Metro

Distribusi Kurban dari Istana: 25 Sapi Presiden Mengalir ke Sulsel, Simbol Kepedulian atau Politik Kedekatan?

Pemprov Sulsel

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Bantuan 25 ekor sapi kurban dari Presiden Prabowo Subianto ke Sulawesi Selatan bukan sekadar agenda rutin jelang Idul Adha.

Di balik distribusi hewan kurban ini, tersirat pesan politik tentang kehadiran negara hingga ke daerah sekaligus penguatan relasi pusat dan daerah.

Penyerahan bantuan secara simbolis kepada Gubernur Andi Sudirman Sulaiman menjadi momentum yang sarat makna.

Pemerintah pusat hadir melalui skema bantuan kemasyarakatan, sementara pemerintah daerah berperan sebagai eksekutor distribusi ke masyarakat.

Sebanyak 25 sapi dengan bobot lebih dari satu ton itu dialokasikan ke seluruh kabupaten/kota di Sulsel, dengan satu ekor untuk tingkat provinsi.

Skema ini menegaskan pendekatan pemerataan meski secara kuantitas tetap terbatas dibanding luasnya wilayah dan jumlah penerima manfaat.

Gubernur Andi Sudirman memastikan bantuan tersebut akan menyasar masyarakat yang membutuhkan, terutama pada momentum Idul Adha.

Namun, seperti program bantuan sosial lainnya, tantangan utama tetap berada pada akurasi distribusi dan ketepatan sasaran.

Menariknya, Pemprov Sulsel juga menambahkan pendekatan simbolik lain: penggunaan kemasan ramah lingkungan untuk pembagian daging kurban.

Ini menunjukkan upaya membangun citra kebijakan yang tidak hanya sosial, tetapi juga berorientasi pada isu keberlanjutan.

Dalam konteks yang lebih luas, bantuan sapi kurban dari presiden merupakan tradisi politik yang telah berlangsung lama sebuah kombinasi antara ibadah, kepedulian sosial, dan komunikasi politik.

Momentum keagamaan menjadi kanal efektif untuk memperkuat kedekatan emosional antara pemimpin dan masyarakat.

Namun demikian, di tengah narasi kepedulian tersebut, muncul pertanyaan klasik: sejauh mana program seperti ini memberi dampak struktural terhadap kesejahteraan masyarakat, atau hanya bersifat simbolik dan musiman?

Bagi pemerintah daerah, bantuan ini tentu menjadi tambahan legitimasi bahwa hubungan dengan pusat berjalan baik.

Sementara bagi pemerintah pusat, distribusi kurban menjadi cara menjaga visibilitas dan kehadiran di daerah.

Pada akhirnya, 25 sapi kurban ini bukan hanya soal daging yang dibagikan, tetapi juga tentang pesan yang ingin disampaikan: negara hadir meski publik tetap menunggu kehadiran yang lebih konsisten, tidak hanya pada momentum seremonial.

MUHAMMAD LUTFI

Share
Published by
MUHAMMAD LUTFI

BERITA TERKAIT

Jelang Idul Adha, Pemkab Bulukumba Klaim Harga Stabil—Minyak Goreng Jadi Alarm Inflasi

BULUKUMBA, TROTOAR.ID — Pemerintah Kabupaten Bulukumba bersama Forkopimda turun langsung ke pasar menjelang Idul Adha…

18 menit ago

Diplomasi Senyap Berbuah Hasil: 9 WNI Ditahan Israel Dibebaskan, RI-Turki Perkuat Poros Kemanusiaan

JAKARTA, TROTOAR.ID — Upaya diplomasi Indonesia akhirnya membuahkan hasil. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang…

42 menit ago

Reses Berulang, Keluhan Tak Berubah: Potret Mandeknya Layanan Dasar di Pinggiran Makassar

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Reses anggota DPRD Kota Makassar, Andi Odhika Cakra Satriawan, di Kecamatan Biringkanaya…

60 menit ago

Reses Odhika Diserbu Keluhan: Jalan Rusak hingga KIS Bermasalah, Janji Ditagih Warga

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Reses anggota DPRD Kota Makassar, Andi Odhika Cakra Satriawan, kembali menjadi ruang…

1 jam ago

Sidrap Tampil di Panggung Provinsi, Bupati Syaharuddin Paparkan Model Inovasi Percepatan Penuntasan TBC

MAKASSAR, TROTOAR.ID— Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang progresif…

6 jam ago

Bupati Syaharuddin Paparkan Model Inovasi Percepatan Penuntasan TBC

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah yang…

6 jam ago

This website uses cookies.