Partai Golkar Makassar

Pasca-Munafri ke Demokrat, Supriansa Satukan Kader Golkar Makassar Menuju Musda

MUHAMMAD LUTFI
MUHAMMAD LUTFI

Sabtu, 10 Oktober 2026 17:25

Pasca-Munafri ke Demokrat, Supriansa Satukan Kader Golkar Makassar Menuju Musda

MAKASSAR, TROTOAR.ID — Usai di tunjuk sebagai Pelaksana Tugas  (Plt) Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar, Supriansa, langsung memimpin konsolidasi .

Dalam konsolidasi perdana yang digelar di Kantor DPD II Partai Golkar Kota Makassar, Sabtu (10/10/2026), Supriansa menegaskan kepindahan mantan Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin, ke Partai Demokrat tidak boleh melemahkan soliditas maupun semangat kader untuk membesarkan partai berlambang pohon beringin tersebut.

Pertemuan itu dihadiri sejumlah anggota Fraksi Golkar DPRD Kota Makassar, sembilan dari 15 pimpinan kecamatan, serta sejumlah pengurus DPD II Golkar Makassar. 

Konsolidasi tersebut menjadi langkah awal Supriansa dalam menjalankan mandat partai sekaligus mempersiapkan Musyawarah Daerah (Musda) untuk memilih ketua definitif.

Di hadapan para kader, Supriansa menyebut penunjukan dirinya sebagai Plt Ketua DPD II Golkar Makassar merupakan amanah khusus yang harus dijalankan dengan menjaga persatuan dan memastikan roda organisasi tetap berjalan.

“Sebuah kesyukuran bagi saya diberikan amanah menjadi Plt Ketua DPD II Golkar Kota Makassar. Tugas dari partai untuk saya sangat jelas, menjaga solidaritas seluruh kader. Saya juga ditugaskan mempersiapkan pelaksanaan Musda DPD II hingga melahirkan pimpinan definitif,” kata Supriansa.

Ia menegaskan, masa jabatannya yang bersifat sementara bukan alasan untuk bekerja setengah hati. Sebaliknya, seluruh kader diminta memperkuat komitmen dan menyatukan langkah demi menjaga eksistensi Golkar di Kota Makassar.

Menurut Supriansa, identitas sebagai kader partai harus tercermin melalui komitmen, kerja nyata, serta kontribusi terhadap masyarakat. 

Golkar, kata dia, membutuhkan kader yang tidak hanya mempertahankan nama besar partai, tetapi juga memiliki kesungguhan untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Komitmen kita berpartai harus dipertegas. Sifat saya di DPD II hanya sementara. Semua kader harus jelas menjaga nama baik partai. Saya membutuhkan teman-teman yang mau bekerja sama menjalankan amanah ini. Saya butuh kita semua yang punya tujuan dan cita-cita yang sama, membawa Partai Golkar menjadi partai terbaik,” tegasnya.

Untuk menggambarkan pentingnya kebersamaan, Supriansa menggambarkan perjalanan Golkar Makassar seperti sebuah kapal yang harus dikemudikan bersama menuju tujuan yang sama.

Ia mengajak seluruh kader untuk tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan bahu-membahu membangun organisasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa membedakan latar belakang maupun golongan.

“Pertemuan ini ibarat kita naik kapal. Saya datang mengajak kita naik kapal bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama. Di tempat tujuan banyak orang yang menunggu dan merindukan pengabdian kita, karena Golkar selalu memperjuangkan kepentingan seluruh golongan masyarakat tanpa membeda-bedakan satu sama lain,” ujarnya. 

Salah satu isu yang mendapat perhatian dalam konsolidasi tersebut adalah keputusan Munafri Arifuddin meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Partai Demokrat setelah gagal menjadi Ketua DPD I Golkar Sulsel.

Supriansa mengakui keputusan tersebut menjadi kehilangan bagi Golkar Makassar. Namun, ia menegaskan bahwa pilihan politik Munafri merupakan hak pribadi yang harus dihormati.

Meski demikian, Supriansa mengingatkan para kader agar tidak menjadikan kepindahan mantan ketua DPD II tersebut sebagai alasan untuk kehilangan semangat membesarkan partai.

