
BULUKUMBA, Trotoar.id — Sungai tidak hanya menjadi aliran air yang membelah wilayah dan menghidupi masyarakat.
Di dalamnya tersimpan persoalan lingkungan yang membutuhkan kepedulian bersama. Karena itu, Wakil Bupati Bulukumba Andi Edy Manaf mendorong generasi muda mengambil peran lebih besar dalam menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
Pesan tersebut disampaikan Edy Manaf saat membuka Dialog Nasional Aksi Pemuda dalam Menjaga Sungai Nusantara, bagian dari rangkaian Festival 3 Sungai, di Aula Kahayya, Lantai 4 Gedung Pinisi Bulukumba, Minggu (9/8/2026).

Menurut Edy, forum tersebut memiliki arti penting karena mempertemukan gagasan, kepedulian dan energi generasi muda dengan isu lingkungan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Ia mengapresiasi panitia dan seluruh pihak yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bulukumba, kami memberikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi kepada segenap panitia yang telah memiliki kepedulian untuk menyelenggarakan kegiatan ini,” kata Edy Manaf.
Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin bergantung pada teknologi digital, ia menilai kepedulian terhadap lingkungan harus tetap menjadi bagian penting dari kehidupan generasi muda.

Justru dengan kekuatan teknologi dan media sosial, anak muda memiliki peluang lebih besar untuk mengubah kepedulian menjadi gerakan publik.
Bagi Edy, keterlibatan pemuda dalam menjaga sungai tidak cukup hanya dalam bentuk kegiatan bersih-bersih.
Pemuda dapat mengambil posisi sebagai penggerak edukasi, pengawas partisipatif, inovator pengelolaan sampah sekaligus komunikator lingkungan yang mampu menyebarkan pesan pelestarian sungai kepada masyarakat luas.
Ia mengingatkan bahwa menjaga sungai tidak selalu membutuhkan gerakan besar yang mahal dan kompleks.
Perubahan justru dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara terus-menerus, seperti tidak membuang sampah dan limbah ke sungai maupun bantaran sungai.
“Saya yakin bahwa perubahan besar dalam menjaga lingkungan dapat dimulai dari gerakan kecil yang dilakukan secara konsisten. Tidak membuang sampah dan limbah di bantaran sungai merupakan salah satu langkah untuk turut serta menjaga kelestarian sungai kita,” ujarnya.
Pemkab Bulukumba, lanjutnya, berkomitmen memberikan ruang bagi berbagai inovasi dan kreativitas anak muda.
Dukungan tersebut diharapkan melahirkan lebih banyak inisiatif yang tidak hanya menyentuh persoalan kebersihan sungai, tetapi juga menawarkan solusi terhadap pengelolaan sampah dan perubahan perilaku masyarakat.
“Pemerintah akan selalu memberikan dukungan terhadap inovasi dan kreativitas generasi muda kita untuk menjadi pelopor gerakan bersih sungai, penggerak edukasi lingkungan, pengawas partisipatif, mengembangkan inovasi pengelolaan sampah sekaligus sebagai komunikator yang menyebarkan kesadaran menjaga lingkungan melalui teknologi dan media sosial,” tuturnya.
Namun, Edy mengingatkan bahwa menjaga sungai bukan pekerjaan satu generasi. Sungai merupakan bagian dari ekosistem yang akan menentukan kualitas kehidupan masyarakat hari ini sekaligus generasi yang belum lahir. Karena itu, kelestariannya harus ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama.
“Kita semua harus memastikan bahwa sungai kita tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi hari ini dan generasi yang akan datang,” katanya.
Karena itu pula, Edy memberikan pesan tegas agar Dialog Nasional Aksi Pemuda dalam Menjaga Sungai Nusantara tidak berakhir ketika forum ditutup.
Gagasan, rekomendasi dan komitmen yang lahir dari diskusi harus diterjemahkan menjadi program dan aksi yang dapat dilihat serta dirasakan masyarakat.
Menurutnya, forum tersebut seharusnya menjadi titik temu untuk menyatukan visi berbagai elemen dalam menjaga kelestarian sungai di Bulukumba.
Pemerintah, pemuda, komunitas, dunia pendidikan, masyarakat dan berbagai organisasi harus memiliki agenda bersama yang jelas.
“Melalui forum dialog nasional ini akan menjadi momentum yang sangat penting untuk menyatukan visi dan misi kita demi menjaga kelestarian sungai kita,” tegasnya.
Bagi Edy Manaf, ukuran keberhasilan Festival 3 Sungai bukan terletak pada meriahnya acara maupun panjangnya rekomendasi yang dihasilkan.
Ukuran sesungguhnya adalah apa yang terjadi setelah kegiatan berakhir: apakah ada gerakan baru, kebiasaan baru dan aksi nyata yang membuat sungai lebih bersih dan terjaga.
Pesannya sederhana namun menantang: jangan biarkan Festival 3 Sungai berhenti sebagai forum untuk berbicara tentang sungai. Jadikan momentum ini sebagai awal gerakan bersama untuk menyelamatkan sungai Bulukumba dari sampah, pencemaran dan sikap abai.


Komentar