MAKASSAR, Trotoar.id — Sebulan terakhir, perhatian publik politik di Sulawesi Selatan tertuju pada Partai Golkar.
Partai berlambang pohon beringin ini tengah menjalani rangkaian agenda konsolidasi organisasi, mulai dari pelantikan pengurus, orientasi kader, hingga pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) di sejumlah kabupaten dan kota.
Namun, dibalik padatnya agenda organisasi tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar apa target yang ingin dicapai Golkar Sulsel hingga penghujung 2026, dan sejauh mana konsolidasi ini akan menjadi modal untuk mengembalikan kejayaan partai di Sulawesi Selatan?
Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), dalam arahan orientasinya kembali menegaskan tekadnya membawa Golkar kembali menjadi kekuatan politik utama di Sulawesi Selatan.
“Kita sekarang memiliki 14 Kursi, kedepan kita mau Golkar kembalikan kejayaannya dan merebut 22 kursi untuk DPRD Provinsi Sulawesi Selatan,” kata IAS
Bagi mantan Walikota Makassar dua periode tersebut di eranya, mengungkapkan konsolidasi bukan sekadar menyelesaikan agenda kepengurusan atau memenuhi kewajiban organisasi.
Lanjut dia Lebih dari itu, seluruh rangkaian kegiatan tersebut harus menjadi pijakan untuk memperkuat mesin partai hingga ke tingkat akar rumput.
Ambisi Ilham, itu diterjemahkan melalui target penambahan perolehan kursi legislatif di semua tingkatan. Bahkan, IAS memasang sasaran peningkatan keterwakilan Golkar di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan hingga mencapai 22 kursi.
Target tersebut menjadi salah satu ukuran dari agenda kebangkitan Golkar yang kini digaungkan kepemimpinan IAS.
Ia menilai partai Golkar masih memiliki modal politik yang kuat, terutama melalui jaringan kader dan basis dukungan yang telah terbentuk di tengah masyarakat.
Meski demikian, target besar tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan struktur organisasi.
IAS mengingatkan seluruh kader agar memastikan kehadiran partai benar-benar dirasakan masyarakat, bukan hanya terlihat ketika momentum politik atau kegiatan internal berlangsung.
Dia memberikan Perhatian khusus kepada anggota Fraksi Golkar di seluruh tingkatan DPRD.
Mereka diminta tidak menjaga jarak dengan konstituen, melainkan hadir secara konsisten untuk mendengar aspirasi, mengawal persoalan masyarakat, dan memperjuangkan kebutuhan warga melalui lembaga legislatif.
IAS memandang anggota Fraksi sebagai ujung tombak partai. Mereka bukan sekadar representasi Golkar di parlemen, tetapi juga wajah partai yang berhadapan langsung dengan masyarakat.
“Anggota Fraksi seperti pasukan khusus dalam sebuah organisasi militer. Sebuah gambaran tentang pentingnya disiplin, kesiapan, dan kemampuan bergerak di lapangan dalam menjalankan tugas politik,” tegas IAS
Dengan demikian, pekerjaan rumah Golkar Sulsel hingga akhir 2026 bukan hanya menuntaskan Musda di daerah, melainkan memastikan seluruh struktur partai bergerak dalam satu arah.
Konsolidasi kepengurusan harus berujung pada penguatan basis, peningkatan pelayanan politik, serta kerja nyata kader di tengah masyarakat.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa target penambahan kursi bukan sekadar ambisi politik di atas kertas.
Sebab, kebangkitan sebuah partai pada akhirnya tidak hanya diukur dari ramainya agenda organisasi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepercayaan publik dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.



Komentar