MAKASSAR, TROTOAR.ID — Dinamika situasi global yang terus berkembang dinilai akan sangat mempengaruhi arah politik nasional di masa depan, sekaligus menjadi tantangan besar bagi generasi muda dalam membangun tatanan dunia baru.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi bertajuk “Situasi Global dan Arah Politik Negeri” yang digelar oleh Pandu Institute.
Forum ini menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Rocky Gerung, Hamid Awaluddin, serta pengamat politik Luhur Prianto.
Baca Juga :
Dalam diskusi tersebut, para pembicara mengulas keterkaitan erat antara dinamika geopolitik global dengan arah kebijakan politik dalam negeri, termasuk implikasinya bagi posisi Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia.
Dalam pemaparannya, Rocky Gerung menyoroti bahwa kondisi global saat ini sejatinya telah diprediksi oleh Soekarno melalui pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1960.
Menurutnya, berbagai ketegangan geopolitik, ketimpangan global, hingga perebutan pengaruh antar negara saat ini merupakan refleksi dari peringatan yang pernah disampaikan Bung Karno.
“Situasi global hari ini pada dasarnya sudah tergambar dalam pemikiran Bung Karno. Apa yang beliau sampaikan di PBB tahun 1960 menjadi refleksi atas dinamika dunia yang kita hadapi sekarang,” ujarnya.
Rocky juga mengkritisi kondisi global dan nasional melalui konsep “homeless mind”, yakni situasi ketika masyarakat kehilangan arah berpikir dan pijakan nilai.
Ia menilai krisis yang terjadi saat ini bukan hanya krisis ekonomi atau politik, tetapi juga krisis cara pandang.
Diskusi turut menyoroti konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai tidak semata terkait isu nuklir.
Hamid Awaluddin berpandangan bahwa ketegangan tersebut erat kaitannya dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi global, khususnya upaya Amerika Serikat dalam membendung pengaruh Tiongkok.
“Upaya Amerika menyerang Iran tidak lepas dari kepentingan untuk menguasai sumber daya dan sekaligus menekan pengaruh China dalam perekonomian global,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Iran menjadi salah satu target strategis karena posisinya sebagai produsen minyak besar yang memiliki hubungan erat dengan Tiongkok dalam rantai pasok energi global.
Dalam diskusi tersebut juga mengemukakan bahwa dunia saat ini tengah bergerak menuju sistem multipolar, di mana dominasi satu kekuatan global mulai berkurang.
Sejumlah faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut antara lain:
Melemahnya dominasi Amerika Serikat dalam konflik jangka panjang
Munculnya kekuatan penyeimbang global
Ketidaksinkronan antara kebijakan pemerintah dan opini publik di negara-negara besar
Selain itu, peristiwa historis seperti Kudeta Iran 1953 juga disebut sebagai contoh pola intervensi geopolitik yang terus berulang dalam berbagai bentuk.
Pengamat politik Luhur Prianto menambahkan bahwa dinamika global turut memengaruhi konfigurasi politik dalam negeri, termasuk pola relasi kekuasaan dan oposisi.
Ia menyinggung posisi PDI Perjuangan yang berada di luar pemerintahan saat ini, yang dinilai dapat memainkan peran strategis dalam menjaga keseimbangan demokrasi.
“Dalam konteks demokrasi, kehadiran kekuatan di luar pemerintahan justru penting untuk menjaga fungsi kontrol dan perlawanan terhadap kebijakan,” ujarnya.
Diskusi juga menyoroti fenomena bahwa pemilu demokratis tidak selalu melahirkan pemimpin yang demokratis, bahkan berpotensi menghasilkan kepemimpinan yang cenderung otoriter.
Para narasumber sepakat bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam merespons perubahan global.
Mereka didorong untuk memiliki kesadaran geopolitik, berpikir kritis, serta berani mengambil peran dalam menentukan arah masa depan bangsa.
Konsep “To Build The World A New” yang diangkat dalam diskusi tersebut menjadi penegasan bahwa generasi muda harus siap menghadapi tantangan global dengan perspektif baru.
“Bila punya harapan, jangan ragu untuk melompat,” pesan Hamid Awaluddin.
Melalui forum ini, Pandu Institute mendorong lahirnya kesadaran kolektif dan pemikiran strategis, khususnya di kalangan generasi muda, agar mampu membaca perubahan global dan berkontribusi dalam menentukan arah politik Indonesia ke depan. (*)




Komentar