Ia justru menantang seluruh kader membuktikan bahwa Golkar Makassar tetap mampu menjaga kekuatan dan membangun kejayaan organisasi melalui soliditas serta kerja kolektif.

“Kita memang sayangkan Pak Munafri Arifuddin tinggalkan kita. Itu hak politiknya. Tetapi, itu tidak membuat kita melemah. Kita yakin Golkar di Kota Makassar menjadi partai politik terbaik tanpa Munafri Arifuddin,” tegasnya.

Supriansa juga menegaskan bahwa perbedaan pilihan politik tidak harus memutus hubungan personal. Ia menyebut Munafri tetap sebagai sahabat dan saudara, meskipun kini berada di partai yang berbeda.

Sikap tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa konsolidasi Golkar Makassar tidak semestinya terjebak pada persoalan siapa yang pergi, tetapi harus berfokus pada bagaimana kader yang tersisa memperkuat organisasi dan menjaga kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, Supriansa meminta Fraksi Golkar DPRD Makassar tetap menjalankan peran politiknya secara konstruktif, terutama dalam mendukung pemerintahan Kota Makassar yang dipimpin Munafri Arifuddin bersama Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.

“Saya minta anggota Fraksi Golkar DPRD Kota Makassar mengawal dan membantu walikota dan wakil wali kota menjalankan serta menuntaskan program-programnya,” katanya.

 konsolidasi internal, Supriansa menekankan pentingnya memperkuat struktur partai hingga tingkat kelurahan. Baginya, pimpinan kecamatan merupakan salah satu ujung tombak yang menentukan hidupnya organisasi di tengah masyarakat.

Ia meminta para pimpinan kecamatan yang hadir untuk terus melakukan pembinaan dan pemberdayaan kader di tingkat kelurahan agar struktur partai tidak sekadar ada di atas kertas, tetapi benar-benar aktif menjalankan fungsi organisasi.

“Pimpinan kecamatan adalah salah satu roh atau nyawa Partai Golkar. Maka, saya minta pimpinan kecamatan terus memperhatikan dan melakukan penguatan kepada seluruh kader di tingkat kelurahan,” harapnya.

Supriansa juga membuka ruang bagi pimpinan kecamatan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Kota Makassar melalui Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.

Ia berharap komunikasi antara struktur partai dan pemerintah daerah dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan kebutuhan warga serta mendorong program-program yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam konsolidasi tersebut, sembilan dari 15 pimpinan kecamatan tercatat hadir. Supriansa tidak mempermasalahkan ketidakhadiran sejumlah pimpinan kecamatan dan menegaskan bahwa dirinya telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga kekompakan organisasi.

Ia menyebut Kecamatan Makassar dan Kecamatan Manggala sebagai wilayah yang pimpinannya tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa ketidakhadiran itu tidak akan menghentikan agenda konsolidasi.

Sembilan pimpinan kecamatan yang hadir diminta segera mempersiapkan diri menghadapi Musda DPD II Golkar Makassar. Agenda tersebut menjadi tahapan penting untuk menentukan kepemimpinan definitif sekaligus menetapkan arah organisasi ke depan.

“Target DPD I Golkar Sulsel merampungkan Musda seluruh DPD II selambat-lambatnya Desember mendatang. Yang tidak hadir tidak masalah. Kita punya banyak kader yang kita siapkan menjadi pimpinan kecamatan,” jelas Supriansa.

Konsolidasi perdana ini menjadi ujian awal bagi Supriansa dalam menjalankan mandatnya. Di tengah perubahan peta politik internal Golkar Makassar, tantangannya bukan hanya menyiapkan Musda tepat waktu, tetapi juga memastikan seluruh kader tetap berada dalam satu barisan.

Bagi Supriansa, kepindahan Munafri Arifuddin menjadi babak baru bagi Golkar Makassar. Pesan yang ingin ditegaskannya jelas pergantian figur tidak boleh menghentikan perjalanan partai, dan masa depan Golkar harus ditopang oleh kekuatan kolektif kader, mulai dari tingkat kota hingga kelurahan.

Penulis : Wawan

 Komentar