Pemkot Makassar

Dari Halaman Rumah, Gerakan Pak Udin Menginspirasi Makassar Kelola Sampah Organik

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Sabtu, 01 Agustus 2026 16:04

Dari Halaman Rumah, Gerakan Pak Udin Menginspirasi Makassar Kelola Sampah Organik

Makassar, Trotoar.id – Di tengah padatnya permukiman Kota Makassar, sebuah rumah sederhana membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari fasilitas yang megah.

Sebagian ruang di kediaman Pak Udin disulap menjadi pusat pengolahan sampah organik yang kini menjadi tempat belajar masyarakat sekaligus contoh nyata bagaimana persoalan sampah dapat ditangani dari lingkungan terkecil, yakni rumah.

Jumat (31/7/2026), rumah tersebut dikunjungi Ketua TP PKK Kota Makassar sekaligus Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa Munafri. Kunjungan itu menjadi bentuk apresiasi terhadap inisiatif warga bersama Yayasan Peduli Negeri yang selama ini konsisten mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Sesampainya di lokasi, Melinda melihat langsung berbagai metode pengolahan sampah organik yang dikembangkan secara mandiri.

Di halaman rumah yang tidak terlalu luas itu, sampah organik diproses melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), biodigester, hingga pembuatan eco-enzyme yang seluruhnya dikelola sebagai bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Ia juga mendengarkan penjelasan mengenai proses pengolahan sampah, mulai dari pemilahan, penguraian, hingga pemanfaatan hasil akhirnya yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.

“Hari ini saya berada di rumah Pak Udin yang telah mendedikasikan sebagian rumahnya untuk pengolahan sampah. Saya melihat langsung ada biodigester, budidaya maggot, hingga pembuatan eco-enzyme,” ujar Melinda.

Bagi Melinda, apa yang dilakukan Pak Udin menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah tidak selalu membutuhkan lahan yang luas maupun teknologi yang rumit.

Yang paling utama adalah kemauan masyarakat untuk memulai perubahan dari rumah masing-masing.

Menurutnya, sampah yang selama ini dianggap sebagai persoalan justru dapat menjadi sumber manfaat apabila dikelola dengan benar.

Limbah organik dapat diubah menjadi pupuk, sumber energi, hingga pakan ternak yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.

“Ini menjadi contoh bahwa pengelolaan sampah bisa dimulai dari rumah. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah kembali dan memberikan manfaat yang besar,” katanya.

Ia menilai keterlibatan masyarakat merupakan faktor penting dalam menyukseskan upaya Pemerintah Kota Makassar mengatasi persoalan persampahan.

Program pemerintah, menurutnya, akan lebih efektif apabila tumbuh kesadaran kolektif dari tingkat keluarga, lorong, RT, hingga RW.

“Saya senang sekali melihat ada warga yang mau mengambil bagian membantu pemerintah menangani persoalan sampah. Pemerintah tentu tidak dapat bekerja sendiri. Kita membutuhkan kepedulian dan partisipasi masyarakat karena menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” ungkapnya.

Melinda juga memberikan apresiasi kepada pemerintah kelurahan yang terus mendampingi masyarakat dalam mengembangkan berbagai inovasi pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

“Terima kasih kepada Pak Lurah yang terus mendukung program-program pemerintah dan mendampingi masyarakat. Dukungan seperti ini membuat gerakan lingkungan dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat yang lebih luas,” tambahnya.

Sementara itu, Manager Program Yayasan Peduli Negeri sekaligus Pengurus Bank Sampah Jipang 04, Syamsudin, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di lokasi tersebut tidak hanya melalui Bank Sampah Unit, tetapi juga memanfaatkan berbagai teknologi sederhana yang mudah diterapkan di kawasan permukiman.

Salah satunya adalah pengembangan Tempat Edukasi Bersama (TEBA) di lorong-lorong warga. Melalui fasilitas tersebut, masyarakat bersama pengurus RT dan RW mengumpulkan sampah organik dari rumah masing-masing untuk diolah, sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPA.

Selain TEBA, terdapat pula biodigester, yakni tangki tertutup yang mengolah sisa makanan, buah, dan sayuran melalui proses tanpa oksigen.

Hasil pengolahan tersebut menghasilkan biogas sebagai energi alternatif, sekaligus pupuk organik cair dan padat yang dapat dimanfaatkan untuk penghijauan maupun pertanian.

Di lokasi yang sama, budidaya maggot BSF juga menjadi salah satu solusi pengurangan sampah organik. Larva yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak alternatif, sedangkan sisa penguraiannya menjadi pupuk organik yang bernilai ekonomis.

Menurut Syamsudin, seluruh metode tersebut dikembangkan untuk mengurangi volume sampah organik yang dikirim ke TPA sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular.

Sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai kini dapat diubah menjadi energi, pupuk, pakan ternak, hingga produk-produk yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi Melinda, gerakan yang tumbuh dari rumah Pak Udin menjadi contoh bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Ia berharap praktik baik tersebut dapat direplikasi oleh lebih banyak keluarga, komunitas, dan lingkungan di Kota Makassar sehingga budaya mengelola sampah dari sumbernya semakin meluas.

“Kalau setiap lingkungan memiliki kepedulian seperti ini, saya yakin persoalan sampah di Kota Makassar dapat kita tangani bersama. Semakin banyak warga yang bergerak, semakin ringan beban kota dan semakin besar dampak positif yang bisa kita hadirkan,” tutup Melinda.

Penulis : Anti

 Komentar

Berita Terbaru
Politik01 Agustus 2026 17:57
Formatur Rampungkan 80 Persen Struktur DPD I Golkar Sulsel, Keterwakilan Perempuan Jadi Prioritas
MAKASSAR, Trotoar.id – Tim Formatur penyusunan struktur kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sulawesi Selatan terus menuntaskan ...
Politik01 Agustus 2026 17:11
Struktur DPD I Golkar Sulsel Hampir Rampung, Ilham Arief Sirajuddin Pastikan Keterwakilan 30 Persen Perempuan
MAKASSAR, Trotoar.id – Tim Formatur penyusunan kepengurusan DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan terus mengebut finalisasi struktur organisasi untuk...
Metro01 Agustus 2026 16:00
Pilah Sampah Sudah Wajib, Tapi Warga Makassar Masih Bertanya: Sampah Organik Harus Dibuang ke Mana?
Makassar, Trotoar.id — Awal Agustus 2026 menjadi babak baru dalam pengelolaan sampah di Kota Makassar. Pemerintah Kota Makassar mulai menerapkan...
Politik31 Juli 2026 23:51
Bawaslu Sulsel Gandeng Lima Organisasi Disabilitas, Perkuat Komitmen Wujudkan Pemilu Inklusif Tanpa Diskriminasi
MAKASSAR, Trotoar.id  – Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat komitmennya mewujudkan pemilu yang inklusif da...