kehadiran para pemangku kebijakan nasional tersebut menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam membangun sistem kesehatan yang inklusif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Dalam forum tersebut, Wali Kota Makassar turut didampingi Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nursaidah Sirajuddin, serta Kepala Bagian Protokol Setda Kota Makassar, Andi Ardi Rahadian.
“Partisipasi ini menjadi penegasan posisi Kota Makassar sebagai salah satu kota yang aktif mengambil peran dalam percakapan regional dan global terkait pengembangan solusi kesehatan perkotaan,” ujar Munafri singkat sebelum kegiatan dimulai.
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menghadapi pengaruh korporasi yang terbukti berdampak negatif terhadap kualitas hidup masyarakat, khususnya industri tembakau.
Di hadapan para perwakilan kepala daerah dan delegasi dari berbagai negara, Bima Arya menyoroti agresivitas industri tembakau yang dinilainya terus mengancam masa depan generasi muda.
Ia memaparkan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat kelima dunia dalam prevalensi perokok, dengan angka mencapai 38,2 persen pada tahun 2026.
“Argumen mengenai dampak mematikan rokok bukan lagi sekadar opini, melainkan fakta ilmiah yang tidak terbantahkan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa penyampaian data dan edukasi mengenai bahaya rokok harus terus dilakukan secara konsisten demi melindungi kesehatan dan masa depan generasi bangsa.
Bima Arya juga mengingatkan bahwa strategi industri tembakau kini mengalami pergeseran. Jika sebelumnya promosi dilakukan secara terbuka, saat ini pendekatannya lebih bersifat subliminal, menyerupai iklan produk konsumsi sehari-hari.
Dalam konteks tersebut, ia meminta kepala daerah agar tetap konsisten dalam kebijakan pengendalian tembakau dan tidak tergoda oleh program Corporate Social Responsibility (CSR) industri rokok yang nilainya dinilai tidak sebanding dengan beban kesehatan dan biaya sosial yang ditanggung masyarakat.
“Pengendalian tembakau membutuhkan komitmen dan keberanian untuk berkata tidak terhadap pengaruh industri. Ini bukan semata kebijakan kesehatan, tetapi soal keberpihakan pada keselamatan dan kualitas hidup warga,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Bima Arya menyampaikan tiga pesan kunci bagi keberlanjutan gerakan APCAT ke depan, yakni inovasi, co-creation, dan regenerasi.
Inovasi diperlukan untuk memperkuat riset dan kampanye yang relevan dengan karakter generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Y. Sementara co-creation ditekankan sebagai model kemitraan setara antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dalam merumuskan solusi bersama.
Adapun regenerasi kepemimpinan dinilai penting agar gerakan pengendalian tembakau tetap berkelanjutan dan terus diperbarui oleh generasi penerus.
“Saya berharap APCAT terus menjadi motor penggerak kolaborasi lintas kota dan lintas negara dalam melindungi kesehatan masyarakat dari dampak buruk industri tembakau,” pungkasnya. (*)











Komentar